Wacana

Merelokasi Anggaran

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak atau BBM benar-benar membuat kita pusing, terutama pada masyarakat yang berpenghasilan rendah atau pas-pasan. Maka wajar, jika gejolak terjadi di masyarakat.

Bahkan gelombang demonstrasi yang menentang kenaikan harga BBM itu terus terjadi meskipun pemerintah telah menetapkan kenaikan harga rata-rata 28,7 persen. Salah satu tuntutan yang dilontarkan adalah pemerintah menarik kembali kebijakan menaikkan harga BBM.

Penolakan kenaikan harga BBM ini juga menjadi wajar karena pelonjakan tidak hanya terjadi pada sumber energi yang tidak terbarukan itu. Kenaikan harga BBM juga memacu peningkatan harga barang kebutuhan pokok, transportasi. Pokoknya semua mengalami kenaikan harga karena biaya produksi juga bertambah.

Harga kebutuhan pokok semakin meroket karena biaya distribusi juga bertambah. Kenyataan yang paling merisaukan dan harus dihadapi masyarakat, karena isu kenaikan harga BBM yang telah disampaikan pemerintah jauh hari sebelum harga benar-benar dinaikkan telah membuat harga barang telanjur naik terlebih dahulu, meskipun saat BBM naik, harga kembali dinaikkan.

Bagi masyarakat kelas bawah yang tidak mampu berbuat apa-apa menentang kebijakan kenaikan harga BBM itu terpaksa “memutar otak” menyiasati fenomena tidak menguntungkan itu. Berharap sumber pendapatan bertambah, juga belum tentu terjadi. Pasrah pada keadaan juga bukan hal yang bijak dilakukan, karena hidup harus terus berjalan betapapun menghadapi hari-hari dengan kondisi yang serba terbatas terasa sangat memiriskan hati.

Kita harus terus hidup dengan segala keterbatasan maupun kemiskinan, meskipun pada kenyataannya berita, pembelian mobil mewah yang terus meningkat hingga 80 persen terus mengiang di telinga. Ikat pinggang makin harus dikencangkan karena biaya transportasi yang pasti bertambah.

Memarkir kendaraan pribadi meskipun hanya motor maupun mobil butut, juga tidak menjadi solusi yang tepat, terutama bagi masyarakat dengan tingkat mobilitas yang tinggi. Kendaraan umum pun tentu saja ikut-ikutan menaikkan tarif karena kenaikan harga BBM yang menjadi nyawa kendaraan umum itu.

Agar tidak pasrah, apatis dan terjebak pada keadaan yang tidak mengenakkan ini, maka selayaknya kita harus menata kembali perubahan hidup yang drastis itu. Perubahan ini jangan menjadi malapetaka bagi diri sendiri.

Langkah awal yang dapat kita lakukan dengan melakukan penataan terhadap pos-pos pengeluaran dengan penyesuaian terhadap pendapatan. Penghematan menjadi langkah terbaik yang harus dilakukan, meskipun memang ada pengeluaran tetap bulanan yang kemungkinan juga mengalami penambahan anggaran, misalnya pembayaran tagihan listrik, telepon, kredit rumah, atau kendaraan.

Baiklah, kita mengasumsikan tidak ada tambahan penghasilan dalam satu atau dua bulan ke depan. Pemangkasan biaya tetap harus dilakukan sebaik-baiknya. Pemakaian telepon, listrik, air, dan konsumsi lainnya upayakan masih dapat ditekan dengan penghematan pemakaian yang tidak perlu.

Pengeluaran yang tidak tetap, apalagi. Ini yang benar-benar harus diupayakan untuk dipangkas, misalnya anggaran kongkow-kongkow, liburan, belanja barang konsumtif, dan beberapa pengeluaran lainnya yang tidak perlu. Memang ada di antaranya merupakan pengeluaran rutin. Cermati sebaik-baiknya pengeluaran yang mana yang masih dapat ditekan.

Pos pengeluaran transportasi, kemungkinan yang akan mengalami pelonjakan yang paling drastis. Tetapi jika kita mau mencermati kembali pengeluaran pada pos ini, beberapa lembar rupiah dapat disisihkan menjadi dana saving sebagai hasil upaya penghematan.

Jika memungkinkan, kurangi kegiatan yang tidak penting dengan menggunakan alat transportasi. Cermati kembali kemana tujuan kita sehari-hari yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk didatangi. Aktivitas yang tidak terlalu penting menggunakan alat transportasi harus dikurangi, bahkan harus dihilangkan. Kita memang harus lebih ketat mengontrol beban pengeluaran, sekali lagi agar tidak menjadi malapetakan bagi kondisi keuangan yang semakin memprihatinkan.

Langkah berikutnya yang harus dilakukan adalah dengan merelokasi dana yang telah dialokasikan setiap bulan untuk pembelian barang konsumtif yang tidak perlu. Memang sedikit terasa berat, tetapi apa boleh buat, ikat pinggang harus segera dikencangkan.

Penghematan merupakan jalan terbaik yang harus dilakukan. Mengambil dana tabungan untuk menutupi beban pengeluaran bukan hal yan bijak dan tepat untuk dilakukan. Kalau perlu, sediakan beberapa amplop yang diisi dengan dana yang telah dibudget dengan sehemat mungkin.

Dengan penghematan yang telah berhasil dilakukan, maka kita memiliki anggaran lebih untuk memperbesar anggaran kebutuhan bulanan seperti belanja rutin untuk belanja rumah tangga yang terdampak kenaikan harga BBM. Tentunya, masih banyak cara penghematan lain yang bisa dilakukan disesuaikan dengan kondisi kebutuhan hidup sehari-hari selama sebulan.

Merelokasi pos anggaran adalah upaya yang paling masuk akal dilakukan di tengah melambungnya semua harga sebagai efek domino kenaikan harga BBM. Mencoba mengatasi permasalahan dengan penghematan, sedikit lebih arif, ketimbang turun ke jalan melakukan aksi demonstrasi, yang justru kadang menyulitkan orang lain aktivitas tersebut, misalnya penutupan jalan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s