Reportase

Tragedi Tenggelamnya KM Teratai Prima

Pengalaman Korban Tenggelamnya KM Teratai Prima

Selamat Berkat Tandan Pisang dan Rumpon

KAPAL oleng diterjang ombak. Teriakan meminta pertolongan membuat suasana gaduh. Beberapa penumpang memilih lompat ke laut lepas. Sebagian lainnya, menyusuri bagian kapal yang telah terbalik dan perlahan tenggelam.

Laporan: Harifuddin, Majene

KEPANIKAN luar biasa dirasakan penumpang KM Teratai Prima tujuan Samarinda, Minggu, 11 Januari, sekira pukul 04.00 dinihari. Mereka berlarian di lorong dan geladak kapal yang mulai oleng ke kiri untuk menyelamatkan diri.

Tidak sedikit yang saling bertabrakan saat itu. Semua penumpang yang pagi-pagi buta itu tersadar akan maut yang mengancam berteriak meminta pertolongan. Teriakan itu justru semakin menambah kekalutan penumpang lainnya.

Adi, salah seorang penumpang asal Polewali Mandar yang selamat dari maut, mengaku masih tertidur saat kapal oleng. Pria berumur 20 tahun itu tersadar ketika sebuah karung beras jatuh tepat di sampingnya.

Teriakan meminta pertolongan dari penumpang lainnya membuatnya ikut panik. Ketika kapal oleng ke kiri, dia langsung berlari ke sisi kanan untuk menyelamatkan diri. Kejadiannya cukup cepat dan kapal sudah terbalik.

“Saya bersama beberapa penumpang lainnya ke haluan kapal karena bagian belakang sudah mulai tenggelam. Tetapi ombak besar menerjang, sehingga kami terlempar dari kapal yang juga sudah mulai tenggelam,” ungkapnya.

Plastik berisi kaleng yang berada di dekatnya pun diraihnya agar tetap mengapung sambil berenang. Namun, kaleng itu tak mampu menahan berat tubuhnya. Beruntung dia menemukan sebuah jeriken berisi minyak tanah.

Lalu dikeluarkannya semua isinya sambil tetap berenang. Jeriken itulah yang dijadikan pelampung dan terus bertahan. Ternyata, dia tidak sendiri diombang-ambingkan ombak setinggi sekira tiga meter di laut lepas itu.

Tak jauh dari tempatnya, seorang pria yang belakangan diketahuinya bernama Iskandar, juga berjuang melawan maut. Dia bertahan agar tidak tenggelam dengan menggunakan selembar papan bangku penumpang.

Kedua korban kapal tenggelam itu terus bertahan dari terjangan ombak hingga sekira pukul 17.00, melintaslah sebuah kapal pengangkut kayu di dekat mereka. Dengan bersusah payah, teriakan kedua orang itu akhirnya terdengar dan berhasil diselematkan dan dibawa ke Parepare.

Kerasnya perjuangan agar tetap bertahan hidup di tengah laut lepas dengan ombak yang ganas, juga dirasakan Suardi,  korban lain yang selamat. Selama satu hari satu malam, dia berjuang menahan dingin dan lapar.

Pria asal Palopo yang baru saja memanfaatkan libur tahun baru di tanah kelahirannya itu bertahan agar tidak tenggelam dengan mengandalkan dua tandan pisang. “Kaki terus saya gerakkan, sedangkan tangan memeluk tandan pisang,” katanya.

Beratnya celana jins dan baju yang dipakainya membuatnya nyaris tenggelam. Dalam kekalutan, masih dipikirkannya untuk melepas baju dan celananya hingga yang tersisa hanya pakaian dalamnya.

Kelelahan telah dirasakannya hingga membuat kedua kakinya dirasakan telah keram. Rasa putus asa menghinggapinya dan nyaris membuatnya melepaskan tandan pisang yang terus didekapnya.

“Tiba-tiba saya melihat ada burung yang melintas di kepala saya dan membuang benda berwarna putih. Tidak lama, sekitar lepas magrib, saya melihat rumpon ikan. Karena terlalu gembira, tandan pisang langsung saya lepas dan berenang menuju rumpon,” bebernya.

Padahal saat itu, dia sangat haus dan kelaparan. Air asin yang terminum saat berenang makin mengeringkan tenggorokannya. Semua tenaga untuk bertahan, dirasakannya telah hilang bersamaan dengan rasa dingin yang menusuk tulang.

Rasa lelah dan kantuk yang menyerang membuatnya tertidur di atas rumpon ikan milik nelayan. Namun, tidurnya yang sempat nyenyak tak berlangsung lama. Rasa dingin semakin menjadi ketika hujan mengguyur.

Ditariknya daun kelapa yang ada di rumpon itu sekadar menahan derasnya hujan dan ombak yang menerjang tubuh yang hanya dibalut pakaian dalam itu. “Air hujan yang menetes saya tampung dengan tangan kiri untuk jadi air minum. Tangan kanan saya tidak lepas dari tali rumpon,” tuturnya.

Ketika pegangannya mengendur, diyakini tubuhnya akan terhempas dan menjauh dari rumpon tersebut. Seluruh tubuhnya dirasakan telah sakit. Air laut masuk ke telinga, dan hidung.

Semangatnya untuk tetap bertahan hidup semakin tumbuh ketika didengarnya suara mesin kapal berada di dekatnya saat fajar mulai menyingsing. Rasa gembira yang sangat besar membuatnya mampu berdiri dan memanggil nelayan di atas kapal yang berada di dekatnya.

Namun kesabarannya lagi-lagi harus diuji. Lambaian tangan nelayan disangkanya pertanda penolakan. “Ternyata saya diminta untuk bersabar. Nelayan di atas kapal itu mendekat dan menyelamatkanku,” katanya sambil meringis menahan sakit.

Rasa laparnya langsung hilang ketika secangkir teh hangat pemberian Taju, sang nelayan penolong masuk ke lambungnya. “Saya sudah sempat berpikir, tidak mungkin lagi bisa hidup. Tetapi Tuhan berkata lain dan mengirim orang yang menolong saya,” katanya, senang.

Pengalaman Rusdi, warga Desa Silei, Kecamatan Bakaru, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, juga tidak kalah mengharukan. Saat kapal mulai oleng ke kiri, dia langsung terjun ke laut yang berair dingin itu.

Saat melompat dari kapal, dia masih berupaya berenang dan membantu penumpang lainnya yang terapung ke atas sekoci.
Sayang, pria yang masih berusia 18 tahun itu justru tidak tertampung di atas sekoci. Terpaksa, ditinggalkannya sekoci yang diharapkan dapat menyelamatkan nyawanya itu dan berenang dengan bantuan dua tandan pisang yang juga terapung di dekatnya.

Setelah berenang selama sehari semalam, pria yang hanya mengenyam bangku pendidikan sekolah dasar itu akhirnya menemukan rumpon nelayan. “Saya hampir mati, seandainya tidak ada rumpon,” katanya usai mendapat perawatan di RSUD Majene, Senin, 12 Januari.

Rusdi ke Samarinda bermaksud bekerja di sebuah perusahaan pertambangan minyak bersama 40 kerabatnya yang lain. Saat melompat dari kapal, dia masih sempat melihat kerabatnya itu juga ikut melompat.

Meskipun telah mendapat perlindungan rumpon, petani kopi di kampungnya itu baru yakin telah selamat setelah ditemukan nelayan Senin, 12 Januari. “Waktu melihat ada kapal nelayan, saya langsung berteriak, tolong……. tolong…..,” katanya sambil tersenyum.

Dikepung Mayat, Jasad Bayi Dikira Boneka

Bertahan hidup sendiri di tengah laut dengan segala keterbatasan, membuat semua upaya harus dilakukan. Termasuk meminum air seni sendiri untuk menahan dahaga menanti pertolongan.

Dapat tetap hidup di tengah rasa lapar dan dingin yang menusuk menjadi berkah tak ternilai bagi Marten, warga asal Mangkupalas, Samarinda. Tiga malam terapung dan diombangambingkan arus deras di lautan luas.

Semua penumpang yang ingin selamat dari maut ketika kapal perlahan tenggelam, berupaya menyelamatkan diri masing-masing. Rebutan pelampung dengan kapten kapal pun terpaksa dilakukannya agar tidak mati tenggelam ketika terjun bebas di lautan.

“Tidak ada upaya awak kapal menyelamatkan penumpang. Kejadiannya berlangsung sangat cepat. Kalaupun ada sekoci atau pelampung yang turun, itu upaya penumpang,”katanya usai mendapat perawatan tim medis RSUD Majene, Selasa, 13 Januari.

Marten juga memperkirakan masih banyak penumpang yang terperangkap di dalam kabin penumpang. Menurutnya, jumlah barang yang diangkut kapal tersebut cukup banyak. Muatan yang dibawa antara lain buah jeruk, pisang dan beras yang diperkirakannya sekira 100 ton.

“Palka atas dan bawah penuh beras. Palka tiga diisi  penumpang dan empat untuk anak buah kapal. Saya tidur di ruang ABK. Wakti mesin sudah oleng, mesin sudah dimatikan. Air laut juga sudah masuk di kapal,” tuturnya.

Marten merupakan penumpang KM Teratai Prima yang ditemukan selamat oleh nelayan Desa Detengdeteng, Majene, kemarin. Dia ditemukan selamat bersama seorang penumpang lainnya, Robertus Rahman di atas sekoci.

Sekoci karet itu ditemukannya setelah bertahan terapung selama satu hari satu malam menggunakan pelampung bulat berwarna putih. Marten menduga sekoci yang ditemukannya terapung adalah bekas penumpang lain yang telah selamat.

Puluhan mayat dilihatnya telah bergelimpangan di sekitarnya. “Saya sangat kaget. Mayat yang sudah terapung itu terpaksa saya singkirkan agar bisa bergerak,” tuturnya menahan sakit.

Kekagetannya semakin bertambah ketika dia menyentuh sebuah benda yang dikiranya boneka. Betapa terkejutnya dia, ketika benda yang disangkanya boneka ternyata sesosok bayi yang diperkirakannya berusia sekira lima bulan.

Semua makanan yang terapung dan melintas di depannya, diraihnya sekadar mengganjal perutnya yang telah keroncongan. Makanan yang telah basi maupun basah terkena air laut, sudah tak dihiraukannya.

Marten memutuskan meminum air seninya sendiri ketika telah berada di sekoci karet, karena tidak menemukan air minum di sekitarnya. Meminum air laut dinilainya sangat tidak memungkinkan.

“Minum air laut berbahaya. Air laut juga pantang untuk diminum bagi pelaut seperti saya ini. Makanya saya memutuskan menampung air kencing sendiri untuk diminum. Itu saya lakukan empat kali. Seandainya waktu itu hujan turun,” katanya.
 
Pria berusia 44 tahun kelahiran Tana Toraja itu adalah pelaut yang bekerja di sebuah kapal milik PT Total Indonesia. beruntung, kemampuan bertahan hidup di tengah kondisi seperti itu diketahuinya. Kalau mau tidak lelah, katanya, badan jangan terlalu digerakkan jika sudah menggunakan pelampung.

Setelah beberapa jam berada di atas sekoci, dari jauh dilihatnya seseorang yang sedang berenang dengan bantuan tandan pisang. Rasa kemanusiaannya mendorongnya untuk membantu pria yang sedang berjuang melawan maut itu.

Tandan pisang yang dipeluknya dan dijadikan sebagai pelampung selama berhari-hari itu langsung dibuangnya. Di beberapa bagian tubuh Robertus telah lecet akibat air asin dan gesekan dengan tandan pisang.

Ditariknya pria yang belakangan diketahuinya bernama Robertus Rahman. Pemuda yang masih berusia 18 tahun itu berencana ke Samarinda untuk menjadi pekerja pada proyek pemboran bersama 70 warga lainnya asal Kabupaten Pinrang.

Keduanya terus bersama di atas sekoci karet hingga melihat adanya kapal nelayan yang tak jauh dari mereka. Nelayan inilah yang membuat hidup mereka menemui titi terang hingga kemudian dibawa ke rumah sakit.

Rasa haru tak dapat ditahan oleh Robertus ketika melihat ayah dan kakenya yang langsung memeluknya. Air mata pun menetes pertanda bahagia dapat bertemu kembali dengan sanak familinya. (**)
Perairan Baturoro di Mata Nelayan Majene

Mewaspadai Pusaran Angin Hingga Angin Janda

MENYEBUT nama Perairan Batu Roro, keangkeran terbesit di pikiran nelayan Majene. Cerita mistis pun mengiringi peristiwa terbalik hingga tenggelamnya kapal di perairan itu.

Laporan: Harifuddin, Majene

NELAYAN di Majene meyakini beberapa kilometer dari bibir pantai Tanjung Batu Roro tidak aman untuk aktivitas mencari ikan. Selain gelombang yang cukup besar dan tinggi, pusaran air juga sering terbentuk di perairan tersebut.

Karuddin, warga Lingkungan Cilallang, Kelurahan Pangali-ali mengatakan, ikan berbagai jenis memang sangat banyak di sekitar perairan itu. “Tapi tidak banyak yang berani cari ikan karena ombak di sana sangat besar,” katanya.

Nelayan, kata dia, lebih memilih melaut di perairan Malunda, Pamboang, Rangas, atau lebih memilih ke perairan Mamuju. Rumpon ikan juga banyak dipasang nelayan di sekitar perairan itu.

Menurutnya, pusaran air itu terbentuk akibat pertemuan arus dari barat yang bertemu dengan arus balik dari timur di perairan Majene. Kondisi ini juga yang membuat ombak mencapai ketinggian hingga 4-5 meter meskipun angin tidak bertiup kencang.

Mustari, nelayan Majene lainnya memiliki pengalaman mistik di sekitar perairan itu. Dia mengaku pernah melihat sesuatu yang menyerupai tumpukan kayu mirip rumah. “Banyak juga nelayan yang cerita pernah lihat kayak mesjid di laut itu,” bebernya.

Setiap nelayan yang melintas di perairan itu tidak pernah berani untuk sekadar buang air kecil di sekitar perairan itu. Pantangan itu harus dilakukan jika tidak ingin menemukan bahaya di perjalanan.

Perairan Batu Roro itu merupakan jalur pelayaran internasional yang cukup ramai dilalui kapal besar maupun kecil. Namun, untuk kapal nelayan yang melintas dari arah Mamuju ke Majene maupun sebaliknya, biasanya memilih berlayar sekira 20 meter dari pantai.

Ganasnya perairan Majene, khususnya di sekitar Tanjung Batu Roro juga diyakini mantan awak kapal KM Fajar Ilahi dan Fajar Utama, Mustakim. Pria yang kemudian beralih menjadi sopir salah seorang pejabat di Sulawesi Barat itu mengatakan, perairan yang ganas juga terdapat di Tanjung Alo, perbatasan Mamuju-Majene.

“Banyak orang menyebut Tanjung Batu Roro di Kecamatan Tubo Sendana, Majene adala “suami”. Sedangkan istrinya, Tanjung Alo di perbatasan Majene dan Mamuju. Tetapi yang paling berbahaya dan ganasa adalah Tanjung Batu Roro,” katanya.

Pelaut dan nelayan memiliki kebiasaan jika mengarungi perairan tersebut. Selain melihat tanda-tanda bahaya berupa pusaran air dan ombak yang tinggi, semua kapal yang melintas juga tidak lupa membuang telur ayam kampung.
Kegiatan itu telah turun temurun dilakukan para nelayan. Jika arus dan ombak sedang besar di perairan itu, katanya, biasanya nelayan merapat di perairan Lombo’na, Kecamatan Tammeroddo, Sendana Majene.

“Saking besarnya ombak di jalur pelayaran itu, kami biasa terseret. Seharusnya kapal berlabuh di Pamboang, tetapi justru dapat berlabuh di Banggae. Kalau lagi sial, tidak ada bintang dan perairan terlihat gelap, kompas biasanya tidak berfungsi. Kami hanya menggunakan naluri pelaut,” bebernya.

Selain arus dan gelombang yang besar di perairan Majene, para nelayan juga memiliki waktu tertentu yang cukup berbahaya untuk aktivitas melaut. Pada Juli hingga Agustus, nelayan Majene mengenal angin janda.

Biasanya nelayan Majene tidak berani mengambil resiko untuk melaut terlalu jauh pada bulan tersebut. “Jangan pernah melaut terlalu jauh dari pantai saat angin janda bertiup,” katanya.

Apalagi jika melaut di Perairan Batu roro pada bulan tersebut. Jika tidak memiliki nyali yang besar atau tidak berhati-hati, maka bersiaplah istri di rumah menjadi janda. Penumpang kapal yang terbalik, katanya, jarang yang selamat.

Saking seringnya angin janda yang bertiup di perairan itu menelan korban, sebuah lagu yang bercerita tentang angin itupun tercipta. Sudah banyak istri nelayan yang harus kehilangan suami akibat angin janda itu.

Angin janda atau para nelayan juga sering menyebutnya angin kapuakang adalah angin yang arahnya dari arah barat daya. Angin ini cukup kencang embusannya dan sering disertai gelombang yang ganas pada Januari hingga Maret.

Pada bulan-bulan tersebut, tidak banyak nelayan yang melaut hingga melebihi satu kilo dari bibir pantai. Apalagi jika sudah disertai dengan hujan deras dan angin yang bertiup kencang.

Komandan Pos Angkatan Laut (Posal) Mamuju, Marlion mengatakan, Kepulauan Balabalakang yang termasuk wilayah Kabupaten Mamuju membentuk gugusan karang dangkal. Ekor gugusan itu hampir mendekati Tanjung Batu Roro.

Di gugusan karang kepulauan itu, ombak dan arusnya sangat besar. “Nelayan tradisional menganggap wilayah perairan itu sangat angker, sehingga biasanya orang suka lempar telur dengan alasan agar terhindar dari bahaya,” tuturnya.

Arus dari arah ekor gugusan karang Pulau Ambo akan bertemu dengan arus balik dari daratan Majene. Pertemuan arus itulah yang menyebabkan pusaran yang sangat besar karena disertai arus balik yang empasan ombaknya, misalnya di sekitar Pelabuhan Palipi dapat mencapai 10-20 meter.

Bahkan saking besarnya arus, kadang menyebabkan bagian buritan kapal dan propellernya terangkat dan menyebabkan mesin tiba-tiba berhenti berputar. Kondisi ini dinamakan black out.

Beberapa nakhoda kapal feri, ungkapnya, mengaku sering mengalami black out ketika melewati perairan itu. Kapal besar dengan draf sekira enam meter, tidak terlalu mengalami masalah black out seperti itu.

Semua pelayaran yang akan menuju Kalimantan tidak dapat langsung melewati gugusan karang dangkal tersebut. Kapal yang berlayar harus melintas di Perairan Mamuju sebelah utara Kepulauan Balabalakang yang berlaut dalam serta bebas dari gugusan karang.

Cuaca yang sering mengalami perubahan secara ekstrem juga sangat memengaruhi tekanan angin dan gelombang di sekitar perairan ini. Perubahan angin secara tiba-tiba juga dapat menyebabkan perubahan gelombang menjadi besar.

Bila melihat peta laut, gugusan karang itu menyempit dan mendekati daratan Majene di sebelah barat Tanjung Batu Roro. Penyempitan oleh gugusan karang itu mirip jam matahari yang makin mengecil di bagian tengah.

Di antara gugusan karang dan daratan Kabupaten Majene itu terdapat alur laut kepulauan indonesia atau ALKI 2. Alur ini merupakan jalur pelayaran internasional. Semua kapal tidak boleh berhenti di jalur ini.

Kecelakaan transportasi laut di Perairan Majene sudah sangat sering terjadi. KM Mutiara Indah tenggelam di perairan ini 19 Juli 2007 silam. Adapula KM Fajar Mas yang juga tenggelam di Pantai Tanjung Rangas, 20 Juli 2007.

Tidak lama berselang, kapal penangkap ikan Sumber Awal juga mengalami kecelakaan di perairan Banggae Timur, Majene, sehari sebelum HUT kemerdekaan RI, 2007 lalu. Berselang setahun kemudian, sebuah kapal pengangkut bahan kebutuhan pokok dari Palu ke Makassar juga tenggelam di perairan Majene. (**)

Penumpang tak Mendengar Seruan Penyelamatan

MAJENE — Olengnya KM Teratai Prima sebelum akhirnya tenggelam sangat mengejutkan para penumpang. Apalagi, peringatan tentang kondisi bahaya tidak didengar oleh penumpang, sehingga menimbulkan kepanikan.

“Memang ada beberapa penumpang yang bilang, jangan panik. Tetapi semua orang berlari menyelematkan diri. Tidak ada peringatan bahwa kondisi kapal tidak stabil waktu diterjang ombak,” ungkap Rusdi, salah seorang korban selamat.

Akibat kepanikan semua penumpang, kata dia, tidak ada lagi yang memikirkan untuk mencari dan menggunakan pelampung. Sekoci untuk penyelamatan hanya beberapa yang diturunkan.

Rusdi mengaku sempat membantu beberapa orang yang menjadi timnya dalam proyek pemboran minyak di Samarinda. Dalam sekoci tersebut, ungkapnya, ada sekitar 25 orang. Rusdi berharap, semua kerabatnya selamat mencapai daratan.

Tidak terdengarnya imbauan peringatan dari awak kapal juga diungkapkan salah seorang penumpang yang selamat, Adi, saat dimintai keterangannya oleh aparat Polsek Majene. “Sudah kacau sekali suasana di kapal saat itu. Semua berusaha menyelamatkan diri sendiri,” katanya.

Dia juga mengaku tidak melihat adanya sekoci yang diturunkan dari kapal untuk menampung penumpang. Peristiwa terbaliknya kapal yang berlangsung sangat cepat, kata dia, sudah tidak memungkinkan untuk mencari pelampung maupun sekoci.

Koki KM Teratai Prima, Ahmad, mengaku terbangun pukul 02.00 dinihari untuk memasak nasi. Satu dandang nasi yang sudah masak, langsung tertumpah ke lantai, ketika perahu sudah oleng.

“Kompor langsung saya matikan untuk menghindari terbakarnya kapal. Saya langsung naik ke kapal bagian atas. Sekoci tidak sempat diturunkan karena penumpang sudah kalang kabut. Awak kapal saat itu 17 orang,” kata bapak dua anak yang masih ditahan di Kantor Polres Majene, kemarin.

Ahmad memperkirakan masih banyak penumpang yang tertidur di ruang kabin penumpang saat kapal mulai oleng dan terbalik. Kapal dirasakannya hanya oleng sebanyak tiga kali sebelum akhirnya terbalik setelah dihempas ombak. Saking besarnya ombak yang menerjang, katanya, air laut masuk ke dapur. (rif)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s