Teknologi

Seluler

Bisnis Seluler

Telepon seluler benar-benar sudah merakyat. Tengok saja per Desember 2006 lalu, jumlah pelanggan seluler global system for mobile communication (GSM) mencapai 64 juta.

Sementara total pelanggan layanan tetap nirkabel (fixed wireless) hampir mendekati angka delapan juta. Sedangkan Telkom yang memonopoli layanan telepon tetap (fi xed line) selama bertahun-tahun baru mencatatkan jumlah pelanggan sebanyak 9,2 juta.

Dengan makin banyaknya pelanggan tersebut, tentu tuntutan terhadap pelayanan bakal makin tinggi. Maka, Menterian Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) bakal mengeluarkan aturan mengenai standardisasi layanan telekomunikasi.

“Kami tidak mengatur, kami hanya memberikan formula. Sebab kalau tidak, konsumenlah yang bakal rugi,” kata jurubicara Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi (Ditjen Postel) Gatot S.Dewa Broto. Menurut dia, selama ini industri telekomunikasi merupakan salah satu industri yang aturannya longgar.

Dalam aturan standardisasi itu, Menkominfo membaginya menjadi dua hal, yakni layanan-layanan yang standar serta penetapan tarif atas dan bawah. Namun, standardisasi tarif masih menjadi kontroversi di antara operator dan pemerintah. Secara terperinci, pembahasan standardisasi tarif ini juga masih belum selesai.

Layanan operator harus cepat dan tepat

Dalam hal pelayanan, beleid Menkominfo bakal mengatur beberapa soal. Pertama, tentang layanan pesan singkat alias SMS. Interval waktu pengiriman SMS dan penerimanya tidak boleh lebih dari 30 detik. Sementara jumlah SMS yang gagal hanya tidak boleh lebih dari 0,5% dari seluruh pesan singkat selama setahun.

Ini jelas penting. Soalnya selama ini banyak pelanggan yang mengeluhkan lamanya perjalanan SMS tersebut. Bahkan kadang SMS itu tak sampai.

Kedua

Jawaban operator terhadap panggilan pelanggan, sejak menekan menu berbicara hingga terlayani tidak boleh lebih dari 30 detik. Dan laporan gangguan layanan untuk setiap 1.000 pelanggan tidak boleh melebihi 50 laporan selama periode 12 bulan.

Ketiga

Keempat

Sementara persentase penyelesaian keluhan atas akurasi tagihan tersebut harus selesai dalam waktu 30 hari kerja. Kecuali keluhan yang timbul terkait dengan pihak ketiga.

Kalau tak ada aral melintang, Menkominfo akan meneken aturan ini pada bulan Mei mendatang. “Yah, aturan itu memang harus ada, sebab kan kita sudah bayar mahal,” ujar Ari, seorang pelanggan seluler di bilangan Pejompongan.

Tapi bagaimana kalau operator ngeyel, tidak mau menjalankannya? Pemerintah berharap masyakarakat yang aktif. “Mengadulah ke kami. Dan kami akan mengundang pihak operator untuk memberikan klarifi kasi,” kata Gatot.

Wah kalau begitu, apa tidak lebih baik pemerintah proaktif? Kan, pemerintah tinggal memberi sanksi operator yang melanggar. Jangan sampai aturan yang bagus ini jadi macan kertas doang.

, soal komplain tagihan pascabayar. Persentase keluhan atas akurasi tagihan dalam satu bulan tidak boleh lebih dari 5% dari jumlah seluruh tagihan pada bulan tersebut., operator harus memenuhi aktivasi prabayar tidak lebih dari 24 jam. Sementara untuk aktivasi pascabayar, operator harus mengabulkan dalam tempo tidak lebih dari lima hari. , layanan customer service. Operator wajib menyediakan layanan pelanggan 24 jam setiap hari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s