Inspirasi

strategy For Happy Life

Oleh : Riduan Goh – Wealth is Mine

Anggrek Indah nan Anggun

Tersebutlah sebuah gugus kepulauan di bagian selatan bola dunia, kepulauan Anggrek namanya. Sungguh gugus kepulauan yang sangat kaya, hasil alam dan subur, alamnya indah memikat hati.  Bepuluh-puluh abad lamanya kabar kemakmuran dan keindahan Anggrek tersohor seantero jagad dan seakan tak pernah habis dinikmati oleh penduduk dan pelancong yang singgah di negri Anggrek. Tidaklah heran semakin hari berduyun-duyun orang-orang dari berbagai penjuru dunia datang mengadu peruntungan hingga bermigrasi dan menetap di Anggrek nan makmur ini.

Berkembang dari kelompok-kelompok masyarakat pendatang dari berbagai negeri yang kemudian sebagian menetap,  kepulauan Anggrek berkembang menjadi sebuah komunitas baru yang multi etnis dan kultural. Mereka mempunyai toleransi satu sama lain yang sangat tinggi, saling menghargai dan menghormati, sungguh sebuah harmoni kehidupan yang nyaman dan selaras.

Kepulau Anggrek semakin berkembang menjadi jalur dagang dan budaya, sehingga mau tidak mau harus mulai dibentuk tatanan pemerintahan untuk mengatur kehidupan masyarakat yang mulai komplek.Dari kelompok masyarakat Anggrek telah menjelma menjadi suatu kerajaan muda, walaupun masyarkatnya majemuk yang berasal dari berbagai bangsa dan keturunan, namun harmoni bermasyarakat tetap saja selaras.

Tahunpun berlalu, windu berganti abad, kekayaan dan harmoni kehidupan dan kekayaan Anggrek seolah tidak ada habisnya dituai oleh, hingga suatu ketika muncul kelompok masyarakat Buaya Putih yang dimotori oleh pihak sangat berambisi untuk menguasai kekayaan negri Anggrek, namun selama keutuhan dan harmoni yang selarah terus terpelihara dalam masyarakat siapapun tidak akan dapat menguasai negri anggrek untuk kepentingan pribadi atau kelompok.

Buaya putih memulai misinya dengan menciptakan polarisasi atau kutub-kutub dalam kelompok masyarakat.  Mulailah muncul kelompok yang menamakan dirinya sebagai penduduk Asli, walaupun sebenarnya juga sangat diragukan antara mana yang disebut asli dan pendatang, karena sedianya Anggrek juga terbentuk oleh kumpulan masyarakat pendatang.

Tahap selanjutnya juga tercetus kelompok yang menyatakan dirinya lebih Asli, dan sementra itu kelompok pendatang sendiri juga mulai terpecah dan mulai cenderung berkelompok berdasarkan negri asal bahkan suku asal mereka. Masing masing mulai terpolarisasi untuk memperjuangkan hak-hak pribadi atau kelompok tertentu, tidak jarang mulai timbul gesekan-gesekan kepentingan yang memanas dan melelehkan sinergi sebagai bangsa Anggrek yang harmonis.

Carut-marut, ini adalah kondisi negri Anggrek, namun inilah  saat-saat yang diinginkan Buaya Putih. Saling curiga antar kelompok, saling membatasi diri dalam pergaulan yang pada akhirnya mulai berdampak pada kelangsungan perdagangan dan ekonomi negri Anggrek yang mengalami kemuduran. Tidak ada lagi irama harmoni dalam kehidupan masyarakat, apalagi kebersamaan dalam membangun negri Anggrek.

Secara meluas polarisasi dan disharmoni ini berdampak pada kemakmuran rakyat, banyak pengangguran, kesenjangan kekayaan antara kelompok elite dan miskin semakin jauh, kelaparan dan kejahatan terjadi di mana-mana. Lebih kacau lagi polarisasi Buaya Putih juga menimbulkan keuntungan bagi kelompok-kelompok tertentu yang akhirnya juga berusaha memelihara krisis negri Anggrek.

Sungguh mengenaskan, kelimpahnya yang sedianya merupakan anugrah gratis dari kebesaran Tuhan terhadap bangsa Anggrek, justru menjadi bumerang membuat Negri Anggrek terpuruk dan menjadi obyek gembul untuk diserap habis kekayaanya oleh pihak Buaya Putih. Tidak jelas siapa yang mendalangi Buaya Putih, namun yang jelas kekacauan di negri Anggrek telah meluas dan di sungguh diluar kontrol. Bahkan komponen bangsa Anggrek sendiri mulai meragukan apakan harus tetap bertahan sebagai Bangsa Anggrek yang tidak punya arah masa depan yang jelas.

Ayam jago berkokok, matahari mulai timbul menyapa pagi. Sayup-sayup terdengar merdunya irama rebab diiringi nyayian kecil di jalan menuju pasar Anggrek, sebuah pasar besar yang merupakan detak jantung negri Anggrek. Sungguh merdu dan riang irama lagu itu, sehingga setiap orang yang mendengar seolah tersihir untuk bergumam mengikuti irama lagu itu.

Bangkitlah Anggrek untuk Anggrek

Anggrek Indah nan Anggun, Bangkitlah dan Miliki Dirimu

Anggrek Indah nan Anggun, Bangkitlah dan Bersatulah

Anggrek Indah nan Anggun, Bersatulah dan Berjayalah

Bangkit, Bersatu dan Berjayalah Anggrek untuk Anggrek

Bodoh atau mungkin gila, begitulan pandangan umum yang mengganggap bersatu untuk bersumbangsih kepada Negri Anggrek adalah omong kosong, memikirkan saja sudah tidak ada gunanya dan buang-buang waktu, lebih baik berpikir dan berbuat untuk perut dan kemakmuran sendiri.

Bangkitlah Anggrek, lagu ini sangat mudah dihapal dan sangat menyenangkan untuk dilantunkan. Sangking mudah dan enak didengar, lagu yang terkesan melankolis dan heroik ini mulai menular dengan cepat mulai dari anak-anak, sekolah-sekolah, hingga kelompok-kelompok anak muda, bagaikan hit yang sangat mewabah di negri anggrek.

Bangkitlah Anggrek bahkan telah menginspirasi banyak pembicaraan dan pemikiran dari mulai kuli pasar, petani, pedagang, pelajar, seniman hingga pegawai kerajaan untuk merindukan kembali mereguk manisnya masa jaya negri Anggrek yang penuh solidaritas, toleransi, adil dan makmur.

Berawal dari lagu kemudian menjadi pembicaraan dan pemikiran, akhirnya jadi gerakan nasional yang menuntut perubahan sikap hidup bermasyarakat dan bernegara menuju negri Anggrek yang Bangkit, Bersatu dan Berjaya.  Negri Anggrek yang Bangkit, Bersatu dan Berjaya memang sebenar-benarnya secara sumberdaya alam dan masyarakatnya sangat mungkin terjadi, apabila bangsa Anggrek tidak terkotak-kotak dalam polarisasi yang sangat kontra produktif.

Gerakan Bangkitlah Anggrek bermula dari perubahan sikap mental pribadi menuju keluarga, kemudian dari keluarga menuju golongan dan masyarat dan bermuara menjadi gerakan nasional. Mulai muncul rasa saling keterbukaan antar pribadi dan kelompok, saling meminta maaf dan menerima antar pribadi dan kelompok yang kemudian diikuti tumbuhnya saling percaya yang semakin membesar dan membesar.

“Negri Anggrek Bangkit, Bersatu dan Berjaya” menjadi dasar semangat bersama Bangsa Anggrek untuk bergerak merubah diri. Dari satu titik pandang misi yang sama membentuk negri dan bangsa Anggrek. Gerakan Bangkitlah Anggrek terus bergulir, kotak-kotak kelompok dan saling curiga semakin tipis dan menghilang. Buaya Putih dan kelompok-kelompok pecundangpun tidak mendapat tempat lagi di masyarkat dan tersingkir alami. Kini semua orang mempunyai misi jelas sebagai bangsa Anggrek, sebagai komponen bangsa wajib masing-masing bertanggung jawab untuk Bangkit, Bersatu dan Berjaya untuk membangun Negri Anggrek untuk Negri Anggrek.

Tidak mudah, 10 th Negri Anggrek berada dalam pergumulan untuk menjalankan kewajiban berbangsa dan bernegara dengan misi bersamanya dan mengesampingkan interes pribadi dan golongan. Kini Negri Anggrek telah menjelma Negri Berjaya dan sebuah Bangsa yang solid dan disegani karena prestasi gemilangnya sebagai bangsa yang besar, bersatu dan berjaya.

Jelata pelantun lagu Bangkitlah Anggrek, Jelata adalah seorang seniman jalanan picisan dengan lugunya melantunkan berulang-ulang dan riang lagunya yang terkesan sangat naif di tengah situasi tanpa harapan. Mimpi dan dorongan spirit yang luhur yang timbul dari jiwa Jelata untuk memainkan senar rebab dan menyanyi. Tak seorangpu tahu kemana rimbanya si Jelata, tapi yang jelas kini semua orang menikmati buah dari biji yang digulirkan oleh Jelata menjadi sebuah gerakan perubahan yang membuat orang berpaling dari kondisi pribadi atau golongan, menjadi semangat Bangsa Anggrek untuk mewujudkan kembali kejayaan Anggrek untuk Anggrek indah nan Anggun.

Pembaca yang budiman,

Anggrek memang indah dan kaya, Buaya Putih sangat jeli menciptakan dan memanfaatkan kekacauan untuk keuntungan pribadi.

Jelata dalam mimpi dan kerinduan akan kejayaan masa lalu yang dituangkan dengan spirit murninya melalu sebuah lagu yang dibuat dengan cermat akhirnya menggugah orang kembali untuk berpaling pada kebangkitan dan kesatuan Anggrek untuk berjaya kembali.

Semakin kuat gerakan “Anggrek Bangkit” akhirnya membobol tembok polarisasi antar kelompok dan mengembalikan saling percaya dan bangkit sebagai Bangsa Anggrek dalam kesatuan misi berbangsa dan bernegara. Buaya putih tersingkir alami, Anggrekpun kembali Berjaya.


Pesan moral strategi ini,

Keindahan dan kenikmatan merupakan pedang bermata dua, bisa menjadi senjata yang menguntungkan sekaligus menjadi senjata yang mematikan diri kita sendiri.

Menggugah agar semua orang berfokus pada keindahan sebagai dasar yang  mempersatukan semua komponen untuk menuju kebahagiaan bersama tentunya merupakan sebuah kebijaksanaan.

Kisah asli terjadi saat Lu Bu jendral besar Han mendukung ayah angkatnya, Dong Zuo penasehat dinasti Han menempatkan Xian Di sebagai raja boneka.   Wang Yun mentri Han yang setia meminta Diao Chan putri cantiknya untuk melakukan misi khusus untuk menyelamatkan Han dari komplotan Lu Bu – Dong Zhuo dengan mempersembahkan Diao Chan kepada Lu Bu.

Di suatu pertemuan khusus, Diao Chan menari dan menyanyi di depan Dong Zhuo dan akhirnya membuat Dong Zhuo tertarik untuk meminang Diao Chan. Diao Chan bersedih dan mengadu kepada Lu Bu, dirinya akan bunuh diri karena tidak mau menjadi selir Dong Zhuo.  Lu Bu marah, beberapa hari kemudian didapati Dong Zhuo terbunuh oleh Lu Bu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s