Bisnis

Usaha Kecil

Andre Irza, Pengusaha Bermodal Rp 100.000

Bakat Andre Irza di dunia bisnis memang sudah kelihatan saat ia masih kuliah. Ketika masih duduk di semester enam, ia mulai mengem?bangkan bisnis tas dengan modal Rp 100.000. Dengan pasti, modal sebesar itu bisa berkembang menjadi Rp 1,5 juta per bulan. Namun sayang, awal bisnis yang bagus ini harus terhenti.

MEMANG, Andre butuh waktu lama untuk membiakkan duit dari Rp 100.000 menjadi Rp 1,5 juta per bulan. Namun sebagai pengusaha “pemula”, dari rintisan awal itulah dia mampu membuktikan teori bahwa kesabaran dan ketekunan merupakan kunci utama bisnis.

Dengan kesabaran dan ketekunan pula, pelan namun pasti, perkembangan bisnisnya mulai tampak. Bahkan dalam jangka waktu kurang dari enam bulan, pasar sudah menerima produk-produk tasnya, seperti tas sekolah, tas olah raga, serta tas penunjang penampilan.

Ketika itu Andre memasar?kan tas-tasnya secara door to door atau dari rumah ke rumah. “Saya pendatang baru di bisnis tas. Otomatis harus mencari pasar dulu,” kata Andre yang saat itu masih duduk di bangku kuliah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran Bandung.

Kurang lebih selama tiga bulan Andre memasarkan produknya secara door to door. Selain itu, ia juga membuka gerai penjualan tas di rumah?nya, di kawasan Cijerah, Bandung. Setelah cukup dikenal, produk tas Andre pun mulai mejeng di toko-toko tas.

Tidak hanya di Bandung, Andre juga melebarkan sayap pemasaran ke luar Jawa, yakni ke Padang di Sumatera Barat. “Orang tua saya memang asli Padang. Jadi saya mempunyai saudara yang bisa diajak kerjasama untuk memasarkan tas buatan saya,” terang Andre.

Setidaknya, sebulan sekali Andre mengirim tas ke Padang. Sekali kirim, dia menerbangkan 50 unit hingga 100 unit tas. “Saat itu produksi kami juga masih belum banyak. Masih di bawah 200 unit per bulan,” katanya. Andre mengaku saat itu masih terbelenggu keterba?tasan waktu dan peralatan.

Usaha Andre berhenti ketika siang hari. Maklum, ia harus kuliah. Sedangkan partner-nya harus bekerja di pabrik. “Biasanya, kami membuat tas pada malam hari,” kata Andre. Menjahit tasnya pun harus bergantian. Soalnya, mesin jahit cuma satu. Bila temannya menjahit, Andre bertugas memotong-motong bahan sesuai model.

Dengan keuletannya, lambat laun usaha ini mulai berkem?bang juga. Bahkan tak butuh waktu terlalu lama, modal secuwil tadi sudah berbiak berlipat-lipat. “Hasilnya lumayan, lah, cukup untuk biaya kuliah,” katanya.

Sayangnya, bisnis yang mulai bersinar terang itu harus “cuti” dulu setelah dua tahun berki?bar. Alasannya, bukan lantaran kalah bersaing alias tidak laku di pasaran. Anda bisa menebak, Andre harus menyelesaikan kuliah. Dia tak mau berlama-lama menjadi mahasiswa abadi. Andre mengakui, bisnis tasnya memang menganggu kuliahnya.

“Apalagi, saat itu, saya sudah mendekati semester akhir. Saya harus konsentrasi pada kuliah dan skripsi. Jadi, usaha pembuatan tas itu terpaksa saya tutup. Saya pun kembali ke bangku kuliah dulu sepe?nuhnya,” jelas Andre.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s