Seni & Budaya

Ribuan Gagak Masuk Kota

Cerpen Karya: Punto Aditya Wardana
Sumber: Republika,  Edisi 04/16/2006 


Laki-laki itu menyeret-nyeret gerobak sekaligus peti mati buat anaknya di tengah belantara kota. Di dalam gerobak itu, tergeletak tubuh kecil, yang sudah terbujur kaku, berselimutkan kain sarung kumal miliknya yang sudah tidak karuan warnanya.

Wajah anak lelaki itu telah beku, berkawan dingin yang sejak tadi merajamnya. Terlelap selamanya untuk sebuah kematian yang terasa begitu memedihkan. Busung lapar telah merenggut nyawanya dua hari yang lalu. Laki-laki itu mengumpat pada kemiskinan yang menjerat lehernya. Kemiskinan pula yang menerbangkan selembar nyawa anaknya.

“Tidak, aku tidak boleh benci kemiskinan. Kemiskinanlah yang membuat anakku terbebas dari penderitaan,” dia berkata pada dirinya sendiri. Membesarkan hatinya yang terluka menganga. Kematian kadang diperlukan untuk mengakhiri sebuah penderitaan yang berkepanjangan. Kematian kadang mengundang kearifan.

Dari langit gerimis masih terus turun meneritis. Mengguyur kota, membuatnya kuyub menggigil kedinginan. Wajah lelaki itu terlihat basah tertimpa gerimis. Kaos yang membungkus tubuhnya yang tipis juga ikut basah. Dia mendongak. Menantang langit. Menggeram marah pada langit yang masih juga berwarna kelam kelabu. Sesekali terlihat kilat yang menyambar dahsyat disusul petir yang memekakkan telinga. Memotret kota sepreti sebuah pekuburan besar dengan bangunan yang mencakar langit.

Lelaki itu sama sekali tidak mempedulikan petir yang sesekali masih menyambar. Dengan tegar dia terus menyeret gerobak yang berisi mayat anak semata wayangnya. Menyeretnya tanpa henti seperti napasnya yang terus bersembulan keluar dari lubang hidungnya yang besar. Dua hari sudah dia berputar-putar ke seluruh penjuru kota, mencari tempat penguburan buat anaknya. Dia makin kebingungan dengan malam yang sebentar lagi pasti akan datang menyergapnya.

Hatinya teriris perih. Dia tak tahu ke mana harus menguburkan jenazah anaknya. Di sakunya tidak ada uang sesen pun untuk biaya penguburan. Tak ada yang gratis di kota ini. Semua harus memakai uang. Begitu pula untuk sebuah kematian.

Lelaki itu berhenti sejenak. Hatinya gamang. Tercabik. Menyeka wajahnya yang letih, basah oleh keringat bercampur air hujan. Perutnya berkeriuk lapar. Rasa perih menyayat ususnya. Ketika mendongak, asin air hujan tak sengaja tertelan oleh tenggorokannya.

Memandang gedung pencakar langit di depannya, betapa laki-laki itu merasa dirinya sangat kerdil. Dirinya tak lebih dari sebutir debu di antara lautan pasir yang membentang.

Kemudian desir angin yang membawa hawa dingin itulah yang membuatnya bergerak, menyeret peti mati itu lagi. Dunia harus tetap berputar. Bumi tak mungkin berhenti karena kematian anaknya. Namun, sedetik kemudian, sebersit kebimbangan menyergapnya kembali. Ke mana lagi dia hendak melangkah. Kakinya pegal mengukur jalan kota yang sepertinya tidak berujung. Otot tangannya seakan sudah lumpuh. Hmm, kota yang tidak ramah, untuk sebuah duka sekalipun. Dia tak mempunyai saudara yang bisa dituju. Yang bisa dimintai bantuan.

Di kota sebesar ini ia bagaikan makluk yang terasing. Dia hanyalah seorang penarik sampah dengan upah yang tidak menentu. Harga dirinya tak lebih dari seonggok sampah yang dibuangnya tiap hari. Dia kota sebesar ini siapa yang mau peduli pada seonggok sampah?

Selangkah demi selangkah ia menyeret lagi peti mati anaknya. Langkahnya makin berat karena tenaganya makin berkurang. Di kota sebesar ini tak seorang pun mau peduli. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Sebuah mobil mewah melintas dengan cepat. Kubangan air tergilas roda dan wajah lelaki itu tersiram air yang tergencet. Matanya terasa pedih dan perih.

Lelaki itu mengelap wajahnya dengan ujung kaos yang juga sudah basah. Diliriknya wajah anaknya yang makin beku dan membiru. Hatinya terbelah.

Aku harus cepat-cepat menguburkannya, ucapnya dalam hati. Lantas kembali diseretnya peti mati itu. Hari sudah semakin gelap. Senja sudah lama selesai. Kota bermandikan cahaya. Ribuan cahaya lampu telah membuat kota kembali bernyawa. Lelaki itu makin terasing dengan dirinya sendiri. Dia merasa sungguh dekil di kota yang seluruh penghuninya berbau wangi.

Dia pun berhenti sejenak untuk melepas lelah. Kini dia dihadapkan pada jurang keputus-asaan. Dalam keputus-asaan yang memuncak itu tiba-tiba lelaki itu melihat bayangan hitam turun dari langit. Dia seperti tidak percaya pada pandangan matanya sendiri. Langit yang sudah hitam makin bertambah hitam, karena munculnya ribuan bayangan itu.

Ribuan gagak tiba-tiba muncul dari langit, menyerbu kota dengan suara kaok-kaok yang mendirikan bulu roma. Ribuan gagak yang entah dari mana datangnya, muncul begitu saja dari langit yang gelap dan bertabur gerimis. Gagak-gagak yang ganas menyambar-nyambar di tengah kota. Dengan sebuah sekop sampah laki-laki itu mengusirnya. Ribuan gagak terus beterbangan mencari mangsa. Langit seperti berselimut kain hitam, karena banyaknya gagak yang beterbangan.

“Aku mencium bau mayat!” serang warga kota keluar dengan menutup hidungnya. Puluhan gagak langsung menghajarnya tanpa ampun. Keributan segera meledak di kota.

“Lelaki pembawa mayat itulah yang mengundang ribuan gagak masuk kota!” “Lelaki itu harus kita usir!”
“Kota kita berubah menjadi ladang pembantaian. Kota kita menjadi kota kematian!”
“Mana polisi? Mana tentara? Harusnya gagak-gagak itu dimusnahkan. Sebelum kita dilumatnya habis.”

Mobil polisi segera datang dengan suara sirine yang menguing-nguing menggetarkan. Ribuan gagak ditembaki dan terkapar mati. Memenuhi jalanan dan darahnya yang amis bertebaran di jalanan. Namun, ribuan gagak yang lain segera berdatangan, dengan suara kaok-kaok memenuhi langit. Gagak-gagak yang lebih ganas dari tadi. Menyambar-nyambar dengan paruhnya yang tajam. Bau kematian merebak ke mana-mana. Memenuhi udara kota.

“Bising! Aku bising dengan suara gagak.”
“Bagaimana ini polisi! Kalau kerja yang becus dong. Jangan cuma mau menerima uang suap kami!”

“Kami sudah menembaknya habis-habisan. Lihatlah peluru kami yang habis,” polisi muda itu membela diri. Dia belum pernah berhadapan dengan ribuan gagak yang sebanyak itu. Hatinya ngeper juga. Setiap gagak ditembak mati, selalu muncul gagak yang lain yang lebih ganas. “Auh, tanganku kena cakarnya!”

“Ambil bazoka…! Lumat mereka!”
Kegemparan meledak di mana-mana. Ketenangan kota tercabik. Suara gagak berkaok-kaok, desing gagak yang terbang menyambar, mengundang maut.

Bazoka segera dikeluarkan dari gudang senjata, terus melabrak gagak-gagak yang beterbangan. Banyak gagak terkapar mati. Namun percuma, gagak-gagak yang lain segera mengganti. Berkaok-kaok terus tanpa pernah takut mati terkena bazoka.

“Brengsek! Kota kita penuh gagak-gagak brengsek ini!”
“Ke mana lelaki pembawa mayat itu?”
“Dia harus bertanggung jawab atas semua ini. Dialah pengundang gagak-gagak sialan itu.”

“Sabar, tenang sedikit. Gagak-gagak itu tak bisa kita usir kalau hanya bermodal panik,” seseorang mencoba menenangkan di tengah massa yang panik itu. Namun dia malah bernasib malang, tubuhnya didorong ke belakang hingga dia jatuh terjengkang dan menindih bangkai-bangkai gagak yang bergelimpangan di jalan-jalan.

“Mana petugas kebersihan kota. Dia harus segera menyingkirkan bangkai-bangkai gagak ini.”
“Busyet, kondisi segawat ini masih juga kau memikirkan kebersihan. Mikir dong!”

Seketika kota yang biasanya berwajah damai tampak bagaikan neraka. Kepanikan menjadi milik semua orang. Kematian hampir terjadi setiap saat, karena gagak-gagak itu mencabik-cabik daging orang dengan ganasnya. Teriakan tolong melolong di mana-mana. Puskesmas dan rumah sakit penuh dengan korban yang terluka. Tapi mereka hanya terlentang tak berdaya karena tak ada yang mengurusi. Semua orang takut kena serangan gagak. Tak terkecuali dokter-dokter rumah sakit itu. Mereka memilih bersembunyi, mencari selamat sendiri.

Sekarang semua orang sibuk memikirkan keselamatan diri sendiri. Menyelamatkan nyawa yang cuma selembar. Mereka berlindung di dalam rumah, pintu dan jendela rumah dikunci. Mereka menggunakan apa saja untuk melindungi tubuh mereka. Namun, gagak-gagak rakus itu masih juga bisa masuk rumah, entah lewat mana.

Bahkan, ribuan gagak menyusup ke mall, hotel, restoran, pasar, rumah sakit, dan kamar mayat. Mencari mangsa manusia. Menyerang manusia dengan ganasnya. Ribuan orang ketakutan. Teror gagak menyebar ganas ke seluruh kota. Setiap menit selalu ada nyawa yang melayang.

Sementara, laki-laki itu meninggalkan kota dengan masih terus menyeret-nyeret peti mati anaknya. Tak seorang pun peduli. Dia ingin mencari tempat untuk mengubur mayat anaknya. Di belakang punggungnya ribuan gagak masih berpesta pora di tengah kota.

Gerimis masih setia meneritis menemani malam ketika laki-laki itu tertatih-tatih menyeret peti mati anaknya. Dia tak tahu ke mana harus menuju.

Catatan Republika (16-04-2006): Cerpen ini merupakan juara pertama Sayembara Penulisan Cerita Pendek Remaja Tingkat Nasional 2005 yang diadakan oleh Pusat Bahasa Jakarta. Cerpen karya siswa SMP Negeri I Blora, Jawa Tengah, itu menyisihkan 1.139 cerpen peserta lain dari seluruh tanah air. Dewan Juri yang diketuai Hamsad Rangkuti juga memilih cerpen Karena Saya Ingin Berlari karya Kadek Sonia Piscayanti dari Singaraja, Bali, sebagai juara kedua. Dan, cerpen Belati Lempad karya I Komang Widana Putra dari Amlapura, Bali, sebagai juara ketiga. Dewan juri juga memilih tiga juara harapan dan empat pemenang hiburan.

One thought on “Seni & Budaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s