pendidikan

Tiga Hari untuk Selamanya…..

Tetes Keringat Perjuangan Mendapatkan Selembar Ijazah

Tiga Hari untuk Selamanya………   Ini bukan cerita film yang dibintangi aktor ganteng Nicholas Saputra dan Adinia Wirasti yang menceritakan tentang perjalanan dua anak muda dari Jakarta ke Jogjakarta. Perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu satu hari, ternyata menjadi perjalanan tiga hari yang tak terlupakan.

Tiga hari untuk selamanya ini tentang perjuangan ribuan anak SMA di tanah air yang nasibnya selama tiga tahun menuntut ilmu di bangku sekolah ditentukan kemampuan mereka menghadapi Ujian Nasional selama tiga hari. Tiga hari untuk selamanya itu adalah sebuah perjuangan untuk memperoleh selembar ijazah. Seorang siswa yang tidak lulus ujian, dipastikan akan menangis sejadi-jadinya. Bahkan ada beberapa siswa yang memilih mengakhiri hidupnya hanya karena tidak lulus.

Namun, tidak sedikit pula yang benar-benar mempersiapkan tiga hari untuk selamanya itu untuk belajar dengan sungguh-sungguh agar masa depan dan cita-cita yang telah digantungkan dapat tergapai. Tak jarang, orang yang berkemampuan terbatas harus memaksakan diri sekadar mengikuti semua mata pelajaran yang diujikan selama tiga hari.

M Yusuf, 18 seorang siswa SMAN 2 Makassar yang menderita penyakit lumpuh terpaksa mengerjakan soal-soal ujian di atas tempat tidur. Soal-soal ujian dikerjakannya di salah satu ruang UKS ukuran 3×3 meter. Cara mengerjakan semua pertanyaan tidak dengan cara duduk di sebuah kursi, melainkan  dengan cara tengkurap. Kedua kakinya lurus ke belakang. Di bagian kaki kirinya terdapat luka yang diikat dengan perban serta diganjal dengan sebuah kantongan plastik berisi cairan.

Bagian dadanya dilapisi dengan sebuah bantal. Sementara soal-soal dan dan lembar jawaban bidang studi Fisika yang dikerjakan disimpan di depannya. Meski hanya sendiri, Yusuf tetap diawasi oleh seorang pengawas. “Dia tidak bisa duduk sama sekali. Agar tetap bisa ikut UN, kita siapkan tempat tidur di ruangan ini,” ujar salah seorang pengawas yang menunggunya.

Orangtua Yusuf, Muchtar Amir, yang juga guru Fisika di sekolah itu, mengatakan, anak kedua dari lima bersaudara itu menderita lumpuh sejak dua minggu lalu. Ia mengaku belum tahu persis penyebab anaknya itu hingga lumpuh. Padahal, selama ini kondisi kesehatannya tetap fit.

Menurut Muchtar, sebelum lumpuh, anaknya masih sempat berenang di salah satu hotel. Tapi setelah keluar dari kolam renang, tiba-tiba anaknya lumpuh. “Saya sudah pernah bawa ke RS Wahidin, tetapi hasilnya masih nihil. Bahkan ke pengobatan ilmu terapi juga sudah pernah. Kondisinya belum juga baik,” imbuhnya.

Secara terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Makassar, M Natsir Azis, mengatakan bahwa pelaksanaan ujian nasional dalam dua hari terakhir tetap berjalan lancar. Namun, dia mengakui bila dari 19.395 peserta UN yang terdaftar di Makassar tahun ini, sebanyak 1.126 di antaranya tidak ikut ujian.

“Kita belum tahu apa penyebabnya. Karena pihak sekolah juga rata-rata mengaku tidak mendapat laporan dari peserta yang tidak ikut,” kata Natsir. Tapi dia memperkirakan, para peserta yang tidak ikut ujian kali ini adalah para siswa yang tidak lulus UN tahun lalu. Kemungkinan besar, mereka sudah lulus paket C.

“Sebab sistemnya memang begitu. Anak-anak yang tidak lulus UN tahun lalu tetap didaftar tahun ini. Tapi kemungkinan mereka sudah lulus paket C sehingga tidak ikut sekarang,” imbuhnya.

Di Kediri, Jawa Timur, lain lagi ceritanya. Tiga siswa terpaksa mengikuti ujian nasional di balik jeruji besi. Dua siswa mengerjakan soal ujian di sel tahanan Lembaga Pemasyarakatan (LP) kelas II Kediri, dan satu siswa terpaksa mengerjakan soal ujian di sel tahanan Kepolisian Wilayah (Polwil) Kediri.

Siswa yang mengikuti ujian di dalam LP adalah YA siswa SMA swasta di Kediri yang tersangkut kasus tindak pidana pencurian dan Rd siswa SMA negeri Kota Kediri yang tersangkut kasus narkoba. Adapun siswa yang berada di dalam sel Polwil Kediri adalah Sy, tersangka kasus pembunuhan terhadap rekan sekolahnya.

Saking beratnya menghadapi ujian, ada beberapa peserta sampai kesurupan di ruang ujian. Seperti yang dialami siswi SMA 2 Mamuju, Sulawesi Barat. Kepala SMA 2 Mamuju, Imran, mengatakan, memang banyak siswa yang mengalami stress dalam menghadapi UN ini. Di hari pertama, juga ada siswi yang kesurupan bernama Rosmalia Surti.

“Saat ini, siswi tersebut harus mengikuti ujian seorang diri karena keramaian dan bising membuat penyakitnya kambuh,” katanya.
Seorang Guru SMA 2 Mamuju, Kasri, mengatakan, pemandangan seperti ini biasa terjadi di SMA 2 Mamuju. Dan dua anak tersebut memang sering kesurupan jika depresi atau beban pikirannya bertambah.

“Biasanya, apabila satu orang pinsang akibat kesurupan, siswa lainya juga biasanya ikut, dan sekarang kami juga bersiap jangan sampai terjadi kesurupan massal,”katanya seraya tertawa.

Aturan yang ada, tidak mengatur bahwa siswi yang tiba-tiba jatuh sakit atau kesurupan diberikan perpanjangan waktu dalam mengerjakan soal ujian. Sehingga siswi tersebut kehilangan waktu yang cukup berharga. Melihat ini, Imran, berharap agar siswi tersebut bisa diberikan kebijakan yaitu diberi tambahan waktu atau mengikuti ujian susulan.

Tapi, Ia tetap optimis dua siswi tersebut bisa mengerjakan soal dengan baik karena mereka termasuk anak yang cerdas. Dan siswa SMA 2 bisa lulus 90 persen tahun pelajaran 2007/2008 ini. Ujian Nasional kali ini memang terbilang berat. Selain standar kelulusan yang dinaikkan menjadi 5,25 jumlah mata pelajaran yang diujikan bertambah menjadi enam mata pelajaran. Sungguh…………………. Tiga Hari untuk Selamanya menjadi tiga hari yang tak terlupa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s