ADVENTURE

Menyusuri Kanal Kota Tua Amsterdam

Bangunan Kuno tak Diusik, Pajak Rumah Air Dibuat Mahal

Sebelum menyusuri kanal tua, berfoto dahulu di Asrama SIN di Wasenaar, Den Haag

KINCIR angin telah menjadi landmark Belanda. Tapi negara ini juga tak kalah terkenal dengan kepiawaiannya mengelola air. Sebagian daerahnya yang berada di bawah permukaan laut, tak lagi pernah terendam. Sebaliknya, malah telah menjadi objek wisata.

HARIFUDDIN
Amsterdam

KEINDAHAN kota tua Amsterdam yang menjadi ibukota negara Belanda bisa disusuri sekitar satu jam. Berbagai objek sejarah masa lampau hingga abad kXVI bisa disaksikan lebih dekat dengan alat transportasi air Canal Cruise Amsterdam.

Rumah terapung di sepanjang kanal kota tua Amsterdam

Salah satu terminal kanal bus yang dapat diakses berada di depan kantor pusat Heineken Bierbrouwerij Maatscappij. Hanya dengan membayar tiket seharga 10-12,5 Euro (setara Rp 130.000-Rp 162.200 dengan kurs 13.000), kota tua Amsterdam sudah bisa disusuri.
Amsterdam sebenarnya dibangun di atas rawa-rawa dengan kondisi tanah berpasir. Tapi saat ini, bangunan bersejarah yang berdiri kokoh di tepi kanal posisinya sudah lebih tinggi dari permukaan kanal, meskipun hanya beberapa sentimeter lagi sudah mencapai permukaan jalan.

Rumah terapung di Prinsesgracht

Kanal-kanal di kota Amsterdam mulai dibangun pada awal abad XVI dengan jumlah jembatan penghubung saat itu masih 52 buah. Seiring perkembangan kota, jembatan penghubung terus bertambah hingga menjadi 1.500 buah dengan berbagai bentuk khas.
Kaca transparan yang menutupi kanal bus memudahkan pengamatan kota lebih dekat, mulai dari objek kuno hingga modern. Bila penyusuran kanal dimulai dari depan kantor Heineken, kanal pertama yang dilintasi adalah Leitsegracht atau Kanal Leitse.

Bersama kru penari delegasi Sulsel di kanal Cruise kota tua Amsterdam

Selama menyusuri kanal-kanal kota Amsterdam, banyak rumah air berbagai ukuran dengan bentuk cukup mewah, dilewati. Saat ini, pertumbuhan rumah air terhenti di angka 3.000 unit. Selain karena pajaknya yang mahal, Pemerintah Belanda memang sudah tidak mengeluarkan izin pembangunan.
Bila penyusuran terus dilanjutkan, bus akan melalui Princessgracht atau Kanal Putri. Kanal ini merupakan satu dari tiga kanal utama di Amsterdam. Namanya diberikan langsung oleh putri penguasa Belanda abad XVII.
Tour guide dari Canal Cruise Amsterdam, Thomas Dahns, mengungkapkan, pengerukan kanal utama mulai dilakukan pada abad XVII. Permukaan air saat itu sering meluap dan merendam kota yang memang sebagian besar dibangun di atas rawa-rawa.
Agar tidak terus menjadi masalah, terutama pada saat air laut pasang, maka diputuskanlah untuk menggali semua bagian kanal. “Volume air kanal saat itu kadang mencapai tiga kali dari daya tampung kanal,” katanya, saat membawa penulis menyusuri Amsterdam, Minggu, 4 April lalu.
Bentuk kanal utama di Amsterdam rata-rata berbentuk bulan sabit. Bentuk ini menjadi ciri khas kota tua. “Dataran terbagi atas sembilan pulau yang kemudian dibagi-bagi lagi dengan membuat kanal buatan,” jelasnya.
Pemandangan yang paling dominan selama menyusuri kanal dengan bus air adalah bangunan kuno yang bentuknya kadang seragam. Ada sekitar 8.000 bangunan di Amsterdam yang saat ini berada di bawah perlindungan monumen dan kota tua.
Objek bersejarah lain yang bisa dilihat lebih dekat selama penyusuran kanal adalah monumen berupa gereja dengan jam besar dan kubah menyerupai mahkota. Gereja yang dibangun tahun 1631 itu merupakan Gereja Pantekosta terbesar di Eropa. Butuh waktu tujuh tahun untuk menyelesaikan gereja dengan tinggi menara 83 meter itu.
Dari sekian banyak deretan rumah yang dilalui selama perjalanan menggunakan transportasi air, rumah bernomor 283 paling menarik perhatian penumpang bus air. Apalagi, banyak orang berkerumun di depan pintu bercat hijau tersebut untuk mengabadikan momen dengan kamera.
Rumah nomor 283 itu merupakan tempat tinggal Anne Frank. Anne Frank seorang gadis Yahudi yang bersama keluarganya bersembunyi dalam kamar kecil di loteng rumah sejak 1942 sampai 1944. Saat itu tentara Jerman sedang menguasai wilayah Belanda. Rumah itu kini dijadikan museum untuk menggambarkan kehidupan Anne Frank
dan keluarganya.
Kanal bus yang membawa 35 penumpang itu lalu berbelok ke kanan ke arah Leyligracht atau Kanal Leyli. Kanal ini menjadi penghubung tiga kanal utama di Amsterdam. Dulunya merupakan pintu air dan dibangun tahun 1785.
Melewati Herenggracht atau kanal laki-laki, penumpang akan dibawa melintasi zaman keemasan Amsterdam. Kota ini berkembang menjadi paling jaya di Eropa. “Herenggracht kanal terindah dari tiga kanal utama yang ada di Amsterdam,” kata Thomas Dahns.
Rumah kuno yang berada di sepanjang kanal umumnya bertiang penyangga konstruksi kayu keras yang sebagian besar didatangkan dari Indonesia. Belanda membutuhkan kayu tersebut, karena kondisi tanahnya berupa rawa-rawa. Pada beberapa bagian, kita akan menemukan rumah yang sudah miring, karena tiang penyangganya mulai rapuh.
Bila melintasi Brouwersgracht atau kanal Brouwers, akan terlihat rumah berbentuk seragam dengan dinding berwarna hitam. Menurut Thomas, nama brouwers diambil karena dulu, kawasan tersebut merupakan pusat pembuatan bir.
Setelah meninggalkan kota tua, kita akan menemukan banyak pintu air menuju kanal utama. Jumlah pintu air yang masih terpelihara saat ini sebanyak 16 buah di dalam kota. Fungsinya, selain menyegarkan air kanal, juga mengatur ketinggian air di dalam kanal kota. Pintu air ini terbuat dari kayu yang sangat keras dan besar serta dicat hitam. Pengatur buka tutup pintu air sudah menggunakan peralatan mekanis.
Muara dari kanal utama dalam kota tua Amsterdam adalah kanal laut utara. Kanal ini terlebar di dunia dengan dimensi lebar 170 meter dan panjang 20 kilometer. Selain menjadi muara kanal utama, juga sekaligus menjadi dermaga perahu berukuran besar.
Kanal laut utara juga masih digunakan sebagai dermaga pelabuhan fery yang menghubungkan sisi barat dan timur. Dermaganya bernama Central Station yang dibangun di atas 9000 pilar kayu dan menjadi stasiun terbesar di Belanda.

Selain itu, di kanal laut utara juga ada pelabuhan khusus yang panjang dermaganya mencapai 600 meter. Dermaga ini menjadi pelabuhan khusus kapal pesiar, terutama dari Budapest ke Amsterdam. Sehari sebelum penulis menyusuri kanal ini, bersandar kapal pesiar Avalon Waterways.
Tak jauh dari terminal khusus kapal pesiar, terdapat stadium tempat konser musik jaz dan klasik. Stadium itu bernama Muziekgebouwaantij dengan konstruksi yang cukup futuristik.
Mengarungi dermaga timur kanal utama, merupakan pelabuhan laut Amsterdam. Di pelabuhan laut ini berdiri kokoh bangunan menyerupai kapal berwarna hijau dan sangat terkenal dengan nama Nemo. Bangunan futuristik itu menjadi pusat pengkajian ilmu pengetahuan dan teknologi.

Penumpang Canal Cruise berpose di atas perahu dengan latar belakang Pusat Penelitian Nemo yang berwarna hijau mirip bangunan kapal

“Pengunjungnya dari berbagai kalangan. Mereka terlibat langsung melakukan berbagai macam penelitian terutama ilmu pengetahuan dan teknologi,” kata Thomas.
Tepat di sampingnya, masih berdiri dengan kokoh kapal milik perusahaan dagang Kerajaan Belanda abad XVI-XVII. Sepintas, mirip kapal dari Tanah Beru Bulukumba. Hanya saja, bentuk haluannya tidak meruncing, tetapi nyaris melengkung datar.

Kapal uji coba milik VOC

Kapal dengan ukiran khas dua laki-laki, masing-masing memegang ayam dan anjing, berwarna kombinasi hijau dan putih itu merupakan kapal percobaan VOC. Hampir enam tahun, barulah kapal percobaan itu rampung dan kini masih berdiri kokoh di samping pusat penelitian, Nemo. Kapal itu dibangun pada awal abad XVIII.

Bagian belakang kapal milik VOC

Banyak pemandangan indah yang bisa disaksikan di sekitar pusat penelitian ilmu pengetahuan itu. Salah satunya Sea Palace, yang merupakan restoran China terapung yang terbesar di Eropa.
Tak jauh dari restoran itu, masih berdiri kokoh Gereja St Nicola yang mempertahankan gaya Victoria. Kita juga dapat menyaksikan Menara Montelban dengan puncak menara bergaya Renaissance sebagai dekorasinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s