Reportase / Umum

Merawat Rupiah, Menjaga Kedaulatan Negara

Uang senilai Rp111,7 triliun menjadi sampah pada 2014 lalu. Paling banyak pecahan Rp2000 dan Rp5000.

BEKERJA di percetakan uang, tidak perlu menjadi miliarder untuk melihat tumpukan uang bernilai miliaran rupiah. Hampir setiap hari mereka melihat, menumpuk, dan menghitungnya. Apalagi yang belum dipotong-potong alias masih berupa lembaran besar. Bahkan, saking seringnya melihat tumpukan uang, salah seorang pegawai Peruri berujar, “Seperti bukan melihat uang lagi, tapi kayak lihat gambar saja”.
Asisten Manager Unit Sumber Daya Manusia, Protokol dan Pengamanan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulsel, Jalal Masihuwey, juga bercelutuk, “Orang Peruri enak ya, bisa tidurin tumpukan uang kalau ngantuk. Tiap hari ketemu banyak tumpukan uang. Tapi gak enaknya, cuma bisa dipelototi dan tidak bisa dibawa pulang meski selembar pun,” ujarnya saat membawa beberapa wartawan Makassar ke percetakan uang milik Perum Peruri, Kamis, 22
Oktober.
Meski setiap hari melihat tumpukan uang, tetapi hanya membuat “mata hijau”. “Setelah keluar dari area percetakan, mata jadi “merah” karena tidak bisa bawa pulang uang bertumpuk-tumpuk itu. Bahkan yang rusak sekalipun.
Tingkat pengamanan Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia atau Perum Peruri di Parung Mulya, Ciampel, Karawang, Jawa Barat, itu memang sangat tinggi. Tak ada selembar atau sekeping uang logam pun boleh lolos, keluar dari pabrik yang berdiri di lahan seluas 202 hektare. Sebelum masuk ke lokasi pabrik yang diapit Sungai Cisubah dan Cikirincing itu saja, mesti melewati beberapa pagar elektrik dengan pengamanan tersentralisasi.
Pegawai khusus percetakan tidak boleh mengenakan baju dan celana berkantong. Sebelum masuk ke lokasi percetakan, semua bawaan seperti tas, dompet, telepon seluler, dan lainnya, harus disimpan di loker. Bahkan uang selembar pun, “diharamkan” dibawa masuk ke area kerja. Sanksi berat menanti bila ketahuan membawa masuk uang.
Kepala Biro Komunikasi Perusahaan Perum Peruri, Siwi Widjayanti mengatakan, masuk maupun pulang kerja, setiap pegawai harus diperiksa. Selain diperiksa manual, ada alat kontrol tanpa raba. Pegawai tidak boleh keluar lewat semenit pun dari area kerja.
Aturan ketat ini berlaku bagi siapa saja yang masuk ke area percetakan. Bahkan kepada level direksi Peruri sekalipun. Pengunjung hanya boleh memantau proses produksi uang dari lantai dua yang diberi dinding kaca. Dari awal, perempuan berjilbab hijau tosca itu mengingatkan kepada seluruh wartawan agar tidak membawa ponsel, dompet, uang, apalagi kamera.
Perum Peruri mencetak uang berdasarkan order atau permintaan Bank Indonesia (BI). Kertas untuk uang juga diterima dari Bank Indonesia. Umumnya diimpor dari Amerika Serikat, Spanyol, dan Jerman. “Kertas dari BI sudah diberi benang pengaman sebagai security feature,” beber Siwi.
Makin tinggi nilainya, jenis kertasnya juga makin mahal. Pembuatan uang kertas dimulai dari proses engraving oleh tim desain Peruri berdasarkan tema dari Bank Indonesia. Tema itu kemudian diterjemahkan dalam bentuk desain oleh tim desain Peruri. Proses ini membutuhkan waktu lama. “Biasanya beberapa kali bolak-balik dari Peruri ke BI, hingga akhirnya disetujui untuk dicetak. Penerbitan emisi baru biasanya butuh 2-3 tahun hingga diedarkan,” beber Siwi.
Setelah disetujui, Peruri lalu membuat pelat masternya dengan sistem pencungkilan atau pengukiran. Sistem ini diperlukan untuk cetak intaglio atau cetak timbul. Hasilnya, terasa kasar saat diraba dan menjadi salah satu fitur keamanan uang kertas. Peruri tidak membuat target jumlah uang yang dicetak setiap bulan.
Pencetakan tergantung permintaan Bank Indonesia. Untuk tahun 2015, BI mengorder pencetakan uang sebanyak 9,3 miliar bilyet untuk semua jenis pecahan. “Kami tidak berwenang menyebut nilai rupiah keseluruhan yang dicetak” katanya.
Proses awal percetakan dimulai di mesin offset printing atau cetak rata. Saat FAJAR berkunjung, salah satu mesin, mencetak uang kertas pecahan Rp2000 dengan warna khas abu-abunya. Mesin ini mencetak gambar dengan warna dasar uang secara simultan. Bagian depan dan belakang dicetak secara bersamaan dengan sangat presisi. Teknik ini memungkinkan terbentuknya unsur pengaman yang disebut rectoverso. Dua gambar tidak utuh muka belakang, jika diterawang akan membentuk gambar utuh.
Tiga pegawai laki-laki terlihat berada di sekitar mesin offset printing dan bertugas menyeleksi secara langsung hasil cetakan. Cetakan yang baik dan buruk langsung dipisah. Pegawai lainnya menumpuk lembaran hasil cetak offset untuk selanjutnya dibawa ke bagian mesin intaglio atau cetak timbul.
Proses intaglio printing lebih rumit dan unik. Semakin besar nilai pecahan uang, prosesnya makin rumit karena fitur pengamannya lebih banyak. “Uang pecahan Rp100 ribu bisa sampai 25 fitur, termasuk benang pengaman, hologram, tanda air, dan lainnya,” ungkap Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulsel, Derry Rosianto.
Selain itu, pada pencetakan uang pecahan Rp10 ribu sampai Rp100 ribu, mesin hanya mencetak satu sisi pada satu kali mesin berjalan. Tidak bisa dilakukan bersamaan, karena harus menunggu tinta kering agar warna tidak pudar.
Teknik intaglio inilah yang membuat uang terasa kasar bila diraba. Warna yang timbul juga lebih kuat dan menimbulkan elemen halus sampai kasar.
Pencetakan uang belum selesai saat keluar dari mesin cetak intaglio. Lembaran yang masih berupa cetakan dalam kertas besar seukuran kira-kira dua halaman koran, kemudian dibawa terlebih dahulu ke tempat penyimpanan dan inspeksi. Proses inspeksi inilah yang menentukan uang layak edar. “Biasanya yang tidak layak edar karena tinta tidak rata, pewarnaan tidak sempurna, atau ada kertas yang terlipat,” beber Suhadak Bahariawan, Kepala Departemen Area Lini Baru Produksi Uang Kertas Perum Peruri.
Uang yang telah dicetak, belum diberi nomor seri. Penomoran dilakukan setelah proses inspeksi selesai agar nomornya benar-benar berurutan. Inspeksi juga masih dilakukan setelah numbering untuk memeriksa kesalahan cetak nomor seri. Setelah selesai, barulah dipotong-potong menggunakan mesin khusus.
Sebelum siap dikirim ke BI, masih harus melalui proses manual fishing. Beberapa pekerja berseragam warna krem duduk di meja panjang bagian lain percetakan. Mereka inilah yang memeriksa dan menyusun uang pada proses finalisasi. Butuh waktu sekitar enam hari untuk menyelesaikan proses percetakan uang.
Proses pembuatan uang begitu panjang, rumit, dan memerlukan kehati-hatian tingkat tinggi, hingga akhirnya sampai ke masyarakat sebagai alat transaksi. Sayang, begitu sampai di masyarakat, meskipun bernilai, penghargaan kepada simbol kedaulatan negara itu masih sangat rendah. Terbukti, Bank Indonesia harus memusnahkan uang kertas tidak layak edar pada 2014 lalu hingga 5,19 miliar bilyet senilai Rp111,7 triliun.
Ada-ada saja perlakuan pada uang kertas yang membuatnya tidak layak edar dan harus dimusnahkan. Ada yang sengaja melipat-lipat atau menyimpan di tempat basah. Bahkan ada yang mencoret-coret dengan tulisan seperti “Uangmu, tak bisa membeli cintaku” atau “Ini nomor ponselku, hubungi ya!!!”. Tulisan iseng ini kerap ditemukan di berbagai pecahan.
Bandingkan bila memegang uang asing seperti dolar Amerika Serikat atau Euro. Perlakuan akan sangat berbeda. Uang disimpan di dompet dengan begitu hati-hati agar tidak terlipat, apalagi sampai kumal dan robek. Perlakuan yang begitu sangat hati-hati pada mata uang asing karena kekhawatiran dolar yang dimiliki tidak laku atau nilai tukarnya turun.
Padahal, uang yang kumal dan lusuh, apalagi sampai robek, akan langsung ditarik oleh Bank Indonesia karena dianggap tidak layak edar. Bank terpaksa harus memproduksi lagi uang baru sebagai pengganti, yang tentunya harus mengeluarkan biaya produksi.
Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulsel, Derry Rosianto menuturkan, memang ada pertimbangan untuk membuat kebijakan agar uang yang kumal, lusuh, apalagi sampai terlipat, dapat menurunkan nilai tukar uang. Setidaknya, dapat membuat kita menghargai mata uang asing dan berdaulat di negeri sendiri. “Kita sendiri yang harus menjaga kedaulatan negara kita dengan menghargai mata uang Rupiah,” tuturnya.
Selain gencar menyosialisasikan identifikasi uang asli dengan kampanye Dilihat, Diraba, dan Diterawang atau 3D, Bank Indonesia juga aktif kampanye penggunaan uang non kartal melalui transaksi elektronik. Transaksi tanpa uang kartal setidaknya lebih efisien dan aman. Uang tidak layak edar yang sebenarnya bernilai hingga ratusan triliun rupiah dan akhirnya menjadi sampah, diharapkan dapat berkurang. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s