Komunitas

Keluhan dari Desa Seberang

Desa Betteng Terisolasi Ketika Hujan

AKSES yang sulit ke kota kecamatan dan daerah lainnya harus dialami penduduk Desa Betteng, Kecamatan Pamboang, Majene saat hujan deras hujan mengguyur. Warga umumnya memilih berdiam di desanya, daripada bepergian.

Tidak adanya fasilitas jembatan penyeberangan menjadi salah satu kendala yang dihadapi warga. Padahal, desa ini dihuni oleh sekira 180 kepala keluarga dengan jumlah penduduk mencapai 1.500 jiwa.

Mereka hidup terisolasi ketika hujan deras turun dan mengakibatkan air di Sungai Taduang cukup tinggi dan tak dapat diseberangi. “Ada enam dusun terisolasi kalau air sungai tinggi, apalagi kalau sampai meluap,” ungkap Kepala Desa Betteng, Asrif.

Desa Betteng yang berada di kawasan pegunungan Majene terdiri dari enam dusun, yakni Dusun Belia, Ratte, Adolang, Galung, Timbogading, dan Timbogading Utara. Jembatan menjadi impian ratusan warga di enam dusun itu, meskipun hanya berkonstruksi jembatan gantung.

Jika hendak menuju ibukota kecamatan untuk sekadar berbelanja kebutuhan sehari-hari atau menjual hasil bumi di Pasar Pamboang, warga harus menunggu air sungai surut. Tak ada alur alternatif yang dapat mereka lalui.

Menurut Asrif, pembangunan jembatan pernah diusulkan melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Tetapi, hingga saat ini, usulan tersebut belum juga terealisasi.

Jembatan ini dinilai sangat vital untuk menunjang perekonomian masyarakat. Betapa tidak, mereka cukup kewalahan untuk berinteraksi atau menjual hasil bumi. Penduduk di desa ini umumnya bermata pencarian sebagai petani.

Umumnya, warga Desa Betteng mengolah kelapa dalam menjadi kopra. Adapula warga yang bertani dan mengandalkan tanaman kakao sebagai sumber pendapatan. Sebagai tambahan penghasilan, sejumlah warga juga beternak.

Fasilitas jembatan yang belum terbangun juga berpengaruh terhadap kelangsungan pendidikan warganya. Anak usia sekolah di desa ini harus berangkat sekolah di ibukota kecamatan pagi-pagi buta. “Kadang, mereka mandi di rumah warga sekitar sekolahnya,” ungkap Farhan, salah seorang warga Majene.

Menurut Asrif, upaya relokasi warga pernah dilakukan ke kawasan pemukiman lain yang berjarak sekira tiga kilometer. Pemukiman itu sudah tidak menyeberang sungai. Tetapi relokasi ini terkendala biaya untuk membangun rumah. “Jadi belum semua warga bisa pindah,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s