Inspirasi

Mengorek Masa Kecil Gubernur Sulsel

Mengakrabi Kenakalan Hingga Olahraga Ekstrem

KENAKALAN remaja juga tidak lepas dari politikus sekaliber Syahrul Yasin Limpo. Berbagai macam olah raga pemacu adrenalin menjadi kegemarannya.

HIDUP berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain menjadi bagian dari kisah masa kecil Syahrul Yasin Limpo yang sekarang telah menjadi Gubernur Sulsel. Kebiasaan berpindah-pindah bukan karena pola hidup nomaden.

Ayahnya, HM Yasin Limpo yang berprofesi sebagai tentara sering berpindah tugas. Istri dan anak diboyong kemana pun bertugas. Kondisi seperti ini pulalah yang menyebabkan Syahrul kecil tidak pernah menamatkan pendidikannya di satu sekolah.

“Tidak ada satu tingkatan pendidikan yang selesai di satu sekolah. Minimal tiga kali pindah sekolah satu mulai dari taman kanak-kanak, SD, SMA, sampai perguruan tinggi,” ungkapnya saat diminta mengorek kembali kisah hidup masa kecilnya, suatu siang yang diguyur hujan di bulan Februari.

Sejak mengenyam bangku pendidikan di tingkat sekolah menengah pertama, Syahrul sudah terkenal kebadungannya. Saking bandelnya, dia mengaku pernah ditabrak mobil, diparangi, hingga ditikam. Beradu fisik dengan orang lain pun pernah dilakoninya.

Kesenangannya menjalani hidup yang penuh dengan tantangan telah mengantarnya hingga ke sejumlah puncak gunung. Dinginnya puncak Gunung Bawakaraeng dengan bunga edelweisnya yang khas, Gunung Lompo Battang, Pangrango, dan Gunung Gede, telah dijajakinya bersama teman sepergaulannya.

“Saya senang mengisi masa muda dengan mengikuti olah raga tantangan. Halang rintang di TNI saya jalani semua. Hampir semua jenis beladiri saya pelajari,” bebernya.

Dari sekian banyak olah raga yang diikutinya, olah raga otomotif yang paling digemari ayah tiga anak kelahiran Makassar, 16 Maret 1955 itu. Di dunia balapan di Makassar hampir tak ada yang tidak mengenalinya. Dia bahkan menjadi raja jalanan.

Olah raga otomotif pemicu adrenalin yang digemarinya antara lain, balapan sepeda motor, mobil, dan gokar. Arena balapan  Racing Center di Makassar, hingga Penang, Malaysia, beberapa kali menjadi ajang pertaruhan kemampuannya menaklukkan kekalahan.

Kesenangannya melakukan olahraga menantang bersama teman-temannya yang lain, dihimpun dalam satu komunitas bernama Gembel, akronim dari Gemar Belajar. Komunitas ini masih terpelihara hingga saat ini.

Bahkan pada Pilkada Gubernur Sulsel 2007 lalu, komunitas ini juga memiliki andil yang sangat besar untuk memenangkannya meraih kursi orang nomor satu di Sulsel. Orang-orang yang tergabung di dalamnya, juga termasuk cukup menggilai kegiatan yang mengundang bahaya.

Dari sekian banyak pengalaman hidupnya, ayah dari satu putri dan dua putra itu tidak dapat melupakan kenakalannya saat bersekolah di SMP 6 Makassar. Entah tubuhnya yang kuat, atau penggaris yang terbuat dari bilah papan yang rapuh, tetapi yang pasti, mistar tersebut patah di tubuhnya.

Seorang guru mata pelajaran Aljabar memukulnya dengan mistar kayu sepanjang satu meter, karena ulahnya yang berbuat keributan di kelas. Betapa tidak, kenakalan itu diperbuatnya ketika masih dalam jam pelajaran sekolah.

Guru Aljabar itu bernama Alwi Rum. Belakangan, saat Syahrul menjabat sebagai Wakil Gubernur Sulsel, Alwi yang juga mantan Bupati Maros, menjadi Asisten 1 Pemprov Sulsel.
Pukulan yang tidak dapat dilupakannya itu, justru menjadi “cambuk” untuk berbuat lebih baik. “Dulu, ada caranya guru kalau memukul. Walaupun memukul pakai mistar, tetapi terukur, dan tidak menggunakan tangan,” tuturnya.

Keusilan yang membuat guru kadang merasa jengkel juga terbawa hingga ke bangku SMA. Ruang belajarnya seakan-akan menjadi “kelas neraka” bagi guru. Betapa tidak, para guru harus membuat persiapan sebelum memasuki kelas anak badung itu.

“Orang-orangnya kritis. Apalagi kalau siswa menganggap gurunya kurang cocok, terutama guru Bahasa Jerman, Bahasa Inggris. Apalagi kami sangat kompak. Saking kompaknya, bersiul bersama-sama kalau guru sedang mengajar,” kenangnya.

Diakuinya, mata pelajaran Bahasa Jerman tidak digemarinya. Syahrul masih mengingat nama guru mata pelajaran itu bernama Pak Weno. Saat melihat guru itu menuju ruang kelasnya, semua siswa di kelasnya kompak tertidur.

Tingkah para siswa badung itu membuat pak guru Weno itu menghukum semuanya. Mereka disuruh ke luar ruangan. Tetapi dasar bandel, tidur tetap dilanjutkan. “Tetapi kami akhirnya diminta bangun dan pelajaran dilanjutkan, karena dia khawatir dimarahi kepala sekolah,” ungkapnya.

Satu pengalaman unik dibaginya kepada beberapa wartawan siang itu dan membuatnya tertawa terbahak-bahak. Pada sebuah kegiatan pekan olah raga seni atau lazim disebut porseni di SMA Rajawali, semua perwakilan kelas membuat bermacam kegiatan kreativitas.

Setiap kelas pun membuat bendera porseni yang memiliki ciri khas masing-masing. Karena ingin terlihat menonjol dan tampil beda, dibuatlah bendera berdasarkan hobinya dan beberapa teman sekelas lainnya, yakni bendera start balapan.

Padahal, kelas lainnya memilih membuat bendera yang lebih menggambarkan ciri khas pelajar, seperti gambar buku, obor, pena, atau garuda. “Saya pikir, yang gampang itu mengambil kain putih, kemudian membuat bendera start yang bergambar kotak-kotak hitam,” ujarnya.

Maka dibuatlah sebuah bendera yang tidak lazim mencerminkan kegiatan kesiswaan itu hingga pukul 03.00 dinihari. Sebagai ketua kelas, Syahrul bertanggung jawab menyelesaikannya untuk digunakan keesokan harinya.

Tiba-tiba, bendera yang sudah selesai dan siap digunakan untuk kegiatan yang dimulai pukul 06.00 itu terkena tumpahan cat. Bendera tidak dapat digunakan lagi. Waktu yang semakin mepet membuatnya mengambil inisiatif lain.

Sebuah seprei hitam berukuran berukuran 1,5×2 meter kemudian diikat ujungnya. Di tengahnya tertulis kelas III A 1 dan bendera itulah yang diarak ke tengah lapangan. “Tetapi akhirnya menjadi menarik dan menjadi sebuah kreativitas serta semangat,” katanya sambil tersenyum.

Prestasi akademik mantan Kabag Pemerintahan Pemkab Gowa pada 1987 itu tidak terlalu bagus, meskipun nilainya juga tidak anjlok. Diakuinya, sikapnya yang cukup “bandel” di sekolah, membuat juara kelas tidak pernah berada di tangannya.

Kebandelan itu muncul karena sifatnya yang tidak mau begitu saja ikut pada aturan. Uji coba seringkali dilakukannya untuk memastikan sesuatu itu benar atau salah. Hobinya yang sering mengikuti di beberapa kota, membuat predikat juara kelas seolah menjauh dari mantan Sekwilda Gowa tahun 1983.

Namun, kakek dari Andi Tenri Bilang Radisyah Melati ini terbilang cukup mengenal dunia tulis menulis. Syahrul yang pernah aktif menjadi penyiar radio, juga pernah menjadi pemimpin redaksi buletin mahasiswa Fakultas Hukum Unhas bernama Justisi.

Bakat jurnalis dalam dirinya teraktualisasi saat menjabat  Kepala Biro Humas Pemprov Sulsel periode 1993-1994. Sebuah surat kabar mingguan bernama Suara Celebes diterbitkannya, sebelum akhirnya menjadi Bupati Gowa dua periode.

Senakal-nakalnya masa remaja, didikan orang tua di rumah juga sangat membentuk pribadi kepemimpinan dalam dirinya. Masa sulit pun pernah dilaluinya, meskipun orang tua merupakan pejabat yang cukup terkenal.

“Dulu tentara cuma gaya, tetapi sebenarnya kehidupannya tidak sejahtera. Orang tua mengajarkan semua harus terlibat dalam urusan yang ada dalam rumah. Tugas dan tanggung jawab. Semuanya diberi peranan, ada yang mengepel, menimba air, hingga mencuci pakaian,” ungkapnya.

Pelajaran berharga yang terus diingatnya, kalau makan tidak boleh sendiri-sendiri, harus menunggu yang lain. Selain itu, makanan harus dibagi rata dan tidak boleh memperhatikan diri sendiri. “Kami juga diminta agar selalu melihat ke bawah, jangan selalu melihat ke atas,” ujarnya mengenang petuah HM Yasin Limpo.

2 thoughts on “Mengorek Masa Kecil Gubernur Sulsel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s