Go Green

Go Green

Saatnya Menyelamatkan Bumi dari Pemanasan Global

MUNGKIN Anda selalu bertanya, mengapa udara kian hari bertambah panas? Atau, mengapa sekarang musim hujan atau kemarau semakin susah diprediksi? Jawaban dari semua pertanyaan ini adalah akibat pemanasan global.

Pemanasan global atawa istilah bekennya global warming merupakan fenomena peningkatan temperatur bumi dari tahun ke tahun. Melonjaknya suhu ini karena terjadi efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan meningkatnya emisi gas-gas berbahaya -seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan chlorofl uorocarbon (CFC)- sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi.

Indonesia menjadi penyumbang gas emisi ketiga terbesar di dunia setelah Amerika Serikat dan China. Hampir 80% gas-gas buangan yang menguap ke udara ini berasal dari pembakaran hutan. Selebihnya dari asap kendaraan? bermotor, pembakaran sampah, dan sebagainya.

Pemanasan global ini tentu saja mempunyai dampak panjang.? Yang paling terasa adalah peningkatan permukaan air laut hingga 3 milimeter setiap tahun akibat mencairnya es abadi di kutub.

Kabar terbaru, suhu yang semakin memanas telah melelehkan balok es abadi beting Wilkins di Antartika pada 28 Februari 2008. Tidak tanggung tanggung, longsoran balok es tersebut berukuran sekitar 415 kilometer persegi. Ini kira-kira sama dengan dua pertiga luas wilayah Jakarta yang mencapai 600 kilometer persegi.

Kenaikan permukaan air laut otomatis membuat pulau-pulau terancam. Departemen Perikanan dan Kelautan menyebutkan sedikitnya ada 24 pulau hilang akibat kenaikan permukaan air laut. Departemen Dalam Negeri juga meramalkan sekitar 2000 pulau-pulau kecil di Indonesia dari Aceh sampai kepulauan Biak, Papua tenggelam karena kenaikan permukaan air laut. Bahkan pada 2080, permukaan air laut diramalkan akan mencapai Monas bila pemanasan global tak segera dicegah.

Mark Lynas, penulis buku Six Degrees, yang meneliti pemanasan global selama delapan tahun, memperkirakan jika suhu bumi melejit 2 derajat saja, beberapa ekosistem laut dan karang bakal musnah seketika. “Jika suhu naik tiga derajat, hutan Amazon yang memasok 20% kebutuhan oksigen dunia juga akan terbakar dan akan melepaskan megaton karbon,” kata Lynas.

Perubahan lingkungan ini tentunya berefek panjang bagi kehidupan manusia. Akibat perubahan cuaca, petani akan sulit meramalkan kapan waktu menanam padi. Tumbuh-tumbuhan akan semakin susah tumbuh lantaran udara semakin panas. Ketersediaan air bersih juga akan jadi kian langka. Ujungujungnya ini akan mengancam kehidupan umat manusia.

Karena itu, saatnya bagi kita untuk berbuat mengurangi gas emisi rumah kaca. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), organisasi pemerhati lingkungan, menuntut agar pemerintah bisa mencegah kebakaran hutan.

Walhi juga menyarankan pemerintah menyediakan angkutan umum yang memadai untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. “Sayang, sosialisasi pentingnya transportasi umum belum memadai,” kata Tori Kuswardono, Koordinator Kampanye Perubahan Iklim Walhi.

Bila semua ini bisa terlaksana mungkin bumi kita tak bakal meriang lagi.

***

Cara Mudah Bersahabat dengan Lingkungan

MENJADI sahabat lingkungan, bukan berarti harus menjadi aktivis lingkungan hidup. Banyak cara bisa kita tempuh untuk menjadikan lingkungan kita bersih dan selalu hijau. Mulailah dengan hal yang sepele. Misalnya, mengelola dan mengolah sampah menjadi kompos.

Kita bisa mencontoh Djamaludin Suryohadikusumo, mantan Menteri Kehutanan era pemerintahan Soeharto. Pensiun jadi menteri, Djamaludin menggeluti sampah nan bau, dan mengolahnya menjadi kompos. Hasilnya, selain kawasan perumahannya bersih, kegiatan itu juga mendatangkan duit lumayan. Semua itu ia lakukan bersama istri dan para tetangganya. Bahkan sejak 2005, ia mulai go public dan membagikan ilmu membuat kompos kepada ribuan orang dari berbagai pelosok ibukota.

Salah satu “murid” Djamaludin adalah Agus Sutrisno. Ketua RT di perumahan Villa Dago Tol Serua, Ciputat Tangerang itu, kini berhasil menggerakkan para tetangganya mengolah sampah rumah tangga. Hasilnya, bukan saja tumpukan sampah tiada, duit pun mengalir dari menjual kompos. “Dana yang masuk menjadi kas RT,” katanya.

Bukan perkara sulit membuat kompos. Siapkan drum atau keranjang cucian. Selanjutnya, tutup bagian dasarnya. Lapisi bagian dalam drum itu dengan bantalan kardus atau sekam. Kemudian lubangi sebanyak lima buah. Selanjutnya, tempatkan wadah itu di tempat tertutup yang tidak terkena hujan. Tempatkan sampah di dalamnya. Seminggu sekali diaduk-aduk. Dua bulan kemudian, kompos sudah jadi. Mudah, bukan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s