ADVENTURE

Catatan Perjalanan Menjelajahi Peradaban Modern dan Kuno Belgia

Keindahan Kota Brussel di Ketinggian 102 Meter

SEMBILAN bola raksasa berbentuk struktur molekul menjadi monumen megah di jantung Eropa. Menara bergaya futuristik bernama Atomium ini salah satu simbol kemegahan dan modernisasi Kota Brussel, ibukota negara Belgia

HARIFUDDIN

KABUT tipis masih menyelimuti bola-bola atom raksasa bergaris tengah 18 meter itu ketika saya dan enam rekan lainnya berkunjung Minggu, 4 April. Pagi itu, belum banyak pengunjung yang datang menyaksikan lebih dekat karya arsitek Andre Waterkeyn yang dibangun tahun 1958.

berpose depan atomium

Atomium salah satu dari sekian banyak karya arsitektur modern yang berdiri megah di antara ratusan bangunan kuno yang masih terpelihara dengan sangat baik. Letaknya di kawasan Heysel Park, sekira 10 kilometer dari kawasan kota kuno Brussel.
Komposisi arsitekturnya sangat mengagumkan dan menjadi simbol kemajuan teknologi tinggi. Titik tumpu utama bola-bola atom berwarna keperakan itu terletak pada satu bola raksasa yang di bawahnya terdapat bangunan berbentuk lingkaran dan berfungsi sebagai pintu utama.
Berbagai merchandise khas Atomium seperti baju kaus, replika ikatan atom, dan sebagainya, dipasarkan di bangunan yang dijadikan galeri pemasaran. Sementara ruang pamer perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ditempatkan di beberapa bola atom raksasa.
Antara bola atom satu dengan bola atom lainnya dihubungkan pipa silinder yang sebenarnya berisi lift penghubung. Selain mengandalkan bola yang bersentuhan dengan tanah, tiga tiang yang juga berfungsi sebagai tangga ke tiga bola menyangga stabilitas kekuatan struktur bangunan.
Menurut Ayyi Rahyono, staf Kedutaan Besar RI untuk Belanda yang menemani perjalanan kami, dari sembilan bola yang menyerupai ikatan atom raksasa, ada tiga bola yang tidak terbuka untuk umum demi menjaga keselamatan pengunjung. Ketiga bola yang berada di bagian luar itu sebenarnya memiliki tiga pipa silinder yang terhubung dengan bola lainnya. Hanya saja, tak ada tiang vertikal sebagai tumpuan yang lebih stabil seperti bola-bola atom lainnya.
Keindahan kota Brussel dapat terlihat dari bola yang berada di titik puncak dengan ketinggian sekitar 102 meter dari permukaan tanah. Jendela dengan kaca khusus terpasang untuk pemantauan dari ketinggian. Sementara bola yang berada di tenga-tengah sebagai titik pusat ikatan dimanfaatkan sebagai tempat istirahat pengunjung Atomium.
Megahnya monumen Atomium juga bisa dilihat lebih menarik dari arah gedung parlemen Belgia yang letaknya tak jauh dari Atomium. Pemisahnya hanya taman dengan dua jalur kendaraan menuju Atomium atau gedung parlemen.

gedung Parlemen Belgia

Bangunan berbentuk ikatan molekul atom itu bukan sekadar monumen biasa saja, tetapi simbol negara federasi Belgia telah masuk ke dalam dunia modern. Atomium dibangun awalnya hanya untuk even Brussels World’s Fair atau Exposition Universelle et Internationale de Bruxelles pada 17 April sampai 19 Oktober 1958.
Ribuan pekerja membangun monumen itu selama tiga tahun. Setelah rampung, Brussels World’s Fair dengan Atomium sebagai ikon utamanya dibuka Raja Baudouin I. Rencana awal, Atomium berbahan asli aluminium itu hanya untuk enam bulan saja.
Tetapi masyarakat Belgia meminta agar bangunan unik itu dipertahankan tanpa mengabaikan ikon negara lainnya seperti Manneken Piss atau grote markt. Renovasi yang menghabiskan dana 27 juta euro telah dilakukan 2004 silam dengan mengganti bagian aluminium menjadi baja tahan karat dan Atomium dibuka kembali untuk umum pada awal 2006.
Kekaguman terhadap molekul atom menginspirasi pembangunan gedung Atomium. Belgia juga berhasil mengembangkan teknologi nuklir dan mengeksploitasinya untuk berbagai kebutuhan energi di negara yang menggunakan bahasa Belanda dan Perancis itu sebagai bahasa nasional.
Kepala Biro Pemerintahan Umum Pemprov Sulsel, Andi Bakti Haruni, yang pernah mengenyam pendidikan di Perancis dan menjadi teman perjalanan saya menjelajahi beberapa bagian Belgia mengungkapkan, eksploitasi nuklir telah membuat negara ini surplus energi listrik.
Maka tak heran, ketika berjalan di setiap sudut kota Brussel yang menjadi ibukota negara yang terkenal dengan cokelatnya itu terang benderang dengan sinar lampu. Negara seluas 30.528 kilometer persegi yang terletak di antara Belanda dan Perancis bahkan memasok energi listrik untuk Belanda dan Perancis dari hasil eksploitasi energi nuklirnya.
Tak jauh dari Atomium, terdapat bangunan khas berasitektur Asia timur jauh. Bangunan tradisional yang terletak di kawasan perbukitan dengan ciri khas dominan warna merah itu merupakan sumbangan pemerintah Jepang. Ada dua bangunan menyerupai kuil tersebut dan letaknya saling berhadapan, hanya dipisahkan jalan raya.
Selain bangunan mirip kuil itu, juga masih terdapat objek lain yang bisa dikunjungi ketika berada di kawasan Heysel Park, yakni Stadion King Baudouin. Dulunya, stadion ini bernama Stadion Heysel yang diruntuhkan pada tahun 1994.
Menyebut nama Stadion Heysel, mengingatkan tragedi yang terjadi 29 Mei 1985 silam. Di tempat itulah, sebanyak 39 warga tewas ketika menyaksikan pertandingan perempatfinal Liga Champion antara Liverpool dan Juventus.
Tragedi itu terjadi ketika kelompok hooligan Liverpool menerobos tempat yang disiapkan untuk pendukung Juventus. Dinding pembatas akhirnya roboh dan menewaskan 39 penonton dan ratusan lainnya luka-luka. Tugu berbentuk jam matahari karya seniman Perancis, Patrick Remoux dibuat tahun 2005 berdiri tegak untuk mengenang peristiwa tersebut.
Modernisasi yang masuk ke Belgia di tengah upayanya mempertahankan kekunoan kota tua di kawasan Grote Markt yang menjadi alun-alun kota juga bisa terlihat di terowongan panjangnya. Terowongan ini kami lewati ketika keluar dari kawasan Heysel Park menuju jalan bebas hambatan tak berbayar yang menjadi jalur utama negara anggota Uni Eropa.
Saat melewati terowongan panjang yang terang benderang itu, pertanyaan terlintas di antara kami, bangunan apa kiranya yang berdiri di atas terowongan itu. Pertanyaan itu terjawab setelah melewati terowongan dan melihat bangunan tinggi nan megah serta kawasan permukiman berdiri kokoh di atas terowongan panjang itu.

Mengunjungi Manneken Pis

PERADABAN yang terus berkembang tak membuat bangunan kuno di Brussel dengan arsitektur indah yang menonjolkan kemegahan dan kemewahannya harus tergusur. Gedung bernilai historis itu justru dirawat dan menjadi daya tarik wisata andalan.
“HANYA sebesar ini? Saya kira ukurannya besar,”. Itulah ungkapan ekspresi teman saya, Andi, ketika kami akhirnya mendapatkan sudut jalan tempat patung kecil yang sedang pipis. Ya, kami memang menyangka patung yang sangat terkenal dengan nama Manneken Pis itu seperti umumnya patung di Belgia yang berukuran besar.
Bila negara lain menggunakan karya monumental berukuran luar biasa besar sebagai ikon seperti Inggris dengan jam Big Ben atau Buckingham Palace, Perancis dengan menara Eifel, atau Amerika Serikat dengan patung Liberty, maka Belgia menggunakan patung anak kecil yang asyik mengencingi sebuah kolam hanya setinggi sekira 60 sentimeter.
Tapi namanya ikon, meskipun sepintas lalu tak ada yang istimewa dari patung kecil itu, setiap hari selalu ramai didatangi wisatawan. Padahal letaknya tidaklah di taman yang luas, melainkan di persimpangan jalan yang tidak lebar. Cukup hanya untuk satu mobil saja.

Manneken pis

Kami tidak mudah menemukannya. Harus berputar-putar terlebih dahulu di pagi hari yang masih gelap dan basah karena hujan baru saja turun di awal musim semi, mengelilingi kota tua Brussel sebelum akhirnya melihat dari dekat patung yang sangat terkenal itu.
Posisi berdirinya tepat di persimpangan Jalan Stoofstraat atau Rue de L’Etuve dan Jalan Eikstraat atau Rue du Chêne. Nama jalan di Belgia memang menggunakan dua bahasa, Perancis dan Belanda. Staf Kedubes RI untuk Belanda, Ayyi Rahyono, menuturkan, kepala pemerintahannya saja, ketika membacakan pidato sambutan harus menggunakan bahasa Perancis dan Belanda.
“Bila tidak, salah satu kelompok pengguna bahasa terbesar di negara itu akan protes,” katanya. Belgia menggunakan kedua bahasa negara tetangganya sebagai bahasa nasional. Komunitas Flandria menggunakan bahasa Belanda dan Walonia bahasa Perancis. Bahasa Jerman juga digunakan warga Belgia dalam komunitas kecil yang berbatasan dengan negara Jerman.
Saat saya mengunjunginya, Manneken Pis sedang tidak mengenakan busana, meskipun udara di Brussel sangat dingin, sekira lima derajat celcius. Hanya topi bulat berwarna kuning keemasan yang terpasang di kepalanya sebagai aksesori.
Tapi pada momen tertentu, kata Ayyi, Manneken Pis yang juga bernama Perancis, Petit Julien, mengenakan busana khas dari berbagai negara. Pada event Brussels International Fantastic Film Festival yang akan digelar 20 April, besok, pengelola Musée de la Ville de Bruxelles akan memasang kostum ala drakula pada patung mungil itu.
Setidaknya ada lima jenis kostum yang akan dikenakan Manneken Pis selama April ini dalam rangkaian festival menyambut musim semi di Belgia. Ikon Belgia itu telah memiliki ratusan kostum dan tersimpan di Musée de la Ville de Bruxelles. Kostum kosmonot, Nelson Mandela, hingga Elvis Presley pernah dikenakannya. Termasuk busana adat Lampung yang merupakan pakaian ke-809 dan digunakan pada 18-19 Agustus 2008.
Patung bocah berambut ikal berbahan perunggu itu dijaga sangat ketat. Kamera pengawas yang terlihat, berada di sisi kiri patung. Belum lagi petugas keamanan yang berwajah tegas berdiri tak jauh dari patung dan mengawasi wisatawan yang memotret. Saat saya sedang mengambil gambar, ada wisatawan lain berpose dengan latar belakang Manneken Pis sambil memanjat pagar pembatasnya.
Banyak cerita legenda yang melatarbelakangi kehadiran Manneken Pis yang nama Belanda dan Perancis-nya digunakan oleh dua toko didepannya. Salah satunya seperti yang disebutkan Ayyi Rahyono, Manneken Pis adalah anak bangsawan Perancis yang hilang ketika Belgia terbakar. Dia ditemukan di sudut jalan sedang pipis.
Legenda lain yang juga tak kalah terkenalnya adalah ketika Brussel terkepung kekuatan musuh pada abad 14. Musuh raja Belgia telah menyusun rencana menempatkan beberapa bahan peledak di seluruh tembok kota. Anak kecil bernama Juliaanske dari Brussel mengencingi sekering yang terbakar dan akhirnya menyelamatkan kota.
Manneken Pis yang asli diperkirakan sudah ada sejak abad 14 dan beberapa kali dicuri. Kondisinya sudah patah ketika ditemukan kembali. Pemerintah Belgia kemudian memerintahkan pematung Jerome Duquesnoy membuat tiruannya pada tahun 1619. Patung mungil itu kini menjadi daya tarik wisatawan yang tak kalah tenar dari menara Eifel di Perancis.
Setelah berfoto sejenak dengan Manneken Pis, penelusuran berlanjut melewati ruas jalan sisi kanan kantor walikota Brussel. Tak sampai lima menit berjalan kaki, alun-alun kota yang sangat indah bernama Grand Place atau dalam bahasa Belanda Grote Markt sudah terlihat.
Seperti jalan-jalan di kawasan kota tua Belgia pada umumnya, jalan menuju Grand Place sampai pada alun-alun berbentuk perseginya tidak terbuat dari campuran aspal. Permukaan jalannya menggunakan batu alam jenis granit berbentuk persegi dengan ukuran sekitar 5-10 sentimeter.

Depan Groote Markt

Penataan dan pemasangan batu alamnya sangat rapi dan kuat. Tetapi ketika melintasi jalan menggunakan mobil, terasa agak kurang nyaman, seperti layaknya melintas di jalan yang tidak rata.
Grote Markt menjadi simbol kejayaan Belgia sekaligus menunjukkan perhatian pemerintahnya mempertahankan bangunan kuno di tengah modernisasi yang berkembang di negara itu. Semua bangunan kuno tetap dipertahankan meskipun dimiliki oleh pihak swasta.
Alun-alun kota atau Grote Markt yang dulunya diperuntukkan sebagai pasar besar dikelilingi empat gedung dengan karya arsitektur yang sangat indah. Detail pahatan patung dan kronologi dioramanya menunjukkan tingginya cita rasa seni. Gaya arsitekturnya kombinasi antara gothic, baroque, dan Louis XIV.
Bangunan yang mengelilingi Grote Markt adalah Hotel de Ville atau Stadhuis, Maison du Roi atau Broodhuis, Le Pigeon dan La Maison des Boulangers. Keanggunan gedung tua yang terawat baik itu berdiri menantang di tengah desakan perkembangan Brussel yang menjadi ibukota Uni Eropa.
Salah satu bangunan memikat dengan relief yang sangat indah berwarna krem adalah Hotel de Ville. Namanya, memang Hotel de Ville, tapi sebenarnya bukan hotel tempat menginap. Bangunan dengan puluhan jalan masuk penuh relief itu merupakan kantor walikota Brussel, sehingga juga disebut Stadhuis.
Sebuah menara yang meruncing di ujungnya juga penuh relief menambah kemegahan Hotel de Ville. Mirip menara gereja katedral. Posisinya tidak tepat berada di tengah-tengah bangunan yang melebar itu. Bila mengambil posisi berhadapan, bangunan di sisi kiri menara lebih lebar dibanding sisi kanannya. Pada bagian atas menara terpasang patung St Michael.
Ada tenda lengkap dengan panggungnya terpasang tepat di depan bangunan Maison du Roi saat itu. Tanah lapang yang luas dengan lantai batu alam, kata Ayyi, memang kerap dijadikan lokasi pertemuan, pertunjukan, dan berbagai kegiatan warga lainnya.
Sesuai namanya, dahulu, Grote Markt adalah sebuah pasar besar. Sampai saat ini, tradisi berkumpul di pusat kota tua itu masih dilakukan warga Brussel sambil bersantai di beberapa kedai yang banyak berdiri di sekitar Grote Markt atau Grand Place sambil menikmati cokelat Belgia yang terkenal lezat atau menenggak bir Belgia.
Bangunan lain yang tak kalah mewahnya di Kota Brussel adalah Royal Palace. Gedung megah bergaya neo klasik ini merupakan kantor Raja Belgia. Bendera negara Belgia berkibar di puncak bagian gedung berbentuk kubah yang berada di tengah-tengah struktur bangunan. “Itu artinya raja ada di istana,” kata Ayyi Rahyono yang memandu perjalanan mengelilingi kota Brussel.

Royal Palace

Mirip kantor Ratu Beatrix di Den Haag, Belanda, bendera kenegaraan juga diturunkan bila raja sedang tidak berada di istana. Selain di Royal Palace, Raja Belgia juga sering tinggal di Chateau de Laeken.
Royal Palace memiliki desain yang sangat indah sekaligus unik. Selain struktur berbentuk kubah di tengah gedung juga ada struktur lain di sisi kiri dan kanan bangunan berbentuk piramida terpancung.
Taman yang luas lengkap dengan danau, pedesterian, bangku, patung-patung besar serta burung-burung yang bebas beterbangan terletak tepat di depan istana. Parc de Bruxelles hanya dipisahkan jalan lebar juga terbuat dari batu alam.

Royal Palace

Bila bangunan kuno berumur ratusan tahun masih terawat dengan baik, itu karena kebijakan Pemerintah Belgia yang memang menekankan pemeliharaannya. Bahkan bangunan kuno yang dimiliki warga sendiri, kata Ayyi Rahyono, juga masih tetap mendapat perhatian dari pemerintahnya.

2 thoughts on “Catatan Perjalanan Menjelajahi Peradaban Modern dan Kuno Belgia

  1. miris membaca “Bahkan bangunan kuno yang dimiliki warga sendiri, kata Ayyi Rahyono, juga masih tetap mendapat perhatian dari pemerintahnya”…

    di sini, di dalam negri hal ini belum menjadi hal yang utama.. belum mendapat perhatian khusus dari pemerintah apalagi masyarakat, pd umumnya.. lebih senang bangun ruko baru.. sedih juga..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s