Inspirasi

Kendi di Siang Hari

Kendi Pecah Di Siang Hari
Oleh : Prie GS – Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA

Saya gembira ketika suatu kali istri membeli sebuah kendi. “Kasihan. Penjualnya tua sekali,” katanya. Siang sedang menyengat. Tetapi teriknya seperti mereda demi tersadar, oo saya memiliki istri yang baik hati. Apalagi setiap kebaikan yang kami perbuat, hasilnya memang cuma lari ke dalam hati kami sendiri. Kami tidak sedang ingin sok mulia. Tetapi kebaikan-kebaikan kecil itu memang menyehatkan hati. Apalagi harganya toh murah saja, toh cuma sebuah kendi.

Penjelasan istri tentang penjual yang tua itu menarik saya untuk menengoknya. Ya ampun benar sekali. Jika nasib baik memihaknya, orang serenta ini pasti lebih cocok tinggal di rumah dikelelilingi anak dan cucu sambil menghabiskan umur sebagai pensiunan yang manja. Ia sudah harus ganti menikmati pelayanan anak-anaknya yang semuanya sudah berkeluarga dan sukses pula. Jika sakit, ia layak dicarikan rumah sakit terbaik, ditunggui ramai-ramai. Jika punya permintaan, seluruh anak-anaknya akan saling berebut memenuhi. Jika hendak bepergian, cukup memberi perintah dan seluruhnya akan bahagia menjadi pengantarnya. Itulah hari tua yang kita bayangkan.

Tetapi orang tua ini pasti datang dari jenis nasib yang lain lagi. Nasib yang memaksanya berkeliling dengan pikulan berat di pundaknya. Kendi-kendi yang ia bawa itu, hanyalah beban bagi yang memandangnya. Saya jamin, pembeli dagangannya pasti bukan para penggemar kendi, melainkan sekadar orang-orang yang iba belaka. Melihat keadaannya, hampir-hampir saya menggugurkan rasa syukur saya atas kebaikan istri. Karena untuk iba pada orang ini, sungguh tak perlu lebih dulu menjadi orang baik hati. Penjahat paling brutal pun bisa menghentikan kejahatannya dan jatuh iba pada pemandangan ini.

Mata Pak Tua ini sudah buram sepenuhnya dan siang yang amat terik itu pasti menyiksanya dengan bermacam-macam fatamorgana. Pinggang orang tua ini telah melengkung. Keriput merajalela di sekujur kulitnya. Dua saja kelayakan yang mestinya ia miliki: duduk di kursi malas di teras rumah yang luas atau malah terbaring payah di ruang gawat darurat. Maka demi melihatnya masih berkeliling dengan pikulan seberat itu, dengan kendi-kendi yang masih menumpuk, dan diantaranya malah pecah di sana-sini, adalah pemandangan yang amat ingin saya hindari. Maka keputusan istri itu sekali lagi saya gembira.

Tetapi, di mana-mana, kegembiraan selalu rawan dicemburui. Kami yang sedang bersemangat berbaik hati malah menyulut omelan pemilik warung di dekat kami bertransaksi.

“Anda tertipu. Kendi-kendi itu dia pecahi sendiri!” katanya.

Tetapi tukang warung itu salah sangka. Dia sangka kami akan gembira dengan informasinya. Dia sangka kami akan segera terhasut dan merasa tertipu untuk kemudian ganti memarahi Pak Tua itu sejadi-jadinya. Pemilik warung ini tak tahu bahwa saya adalah pembicara seminar (dan motivator pula!). Maka tak sulit bagi motivator untuk segera mengerti kualitas pemilik warung ini.

“Itulah mental block namanya,” kata saya. Segera, setelahnya saya kotbah habis-habisan di depan istri: “Itulah orang yang gemar memandang sekelilingnya dengan curiga. Orang semacam itu sesungguhnya adalah pihak sedang sakit. Inilah kenapa negaramu sulit maju. Orang tua peyot begitu saja masih dicurigai. Keterlaluan. Jahat sekali orang itu. Kalau mati pasti jadi intip neraka!” kata saya berapi-api. Marah sekali saya oleh pandangan orang yang melulu ke jurusan prasangka itu. Untuk melunaskan hasrat kemarahan saya, malah muncul niat untuk membeli seluruh kendi orang tua di hadapannya. Biar ia mati kejang oleh kedengkian batin saya.

Hari lalu berganti. Kembali esok hari saya melewati warung ini karena banyak urusan terjadi di tempat ini. Tersulut lagi kemarahan saya demi melihat pemilik warung yang amat gemar berprasangka itu. Tetapi sebelum kemarahan itu menyembul sempurna Pak Tua penjual kendi itu lewat lagi. Astaga, kendi-kendinya pecah lagi. Jadi, kendi-kendi Pak Tua ini memang pecah setiap hari. Hahaha, saya kecewa sekali karena harus menarik kemarahan pada pemilik warng yang telah kepalang saya maki-maki dalam hati itu. Orang tua ini ternyata adalah penjual yang hebat. Setiap kali, kendi-kendi pecah itu ia pakai sebagai etalase daganganya. Pak tua ini pasti tak pernah datang ke seminar James Gwee; Selling with Emphaty. Tetapi ia paham benar bagaimana mempermainkan emphati pembeli.

Akhirnya saya menatap pemilik warung yang saya kutuki itu dengan lunglai. Di negeri ini memang banyak sekali orang yang suka curiga pada sesama. Tetapi di negeri ini, jumlah orang yang layak dicurigai memang bisa sama banyaknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s