Reportase

Sayyang Pattuddu’

Pawai Sayyang Pattuddu’, Ritual Khatam Khas Mandar

Anak Khatam Alquran Diarak di Atas Kuda Menari

KHATAM Alquran bagi warga Mandar merupakan sesuatu yang penting dalam kehidupan keagaamaan seorang anak. Sebagai “hadiah” menamatkan 30 juz Alquran, maka dirayakanlah Sayyang Pattuddu’, sebuah ritual khatam khas Mandar.

Arya Fatta, Mamuju

MATAHARI di Kota Mamuju sekitar pukul 12.30, Minggu, 20 April, kemarin, bersinar tidak terlalu terik karena hujan baru saja mengguyur. Puluhan warga, dari anak-anak hingga orang dewasa, bersorak-sorai mengikuti arak-arakan sekitar 10 anak khatam mengaji menunggangi sayyang pattuddu’ atau kuda menari.

Seorang wanita berumur sekitar 30-an mengenakan pakaian adat Mandar lengkap berwarna merah menyala duduk di atas kuda yang telah dihias dengan perhiasan perak. Wanita ini disebut Pissawe atau pendamping. Cara duduknya di atas kuda juga memiliki aturan sendiri. Di belakangnya, duduk bocah yang khatam Alquran mengenakan pakaian muslim dengan penutup kepala yang warnanya juga tak kalah meriah.

Di samping kiri dan kanan kuda menari, ada empat orang pria yang disebut Pissarung, bertugas menuntun kuda menyusuri jalan yang akan dilewati arak-arakan. Suara tabuhan rebana dari pemain yang mengiringi arak-arakan semakin menambah semarak suasana. Sesekali tabuhan rebana terhenti saat seorang pria melantunkan pantun berbahasa Mandar.

Arak-arakan kuda kadang berhenti untuk menari dengan memainkan kaki depannya mengikuti suara tabuhan rebana. Aparat kepolisian yang mengawal arak-arakan sesekali menghentikan pawai sejenak untuk mengatur barisan yang sudah tidak rapi lagi akibat warga yang mengikuti kuda semakin mendekat, sehingga saling berdesak-desakan.

Sayyang Pattuddu atau kuda menari ini masih sering dijumpai di Kabupaten Polewali Mandar, Majene, dan Mamuju. Pelaksanaannya sekali setahun, yakni pada bulan peringatan Maulid Nabi Muhammad S.A.W. Sebelum kuda diarak, dilakukan pembacaan dzikir dan doa di masjid tempat rombongan berkumpul.

“Khatam Alquran sangat istimewa bagi warga Mandar, sehingga kalau sudah tamat bacaan Alquran-nya pasti akan disyukuri. Salah satu bentuk kesyukuran itu dengan menggelar Sayyang Patuddu’ ini. Pelaksanaan acaranya, tidak harus begitu khatam langsung dirayakan. Tergantung kesanggupan dan kesiapan orang tua masing-masing,” ungkap Abidin, salah seorang warga yang ikut arak-arakan Sayyang Pattuddu’. (**)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s