Reportase / Umum

Mengalirkan Persaudaraan di Sungai Leko Pancing

Peran Sungai Leko Pancing di wilayah Kabupaten Maros sangat vital. Bukan hanya sebagai penyuplai kebutuhan air baku untuk PDAM Makassar dan Maros, serta irigasi pertanian. Rasa persaudaraan juga mengalir kepada masyarakat di kedua daerah tersebut.
__________________________

Begadang hingga dinihari sudah menjadi salah satu rutinitas pelanggan PDAM Makassar, setiap kemarau. Paling banyak merasakan, warga di wilayah timur dan utara Kota Makassar. Mereka menunggu tetesan air keluar dari keran.
    Safaruddin, seorang warga Jl Tator kompleks perumahan Perumnas Sudiang, sering mengalaminya. Matanya berat menahan kantuk, menunggu seluruh tempat penampungan air penuh. Sekali air PDAM mengalir, seluruh ember baskom, hingga panci langsung diisi. “Persediaan bila air tidak mengalir beberapa hari,” tutur karyawan perusahaan di Kawasan Industri Makassar (Kima) itu.
       Keluhan sulitnya mendapatkan air selalu nyaring terdengar, setiap musim kemarau. PDAM selaku perusahaan pengolah dan pendistribusi air bersih pun mengalaminya. Bahkan, sejak Juli lalu, pasokan air ke Instalasi Pengolahan Air (IPA) 2 Panaikang milik PDAM Makassar tak sampai 100 liter per detik dari Bendung Leko Pancing yang berada di Desa Leko Pancing, Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros.
    Pantauan FAJAR di Bendung Leko Pancing, Selasa, 27 Oktober, satu unit ekskavator mengeruk sedimentasi di sekitar bendung. Lumpur sedimentasi dipindahkan ke bagian Sungai Leko Pancing yang mengering di musim kemarau panjang tahun 2015 ini. Hampir seperlima bagian sungai mengering. Di bawah bendung, warga dengan mudahnya melintasi sungai kering yang cukup lebar itu menggunakan sepeda motor.
    Bendung yang berfungsi menyuplai air baku untuk pengolahan air minum di PDAM, tak lagi optimal. Debit air yang normalnya sekitar 2.000-2.500 liter per detik, tersisa sekitar 425 liter per detik. Ketinggian air dari dasar bendung hanya 25 sentimeter.
    Pengerukan sedimentasi yang dilakukan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang, upaya menormalkan fungsi bendung yang dibangun mulai tahun 1973 silam. BBWS mengucurkan dana Rp600 juta untuk mengeruk sedimentasi sungai yang kian tebal.
    Kepala BBWS Pompengan Jeneberang, Agus Setiawan mengatakan, selain musim kemarau, berkurangnya debit air Bendung Leko Pancing juga disebabkan tingginya sedimen di bagian hulu sungai. Dari pengerukan itu, ia memperkirakan ada sekitar 10 ribu meter kubik material yang akan dikeruk. Ia yakin, pengerukan ini bisa membuat daya tampung lebih besar dan debit air terjaga. Untuk membuat Bendung Leko Pancing tetap maksimal di musim kemarau, memang cukup sulit. Agus mengakuinya.
    Sumber air yang kian terbatas akibat kerusakan lingkungan, salah satu penyebabnya. Kerusakan terutama pada hutan di bagian hulu sungai. “Butuh peran masyarakat dan pemerintah untuk menjaga kelestarian lingkungan,” tuturnya.
    Akademisi Universitas Hasanuddin, Budirman Bachtiar mengemukakan, permasalahan utama pada daerah hulu Leko Pancing pada catchment area atau area tangkapan hujan yang sudah banyak rusak. Penyebabnya macam-macam, mulai dari pembukaan lahan untuk pertanian hingga aktivitas penebangan pohon secara ilegal.
    Nah, fungsi area tangkapan hujan inilah yang harus dikembalikan. Gerakan penghijauan daerah hulu salah satu cara mengembalikan fungsi meski bersifat jangka panjang. “Langkah cepat bisa dengan membuat embung-embung di sekitar hulu,” tuturnya.
    Embung inilah yang menampung air hujan dan melepaskannya di musim kemarau. Dengan begitu, krisis air bisa diminimalisasi. Namun tentunya, perlu pelibatan semua pihak. “Air baku memang lebih banyak dinikmati Makassar. Tetapi Maros juga dapat berperan untuk kelestarian lingkungannya,” saran Budirman.
    Bila fungsi kawasan di hulu tak dikembalikan, kekeringan di sekitar bendung menjadi pemandangan setiap tahun. Pasokan air yang terbatas untuk suplai air baku pengolahan air minum di PDAM pun menjadi keluhan klasik. Pelanggan PDAM Makassar dan Maros “dipaksa” bersabar dengan distribusi air yang dibatasi.
    PDAM Makassar memanfaatkan air baku dari Bendung Leko Pancing untuk Instalasi Pengolahan Air (IPA) 2 Panaikang. Air mengalir melalui saluran terbuka sepanjang 29,6 kilometer, melintasi Kecamatan Tanralili dan Moncongloe di Maros, kemudian masuk ke Kecamatan Manggala, Makassar, sebelum masuk ke instalasi Panaikang.
    IPA yang beroperasi sejak tahun tahun 1977 itu berkapasitas 1000 liter per detik. Distribusi air bersih melayani lebih dari 60 ribu pelanggan, mulai dari rumah tangga, rumah sakit, industri, hingga pelabuhan.
    Direktur Teknik PDAM Makassar, Asdar Ali mengatakan, suplai air baku di Bendung Leko Pancing tak sampai 100 liter/detik. Padahal jika dalam kondisi normal, suplai air bisa mencapai 1.300 liter per detik.  Itu sudah terbagi untuk suplai IPA Panaikang dan IPA Antang. IPA Antang menghasilkan 95 liter per detik untuk 7.000 pelanggan di kawasan Antang. 
    Agar pelayanan tetap jalan, PDAM mengambil air baku dari Sungai Moncongloe dengan pompanisasi sekitar 800 liter per detik. Selain itu, dari Mallengkeri 300 liter per detik. Biaya yang harus dikeluarkan memang lebih besar. Pemompaan air di Mallengkeri selama tiga bulan sudah menghabiskan Rp1 miliar. IPA Panaikang salah satu tulang punggung PDAM selain IPA Somba Opu. Dari 165 ribu pelanggan, sekitar 50 persen dilayani IPA Panaikang. 
    Krisis air baku berpengaruh pada pelayanan pelanggan. Terjadi penurunan 15 persen dari 60 ribu pelanggan di wilayah timur dan utara kota. Rata-rata yang tidak terlayani, pelanggan di daerah ketinggian, seperti wilayah Tallo, Ujung Tanah dan beberapa daerah pinggiran di Biringkanaya dan Tamalanrea.
    Suplai air dari Bendung Leko Pancing juga dimanfaatkan oleh IPA Pattontongan milik PDAM Maros. Kapasitasnya 70 liter per detik, melayani sekitar 4.000 pelanggan di Kecamatan Mandai dan Marusu.
    “Pasokan air sudah kritis. Debit yang masuk ke instalasi hanya sekitar 30 liter per detik. Pelanggan harus memanfaatkan suplai air secara bijak. Krisis air ini paling parah dalam 12 tahun terakhir,” tutur Direktur Utama PDAM Maros, Abdul Baddar.
    PDAM juga harus menghadapi konflik kepentingan dengan masyarakat. Petani di sekitar hulu Sungai Leko Pancing berusaha membendung aliran sungai. Dengan tumpukan batu seadanya, petani membendung sungai dan mengalirkannya ke kebun dan areal persawahan untuk pengairan. Selain faktor kekeringan, kondisi ini pula yang membuat debit air ke bendung menurun drastis.
    Rasid, salah seorang warga Leko Pancing mengakui, petani terpaksa memompa air sungai ke persawahan karena desakan kebutuhan. “Kalau warga di kota butuh air untuk minum, kami juga butuh air untuk pertanian,” tutur Rasid yang sedang menjaga usaha warung kelontongnya.
    Ancaman untuk membendung dan membelokkan aliran sungai juga sempat disuarakan beberapa petani. Tindakan ini dapat mengancam ketersediaan air baku instalasi PDAM. “Tapi tidak baik seperti itu. Kita ini sama-sama manusia, bersaudara, sama-sama butuh air. Biarkan mengalir dan kita sama-sama menikmatinya,” tuturnya dengan bijak.
 
Kembalikan Kenikmatan dari Alam

Vegetasi di Desa Bonto Somba, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, berkontribusi besar bagi ketersediaan air di Bendung Leko Pancing. Hulu Sungai Leko Pancing berada di kawasan tersebut. Berkurangnya suplai air ke bendung yang drastis setiap kemarau, dipengaruhi kondisi hutan yang mengalami penurunan fungsi.
    Kepala Dinas Kehutanan Maros, M Nurdin mengaku setiap tahun selalu melakukan revegetasi dan upaya penghijauan lain di sektor hulu. Namun, adanya kepentingan masyarakat dan oknum pengusaha, membuat fungsi hutan tidak lagi optimal menyediakan debit air yang besar di musim kemarau.
    Perambahan kerap dilakukan untuk membuka lahan pertanian baru di kawasan hulu. “Kerusakan kian diperparah dengan adanya aktivitas oknum tertentu melakukan penebangan pohon secara ilegal. Tetapi Pengawasan selalu dilakukan dan ada yang ditindaki,” tuturnya.
    Pengawasan terhadap aktivitas ilegal yang merusak hutan juga dengan membentuk Pamswakarsa. Petugasnya direkrut dari warga sekitar hulu. Harapannya, ada kesadaran dari masyarakat untuk menjaga sendiri kelestarian lingkungan di sekitarnya.
    Selain partisipasi masyarakat, Nurdin juga berharap ada kepedulian dari PDAM untuk melakukan energi balik. PDAM Makassar dan Maros telah menikmati pasokan air dari hutan di kawasan hulu Sungai Leko Pancing, sudah seharusnya mengembalikan energi ke alam. Langkah terbesar tentu saja dengan partisipasi merawat fungsi hutan, sehingga kelestarian lingkungan tetap terjaga. Dampaknya, pasokan air ke bendung tetap terjaga, sehingga keluhan tidak selalu terdengar setiap kemarau tiba.
    Direktur Teknik PDAM Makassar, Asdar Ali mengungkapkan, PDAM selalu berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan di Leko Pancing. Melalui Dinas Pendapatan Daerah Sulsel, PDAM membayar pajak air permukaan Rp170 juta per bulan. “Mestinya dana itu dialokasikan untuk pelestarian hutan,” tuturnya seraya menyebut juga sering membantu penanaman pohon.
    Banyaknya warga yang memanfaatkan air dari Sungai Leko Pancing, juga dimakluminya. Apalagi jika menjadi kebutuhan utama masyarakat. “Tetapi Bendung Leko Pancing itu dibangun untuk kebutuhan air masyarakat di Makassar. Dahulu belum ada sawah di sana,” ujarnya.
    Dirut PDAM Maros, Abdul Baddar mengatakan, perlu ada ketepatan program untuk menjaga sumber air baku. Konservasi dan pengawasan hutan dilakukan secara berkesinambungan demi terjaganya kelestarian lingkungan. “PDAM Makassar dan Maros sudah rutin melakukan penghijauan di kawasan hulu,” bebernya.
    Perencanaan jangka panjang juga sedang dirancang pemerintah untuk menjami ketersediaan air di Bendung Leko Pancing kendati musim kemarau. Rencananya akan dibangun waduk Bontosunggu di sekitar hulu yang kapasitasnya mendekati Bendungan Bili-bili. “Informasi terakhir, saat ini proses amdal. Tapi ini program jangka panjang pemerintah pusat,” beber Baddar.
    BBWS Pompengan Jeneberang juga merencanakan program jangka panjang untuk menjamin ketersediaan air baku PDAM. Tahun depan, BBWS akan membuat bendung karet di Sungai Maros.
Bendung karet ini bisa menyuplai air baku hingga 100 liter per detik. “Desainnya sudah jadi. Sisa menunggu persetujuan anggaran dari pusat,” beber Kepala BBWS Pompengan Jeneberang, Agus Setiawan.
    Bendung karet ini membutuhkan anggaran sebesar Rp25 miliar. Kata Agus, jika anggarannya sudah disetujui maka ia bisa menyelesaikan dalam waktu enam bulan. Sistem kerjanya, bendung mencegah masuknya air laut bercampur air tawar. Saat banjir, pada ketinggian tertentu bendung otomatis kempes sehingga air bisa tetap lewat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s