Bisnis

Mencermati Bisnis Penerbangan Bertiket Murah

Mengalkulasi Bisnis Maskapai Penerbangan di Tanah Air

Maintenance dan Avtur Sedot Biaya Terbesar
Melalui deregulasi pada 1999 hingga awal 2000-an, pemerintah membuka lebar izin bagi maskapai penerbangan. Bagaimana sebenarnya kalkulasi bisnis ini? Betulkah menguntungkan, khususnya bagi low-cost carrier atau maskapai bertarif murah?

Sebelumnya, penerbangan sipil di tanah air hanya dikuasai Garuda Indonesia, Merpati Nusantara Airlines, dan Pelita Air (Pertamina). Tapi, begitu ada deregulasi, semua orang boleh mendirikan maskapai penerbangan asal punya duit.

Menurut Direktur Direktorat Sertifikasi dan Kelaikan Udara Departemen Perhubungan (Dephub) Yurlis Hasibuan, syarat pendirian maskapai memang tidak terlalu berbelit-belit. Investor hanya diwajibkan memiliki minimal dua pesawat jenis apa pun. Boleh membeli atau hanya menyewa.

Kemudahan itu membuat bisnis transportasi udara dilirik banyak pengusaha. “Setidaknya, dalam kurun delapan tahun ini, terdapat puluhan maskapai baru yang melayani penerbangan carter maupun reguler,” tuturnya.

Namun, seiring tingginya permintaan pesawat di dunia, jumlah pesawat sewa menjadi berkurang. Akibatnya, harga sewa pesawat pun melonjak tinggi. Jika pada 2000 sewanya masih USD 80 ribu-USD 100 ribu per bulan, saat ini mencapai USD 150 ribu-USD 180 ribu.

Dengan ongkos sewa sebesar itu, ditambah biaya-biaya operasional lain, muncul pertanyaan apakah masih untung mendirikan maskapai penerbangan bertarif murah atau low-cost carrier (LCC) di Indonesia?

Sebagai contoh, tahun lalu Merpati Nusantara Airlines berniat menyewa pesawat Boeing 737-400 dan Boeing 737-500 dari perusahaan lessor AS, Thirdstone Aircraft Leasing Group (TALG). Lantas, TALG meminta Merpati membayar uang jaminan (security deposit) USD 500 ribu (Rp 4,6 miliar) untuk setiap pesawat yang dipesan. Security deposit akan dikembalikan jika masa sewa pesawat habis, rata-rata dalam jangka 2-3 tahun.

Dalam perjanjian disebutkan bahwa harga sewa pesawat per bulan USD 135 ribu (sekitar Rp 1,24 miliar) untuk Boeing 737-400 berkapasitas 132 kursi dan USD 150 ribu (sekitar Rp 1,38 miliar) untuk Boeing 737-500 berkapasitas 170 kursi.

Untuk Boeing 737-200, sewanya “hanya” USD 50 ribu-USD 80 ribu (sekitar Rp 460 juta-Rp 736 juta) per bulan. Pesawat jenis ini dulu sering dipakai maskapai penerbangan nasional, tapi kini dilarang masuk Indonesia. Kemudian premi asuransi pesawat berkisar 1,5 persen dari harga sewa per bulan.

Bagaimana komponen biaya operasional atau direct operation cost (DOC) sebuah pesawat? Menurut Purwatmo, corporate secretary Merpati, di Indonesia gaji seorang pilot rata-rata di atas Rp 15 juta per bulan. Ada pula yang mencapai Rp 80 juta. Itu bergantung pada rating pilot.

Sementara gaji pramugari Rp 4 juta-Rp 5 juta per bulan. Dalam setiap penerbangan pesawat Boeing dibutuhkan satu pilot, satu kopilot, dan minimal empat pramugari. “Mereka tak bekerja sebulan penuh. Bergantung pada pengaturan,” katanya.

Selain itu, lanjut Purwatmo, biaya perawatan (maintenance) Boeing 737-400 sekitar USD 400 (Rp 3,6 juta) per jam. Di Indonesia perawatan biasa dilakukan Garuda Maintenance Facilities (GMF).

Besarnya biaya perawatan dihitung berdasar utilisasi (tingkat pemakaian). Pesawat Boeing 737-400 rata-rata dipakai 12 jam per hari. Dengan begitu, dalam sebulan masa perawatannya 360 jam dengan biaya USD 144 ribu (Rp 1,32 miliar). “Kalau pesawat masih baru atau baru keluar dari pabrik, biaya perawatan lebih ringan,” ungkapnya. Dengan kata lain, makin tua usia pesawat makin mahal biaya perawatan.

Dari sisi kebutuhan bahan bakar, pesawat Boeing 737-400 mengonsumsi sekitar 14,88 kilogram avtur per menit. Jika utilisasi pesawat 12 jam per hari, butuh 10.713,6 kilogram avtur per hari atau 321.408 kilogram avtur per bulan. Jika harga avtur Rp 6.500 per kilogram, sebulan dibutuhkan Rp 2,08 miliar untuk membeli avtur dari Pertamina. “Harga avtur berbeda-beda sesuai lokasi bandara,” ujarnya.

Dengan demikian, akumulasi biaya operasional pesawat Boeing 737-400 per bulan bisa mencapai Rp 4,74 miliar. Angka itu penjumlahan dari biaya sewa pesawat Rp 1,24 miliar, biaya avtur Rp 2,08 miliar, biaya maintenance Rp 1,32 miliar, dan biaya kru pesawat Rp 150 juta (tiga kali shift untuk pergantian selama sebulan). “Tapi, tentu maskapai masih perlu mempersiapkan biaya-biaya lain yang tak terduga,” cetusnya.

Pendapatan, kata Purwatmo, juga dapat dihitung. Misalnya, memakai asumsi pesawat rute Jakarta-Surabaya dengan 12 kali penerbangan pulang pergi (PP). Jika tarif dipatok Rp 250 ribu per penumpang, untuk 12 kali penerbangan per hari akan diperoleh pendapatan Rp 396 juta per hari atau Rp 11,88 miliar per bulan.

“Tapi, kalau load factor (tingkat isian) rata-rata 80 persen, pendapatan mungkin hanya Rp 9,52 miliar per bulan,” jelasnya. Dengan asumsi itu, penerbangan menghasilkan untung. Tapi, dia kembali menggarisbawahi bahwa itu bergantung pula pada pengeluaran tak terduga

2 thoughts on “Mencermati Bisnis Penerbangan Bertiket Murah

  1. salam,
    jika seandainya saya ingin mendirikan perusahaan penerbangan (seperti lion atau merpati), gimana caranya ya? (mulai dari perijinan dan sebagainya),,, kalo modalku cuma kisaran 100 milyar rupiah,, masihkah cukup untuk mendirikannya… dan kira2 berapa lama bisa berhasilnya? trimaasih sebelumnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s