pendidikan

Madrasah Ibtidaiyah Radhiatul Adawiah, Sekolah Gratis di Pinggiran Kota Makassar

Rela Jual Perhiasan untuk Biayai Sekolah Gratis

TIDAK mudah meyakinkan keluarga tidak mampu dan kurang peduli terhadap pendidikan agar mau menyekolahkan anaknya. Gusmawati yang memelopori sekolah gratis di Kelurahan Sudiang Raya harus menyambangi satu rumah ke rumah lainnya.

RUMAH yang terbuat dari bahan batako tanpa cat pewarna menjadi sekolah bagi 107 murid Madrasah Ibtidaiyah Radhiatul Adawiah. Tak ada yang istimewa dari sekolah yang menampung anak dari keluarga miskin itu.

Sebuah kamar yang “disulap” menjadi ruang kelas hanya berisi 10 bangku dan meja. Pada dinding ruangan itu terpasang papan tulis dan beberapa gambar peraga. Selain itu, tak ada lagi. Tidak terlihat ada meja guru, apalagi lemari.

Ada tiga kamar yang dijadikan ruang kelas di sekolah yang sangat sederhana itu. Pada ruangan untuk kelas V dan VI, muridnya bahkan harus duduk lesehan. Sekolah yang didirikan Gusmawati itu menjadi istimewa, karena muridnya digratiskan untuk belajar.

Hatinya tergerak ketika melihat begitu banyak anak yang tidak bersekolah di sekitar tempat tinggalnya. Alasan para orangtua bermacam-macam. Lebih banyak pada faktor ekonomi.

Anak-anak yang seharusnya berada di bangku sekolah menerima ilmu, seringkali dilihatnya hanya berkeliaran. Bahkan, ada beberapa di antaranya telah bekerja untuk mencari uang sendiri dengan cara menjadi pemulung.

Melihat kondisi yang sangat memiriskan itu, Gusmawati lantas mengajak anak-anak untuk bersekolah. “Kalian mau belajar di sekolah? Tidak perlu membayar. Kalian cukup datang untuk belajar saja,” ajaknya kepada beberapa pemulung yang ditemuinya.

Alumni Fakultas Tarbiyah UMI, yang sebelumnya telah mengajar di sebuah yayasan pendidikan sebagai guru honor, akhirnya berinisiatif mendirikan sekolah gratis 2006 silam. Saat itu, dia belum tahu bentuk sekolah yang akan didirikannya. “Yang penting ada sekolah yang menampung anak keluarga tidak mampu itu,” katanya.

Mendirikan sekolah gratis memang tidak mudah. Butuh pengorbanan, tetapi bagi Gusmawati sebuah keikhlasan. Beberapa perhiasan emas miliknya, rela dijualnya untuk membeli peralatan dan biaya operasional sekolah.

Uang hasil penjualan perhiasannya terkumpul sekira Rp 50 juta. Mobiler sekolah seperti bangku 10 unit, papan tulis, serta beberapa peralatan lainnya, lalu dibelinya. Selain memanfaatkan rumahnya sebagai sekolah, dia juga meminjam sebuah rumah yang lama tidak terawat di samping kediamannya.

“Bagi saya dan keluarga, cukuplah untuk berteduh. Tidak perlu hidup mewah. Kesederhanaan itu yang terbaik. Yang penting, anak yang tidak mengenyam bangku pendidikan, harus bersekolah. Itu impian saya,” tutur kepala sekolah sekaligus Yayasan Ummu Kaltsum itu.

Wanita kelahiran 1969 itu juga mengajak beberapa rekannya untuk mengajar secara sukarela di sekolah yang didirikannya. Hingga saat ini, jumlah pengajar yang mendidik 107 murid dari kelas I sampai VI sebanyak empat orang.

Biaya operasional untuk menjalankan sekolah gratis itu diperolehnya dari upayanya menyisihkan sebagian pendapatan suaminya yang bekerja di kantor Badan Pertanahan Nasional. Yayasan Radhiatul Adawiah yang saat ini menjadi induk sekolah itu juga telah membantu membayarkan honor tiga guru sebesar Rp 900 ribu/bulan.

Bantuan buku-buku bekas yang masih dapat digunakan, juga diperoleh dari beberapa rekan seprofesinya. Salah seorang guru SD IKIP Gunung Sari, kata dia, banyak membantu memberikan buku pelajaran.

“Kami juga pernah memperoleh bantuan buku dari Departemen Agama. Ada juga bantuan dari orang lain, kemudian kami belikan buku kisah rasul. Bantuan dari pemerintah, sepertinya sulit sekali. Apalagi, bentuk sekolah kami yang hanya seperti ini,” katanya.

Ilmu yang diajarkan bukan sekadar baca tulis. Budi pekerti dan keikhlasan menjadi penekanan di sekolah yang menampung anak kurang mampu itu.

LIMA murid perempuan duduk di lantai sebuah ruangan yang menjadi kelasnya. Dengan bimbingan seorang guru perempuan bernama Andi Tenri Ampa, mereka belajar huruf Hijaiyah.

Pelajaran ilmu Agama Islam mendominasi sekolah gratis dengan biaya sukarela dari pendirinya itu. Menurut Tenri, hampir 75 persen dari seluruh pelajaran yang diterima para murid, merupakan ilmu tentang keagamaan.

Penerapan kurikulum berbasis keagamaan itu cukup suksek merubah perilaku beberapa muridnya yang sebelumnya berperilaku kurang terarah. Salah satunya, para murid telah mengamalkan salat dan membaca Alquran.

Pendiri Yayasan Ummu Kaltsum, Gusmawati merasakan berkah yang teramat besar, ketika mengetahui salah seorang anak didiknya juga turut merubah sikap orangtuanya. “Bapaknya juga sudah Salat Jumat ketika melihat anaknya ke masjid. Padahal, orangtuanya sering bermabuk-mabukan,” ungkapnya.

Gusma mengaku, beberapa anak yang diajaknya untuk bersekolah, juga ditemukannya berjudi di sekitar tempat tinggalnya. Anak-anak yang semula menolak untuk bersekolah itu akhirnya mau, dengan bujukan permainan yang lebih beragam.

Mereka yang sudah terbiasa memulung, tidak dihentikan aktivitasnya begitu saja, setelah mulai mengenal bangku sekolah. “Tetapi kami selalu mengajarkan agar hanya mengambil barang yang sudah dibuang dan dilakukan setelah sepulang sekolah,” tutur wanita yang memilih beralih dari pedagang sarung sutera dan menjadi pengajar itu.

Mendidik anak yang terbiasa dari lingkungan yang kurang berpendidikan bukanlah perkara mudah. Namanya anak-anak, mereka bermain, tetapi kadang berakhir dengan perkelahian. Masalah menjadi bertambah rumit, jika orang tua masing-masing datang ke sekolah mengeluarkan makian.

Pihak sekolah terpaksa turun tangan dan meminta agar tidak memperpanjang masalah anaknya. Apalagi jika sampai memberhentikan anaknya dari sekolah. “Soalnya, saya bertekad semua anak yang tidak sekolah di kompleks ini bisa mendapat pendidikan,” kata Gusma.

Aktivitas belajar mengajar di sekolah gratis itu tidak hanya berlangsung sejak pagi hingga siang hari. Mulai pukul 19.00 para murid kembali berkumpul untuk mengaji Alquran selama beberapa jam.

Bukannya murid yang membayar, pengelola sekolah itu justru memberikan bantuan peralatan, misalnya mukena, kopiah, hingga sajadah. Bantuan yang dibagikan ke murid, juga biasanya diperoleh dari kerabat Gusmawati yang prihatin melihat kondisi para anak-anak dari keluarga tidak mampu itu.

Pengelola sekolah juga berencana membuka usaha merajut yang keuntungannya akan digunakan untuk operasional sekolah. “Lumayan, sekaligus ikut memberdayakan ibu-ibu,” katanya.

Sejak dibuka 2006 silam, dari beberapa anak putus sekolah yang diajak, sudah ada tujuh murid yang telah menamatkan pendidikan. Memang, masih berijazah paket A. Tetapi, juga dapat digunakan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang tingkat SMP.

Kendati fasilitas sekolah gratis tanpa bantuan pemerintah itu hanya seadanya, tetapi pengelolanya tidak ingin kualitasnya juga ala kadarnya. Tenaga pengajarnya sering diikutkan pada kegiatan pelatihan peningkatan mutu pendidik.

“Biarlah orang memandang sekolah ini hanya mirip kandang. Tetapi kualitasnya harus diperbaiki. Kami berprinsip, guru yang mengajarkan ilmu yang tidak berkualitas juga berdosa. Mudah-mudahan nanti, ada guru PNS yang mengajar di sekolah ini,” harapnya. (**)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s