Reportase

Nelayan Tradisional Makin Kolaps

SEBUAH kapal nelayan tradisional berwarna putih dan pada lambungnya tertera nama Nurul, merapat di dermaga Kali Mamuju sekitar pukul 10.35 Wita, Kamis, 8 Mei. Kapal yang digunakan 13 nelayan Kasiwa ini tidak memasang tanda berupa bendera di bagian haluan kapal.

Bagi nelayan di Mamuju, bendera yang tidak terpasang, pertanda tidak ada ikan tangkapan yang diperoleh. Kondisi pulang melaut tanpa hasil tangkapan menggunakan jala di rumpon masing-masing, sudah menjadi hal yang biasa dialami. Jika beruntung, sekelompok nelayan itu hanya pulang membawa ikan hasil pancingan yang jumlahnya tak seberapa. Padahal, biaya yang dikeluarkan untuk melaut tidak sedikit.

Udin, 45, salah seorang nelayan yang baru turun dari kapal Nurul mengungkapkan, dana yang digunakan untuk melaut minimal Rp500 ribu per hari. Dana ini digunakan membeli solar untuk mesin kapal, minyak tanah untuk obor, dan bensin untuk genset penerangan di kapal.

Solar yang dibeli untuk persiapan melaut sehari semalam minimal 30 liter yang dibeli Rp5.000 per liter. Agar beban pengeluaran sedikit berkurang, para nelayan membeli solar yang telah dicampur minyak tanah dan oli gardan atau oli jenis SAE 90. Harga solar campur jenis ini Rp4.500 per liter. “Kita bisa berhemat Rp500 per liter. Tapi, siap-siap juga mesin cepat rusak,” kata Udin yang tinggal di tinggal di Lingkungan Kasiwa Timur, Kelurahan Binanga, Mamuju.

Informasi rencana kenaikan BBM yang baru didengarnya saat Fajar menemuinya, langsung membuat raut mukanya menjadi muram. Udin dan Gani mengaku baru mengetahui informasi itu. Mereka sama sekali belum memiliki bayangan langkah yang harus ditempuh untuk mengurangi kerugian jika BBM benar-benar dinaikkan.

“Kalau BBM juga naik, pasti kehidupan kami semakin hancur. Ini saja kadang kami pulang tidak membawa hasil tangkapan. Hanya ikan pancing saja yang diambil masing-masing nelayan untuk dirinya sendiri atau untuk dijual. Dapat ikan sekarang susah. Banyak rumpon yang sudah diputus. Keluar melaut, untung-untungan,” keluh Udin.

Kenaikan harga BBM ini akan memicu kehidupan nelayan semakin terpuruk. Mereka berbeda dengan petani lainnya atau pedagang yang dapat menaikkan harga jika terpengaruh harga BBM. Nelayan tidak memiliki standardisasi harga, sehingga harga ikan kadang anjlok hingga ke titik terendah. Ikan yang diperoleh dijual kepada pedagang pengumpul di Pusat Pendaratan Ikan (PPI) Kasiwa

Gani menuturkan, jika sekitar lima kapal nelayan memperoleh tangkapan yang cukup banyak, maka harga ikan jenis Cakalang atau Layang sangat murah, yakni hanya Rp300-Rp500 per ekor. Kalau tangkapan nelayan sedikit, harganya kadang lebih mahal, berkisar antara Rp1.000-Rp1.300 per ekor. Pendapatan tidak jauh berbeda. Bahkan, kerugian seringkali harus mereka alami.

“Kalau kelompok nelayan kami yang menggunakan satu perahu sudah tidak punya modal untuk melaut, kami pinjam lagi sama punggawa yang punya kapal atau ke pengecer BBM. Utang sampai Rp5 juta per bulan itu sudah sering terjadi dan dibayar kalau lagi banyak hasil. Kayak gali lubang tutup lubang,” tuturnya dengan senyum kecut.

Kenyataan ini harus mereka hadapi. Kata Udin, meskipun harus merugi, mereka tetap melaut karena itu itulah satu-satunya keahlian yang mereka miliki. Salah satu harapan yang mereka titipkan kepada pemerintah adalah didatangkannya investor industri pengalengan ikan agar ikan tangkapan dibeli dengan harga standar. “Kami juga mau kehidupan yang lebih baik. Masa’ miskin terus,” kata Udin berharap.

Bantuan Tunai Langsung (BLT) seperti yang pernah diterima tahun 2005 lalu, tidak mampu menutupi kerugian yang diderita karena kenaikan harga BBM. Dana tunai itu, dinilai para nelayan, hanya sedikit pengobat luka dari kemiskinan yang menjepit dari berbagai arah. Mereka tidak hanya bergelut dengan kenaikan harga BBM, tetapi juga dengan harga kebutuhan pokok lainnya yang pasti juga bakal melambung tinggi.

Kesulitan yang bakal dialami nelayan pascanaiknya harga BBM tidak boleh didiamkan begitu saja oleh pemerintah provinsi maupun kabupaten. Pemerintah harus segera mengambil langkah kebijakan lokal untuk membantu nelayan keluar dari keterpurukan.

Anggota DPRD Sulbar, Kalvin Kalambo, mengemukakan, paket kebijakan itu tidak hanya membuat nelayan survive atau bertahan hidup, tetapi kebijakan secara menyeluruh. Dinas Perikanan dan Kelautan Sulbar seharusnya telah menyiapkan langkah strategis untuk mengantisipasi terancam kolapsnya kehidupan para nelayan.

“Derita yang harus ditanggung nelayan sangat beruntun. Belum selesai kesulitan mereka teratasi akibat pemutusan rumpon, kenaikan BBM kembali menghantam. Mereka telah dihantam dari segala penjuru, tetapi belum ada upaya maksimal mengurangi beban nelayan,” katanya, Kamis, 8 Mei.

Nelayan tradisional di Sulbar tetap eksis dengan predikat miskinnya. Kalvin mengemukakan, kemiskinan yang disandang nelayan bukan karena mereka malas, tetapi karena pemiskinan struktural. Belum ada kepedulian yang benar-benar langsung menyentuh untuk mengurangi kemiskinan nelayan. “Kegiatan yang ada justru pemecahan rekor MuRI makan ikan yang sekadar gagah-gagahan,” ujarnya.

Kalvin mengemukakan, wilayah laut Sulbar yang sangat luas selalu dibanggakan. Ironisnya, potensi laut yang luas dengan ikan berbagai jenis yang melimpah, justru tidak membuat membuat nelayan sejahtera, bahkan tetap terpuruk dengan kemiskinannya.

Pejabat terkait sebenarnya telah mengetahui bahwa mayoritas nelayan pesisir masih berada di garis kemiskinan, tetapi belum menunjukkan kebijakan yang nyata. Tidak salah, ujarnya, jika dikatakan kemiskinan nelayan tersebut akibat pemiskinan dan pembiaran.

Seharusnya, sejak awal, pemerintah telah merancang dan membangun kebijakan mulai dari hulu sampai hilir dan bukan kebijakan yang bersifat temporer. “Nelayan adalah kelompok masyarakat yang tidak bersuara, sehingga jeritan mereka tidak pernah terdengar. Dewan juga seharusnya memberi intervensi politis. Indikator berhasilnya pemerintah bukan dari kemewahan pejabat, tetapi kesejahteraan masyarakat di akar rumput,” tegasnya.

One thought on “Nelayan Tradisional Makin Kolaps

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s