Komunitas

Saatnya Saling Membuka Diri

Kini Tergantung Individu Etnis Tionghoa untuk Membuka Diri

Istilah pembauran kerap digunakan saat membicarakan hubungan sosial antara etnis Tionghoa dan non Tionghoa di Indonesia. Kini, masyarakat etnis Tionghoa lebih merasakan makna pembauran yang selalu didengung-dengungkan itu. “Sekarang ini kami semakin merasakan makna pembauran. Kini, hampir tidak ada lagi yang membedakan masyarakat keturunan etnis Tionghoa dengan non Tionghoa. Semua itu tergantung masyarakat etnis Tionghoanya sendiri. Mau membuka diri atau tidak,” ujar Feri, Ketua Perhimpunan Mahasiswa Buddhist Jambi (PMBJ), kemarin.

Dikatakan, jika dibandingkan pemerintahan dahulu atau Orde Baru, kini makna pembauran semakin terasa. Contoh kecil, lanjut dia, masyarakat etnis Tionghoa kini telah diberikan kebebasan untuk mengembangkan dirinya, termasuk merayakan berbagai tradisi, budaya dan kesenian.

Sementara dulu, lanjutnya, hal-hal yang berbau etnis Tionghoa sama sekali tidak diperbolehkan. “Kalau dulu, merayakan Imlek saja tidak boleh. Apalagi sampai memasang berbagai pernak-penik Imlek. Tapi sekarang larangan untuk merayakan Imlek itu, tidak ada lagi dan kami sudah sangat merasakan arti pembauran yang sebenarnya,” bebernya.

Tidak itu saja, kata Feri, keberadaan masyarakat etnis Tionghoa juga semakin mendapat pengakuan. Ini dengan adanya media khusus yang menyajikan budaya masyarakat Tionghoa. “Khusus di Jambi misalnya, ada Radio El-Jhon yang sering memutar lagu-lagu Mandarin, atau Jambi Independent yang memiliki rubrik Komunitas Jambi,” terangnya.

Dalam kehidupan sosial sehari-hari pun, kata Feri, hampir tak ada lagi yang membedakan masyarakat etnis Tionghoa dengan non Tionghoa. “Sekarang ini semuanya terletak pada individu etnis Tionghoanya sendiri, mau membuka diri atau tidak,” tegasnya.

Hanya saja, sambung Feri, di tengah pembauran masih ada perlakuan diskriminasi yang sering dirasakan masyarakat etnis Tionghoa. Salah satunya, jika berhubungan dengan aparat pemerintahan atau penegak hukum. “Diakui atau tidak perlakuan diskriminasi itu masih ada, misalnya saja saat mengurus izin-izin tertentu, biasanya biaya yang dibebankan kepada kami lebih tinggi,” ungkapnya.

Mulai merasakan makna pembauran yang sebenarnya juga diungkapkan Junaidi, pengurus Paguyuban Marga Sosial Tionghoa Jambi. Menurutnya, makna pembauran yang sebenarnya baru dirasakan masyarakat etnis Tionghoa Jambi, setelah dikeluarkannya Keppres No.6/2000 tentang keagamaan, kepercayaan dan adat-istiadat Tiongkok termasuk di dalamnya perayaan Imlek.

“Dengan keluarnya Keppres ini, untuk pertama kalinya tahun baru Imlek dirayakan secara nasional pada tanggal 17 Februari 2002. Bahkan, pada waktu itu Presiden Megawati Soekarno Putri menetapkan tahun baru Imlek sebagai hari libur nasional yang jatuh pada 1 Februari 2003 atau bertepatan dengan perayaan Tahun Baru Imlek 2554,” bebernya.

Dengan dikeluarkan Keppres ini, kata Junaidi, dengan sendirinya telah membuka ruang kebebasan yang lebih luas bagi masyarakat Tionghoa untuk merayakan kegiatan keagamaan, kepercayaan dan adat istiadatnya dibandingkan dengan masa pemerintahan Orde Baru yang justru memasung kebebasan etnis Tionghoa melalui Inpres No.14/1967 yang mengatur tentang semua bentuk perayaan keagamaan, kepercayaan dan adat istiadat Tiongkok dilakukan dalam ruang tertutup dan dalam lingkungan keluarga.(*)

One thought on “Saatnya Saling Membuka Diri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s