Bisnis

Home Industry

Onny, Ibu Rumah Tangga yang Menjadi Eksportir

Lantaran biasa memiliki kesibukan, setelah menikah Onny Meilani Sarassasi tak bisa berdiam diri di rumah. Ia mulai membuat talenan hias yang ternyata diminati banyak orang. Belakangan, ia juga membuat produk pensil hias yang juga berhasil mengundang minat pembeli luar negeri. Bahkan, Onny berhasil memenangi tender Lee Cooper.

SETELAH memasuki dunia pernikahan, Onny Meilani Sarassasi lebih banyak berdiam diri di rumah. Ia mencoba meninggalkan semua kesibukannya yang dulu pernah digeluti hanya untuk menjadi ibu rumah tangga yang baik.

Namun, sikap anteng Onny tak bertahan lama. Kebosanan mulai menyergap batinnya. Seusai mengerjakan segala tugas rumah tangga, ia menjadi tersiksa karena tidak mempunyai kesibukan lain.

Dalam kondisi itu, Onny tak bisa berpangku tangan dan berdiam diri lagi. Sifat lama Onny yang tak bisa diam muncul lagi. Jiwa wirausaha bergejolak, membuatnya ingin terus mempunyai kesibukan.

Onny pun mencari-cari kesibukan menghabiskan waktu luang. Suatu saat, matanya tertuju pada sebuah talenan yang terbuat dari kayu. Sekejab, ide muncul dalam benaknya. Ia menghias talenan itu dengan bunga-bungaan kering, boneka, dan aksesori pemanis lainnya. Itulah cikal bakal usaha yang dia geluti sejak tahun 1997.

Modal Onny adalah keberanian dan tekad kuat. Lihat saja, saat memasarkan hasil karyanya, tanpa malu dia berkeliling dari pintu ke pintu sambil menawarkan dagangan. Ia menawarkan kreasinya tanpa kenal lelah. “Bahkan, pada awalnya, saya dapat banyak penolakan dari toko-toko,” kenangnya.

Perlahan namun pasti, masyarakat di sekitar tempat tinggal Onny mulai mengenal produk buatannya. Bahkan, atas ajakan teman, ia ikut Inacraft, pameran bergengsi bagi para perajin di Indonesia.

Pada tahun 1998, lewat Inacraft, publik mulai mengetahui produk Onny. Bahkan, di situ, talenan hias hasil karyanya mendapatkan respon pasar yang baik. “Saat itu saya langsung panen pesanan dari Malaysia, Brunai, dan Singapura,” tuturnya.

Selama pameran yang berlangsung empat hari itu, Onny bisa menjual 300 buah talenan hias yang ia buat sendiri. “Sepulang dari pameran, saya bukannya istirahat, tapi malah kerja keras harus memenuhi banyak pesanan dari hasil pameran,” katanya.

Waktu itu, Onny mendapat pesanan dari Brunai sebanyak 200 talenan hias dan harus selesai dalam dua minggu. Ia lantas merekrut anak-anak putus sekolah di sekitar rumahnya untuk membantu mengerjakan pesanan itu.

Dengan modal yang berasal dari duit pribadi sebesar Rp 2,5 juta, Onny berusaha untuk memenuhi semua pesanan. Meski waktu cukup sempit, ia berusaha tetap mempertahankan kualitas dan mengirimkan pesanan tepat waktu.

Lantaran komitmen Onny ini, pesanan susulan mengalir. Bahkan, belakangan, pesanan pun tak lagi melulu talenan hias. Ia mulai berekspansi produk. “Ada pesanan dari India berupa pensil dengan hiasan boneka kepala orang India, lengkap dengan busana pengantin dan aksesorinya. Saya langsung menyanggupi meski belum pernah membuat produk itu,” katanya.

Untuk memenuhi pesanan itu, Onny sempat riset ke Pasar Baru bersama saudaranya. Ia sempat jatuh ke got lantaran terlalu memperhatikan hiasan kepala orang India di sana. “Semua saya lakukan untuk memberikan hasil produk yang terbaik dan detil pada pelanggan,” ungkapnya, mengenang.

Berawal dari situ, pensil dengan hiasan boneka atau aksesori buatan Onny pun laris manis. Pada 1999, pesanan lain berdatangan. Dari Eropa sebanyak 3.000 pensil dengan disain berbeda. Dari dalam negeri, sebuah perusahaan permen memesan sekitar 6.000 pensil yang berhiaskan logo perusahaan.

Tahun 2000, Onny berhasil memenangi tender Lee Cooper dalam pembuatan pin dengan tiga buah logo. Meski tak punya pengalaman soal tender, toh Onny tetap dipercaya. “Mungkin mereka terkesan karena saya sudah membawa contoh barang hasil buatan saya sendiri dengan bahan yang berasal dari dalam negeri. Lainnya kan impor,” kata Onny.

9 thoughts on “Home Industry

  1. Wah sayang ya, usaha yang dirintis ternyata harus mengorbankan banyak orang. disamping keluarga sendiri yang dikorbankan. Keluarga orang lain juga harus jadi korban. Ingat ini negara hukum, jadi semua harus ada aturan dan prosedur yang dijalankan, karena sebagai warga negara yang baik harus taat hukum.

  2. Mungkin bisa dijelaskan hubungan antara komentar anda mbak, dengan isi tulisan yang awalnya untuk dijadikan inspirasi bisnis

  3. Waaaaaaaaaaaaah,salut buanget dech ama perjuangannya si mbak…
    ck ck ck…saya kagum. walaupun mbak udh berumah tangga,tp mbak jg bisa sukses d bisnis & kehidupan rumah tanggany, n sekaligus juga menunjukkan bahwa ibu rumah tangga itu bisa juga mandiri…alias gak tergantung dengan suami…
    tapi juga gk boleh besar kepala lho…… atau mengorbankan suami & anak2…
    mbak ini bisa jd inspirasi buat ibu2 rumah tangga lainnya…
    oce dech…. good luck t’rus yach mbak….
    salut..salut..saluuuuut dech!!!

  4. Inovasi nya yahuut..banget….. inovasi apalagi Mbak..setelah..yg 1 ini.. apa meski tggu ..pesenan..yaaa…

    coba di share2 ilmu nya

  5. Bisa kerjasama mendirikan home industri di kota saya(Desa Saya)?? saya tertarik , ini Alamat saya: Dusun : Joho, Desa.Sumberjo, RT/RW : 012/002, Kabupaten Kediri Provinsi Jawa Timur..Saya Tunggu Jawabannya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s