kesehatan

Kesehatan Gratis

Benarkah Kesehatan Gratis Itu Ada?

Kesehatan Gratis hampir selalu dikampanyekan setiap pasang calon yang akan maju dalam Pemilihan Kepala
Daerah. Entah karena tidak kreatif mencari janji-janji lain yang bisa diumbar dan dapat memengaruhi masyarakat luas, sehingga dua kata ini masih selalu menjadi komoditi yang laris manis.

Masyarakat pun yang haus pelayanan gratis dan apa-apa yang serba gratis pun terpikat dengan janji manis bak gula. Semua datang mengerubuti tatkala janji dan slogan kesehatan gratis telah didengungkan. Semua menaruh harapan pada sang pemimpin untuk benar-benar memenuhi janji ketika terpilih nanti.

Bicara tentang kesehatan gratis, program ini juga telah dilakukan di Kabupaten Mamuju. Semua masyarakat
yang masuk di ruang perawatan kelas III, terutama pasien yang tergolong miskin, digratiskan biaya pengobatannya.

Tetapi, kejadian yang dialami oleh seorang petani tua bernama Jamuddin yang telah berusia 82 tahun masih
tepat dikatakan memperoleh layanan kesehatan gratis?

Keluhan dan kebingungan Jumadi dan keluarganya berawal ketika pria ini masuk ke RSUD Mamuju, Minggu, 6 April, karena mengidap penyakit asma menahun. Sebelumnya, dia lebih banyak melakukan pengobatan ke rumah sakit dengan rawat jalan. Tetapi penyakitnya sudah semakin parah, sehingga harus rawat inap.

Setelah menjalani pemeriksaan intensif oleh dokter yang meawatnya, kerabat Jamuddin diberi resep yang isinya empat jenis obat generik esensial. Keempat obat yang harus ada untuk mengurangi derita Jamuddin itu adalah Aminopyllin Injeksi, Dexamet Injeksi, Ciproploxacin, dan Spirit 3 CC.

Namun, saat salah seorang kerabat pasien yang bernama Abbas Hafid, hendak menebus obat di apotek Poliklinik RSUD Mamuju, Senin, 7 April, pihak apotek mengaku obat yang diresepkan oleh dokter telah habis stoknya. Apoteker pun tak ingin melangkahi wewenang dokter sehingga dia juga tidak berani mengganti obat yang lain tanpa seizin dokter. Kerabat pasien pun diminta kembali menemui dokter untuk menjelaskan bahwa persediaan obat telah habis.

Kerabat lain pasien, Sudirman, kemudian ditugaskan untuk menemui Direktur RSUD Mamuju, dr Irwan. Dia berharap, sang dokter dapat memberi solusi terhadap habisnya obat yang sangat dibutuhkan omnya. Secarik
kertas berwarna hijau berisi catatan agar dokter yang merawat Jamuddin mengganti obat yang telah diresepkan dengan obat lain yang sepadan atau khasiatnya sama diberikan sebagai pengantar.

Namun, dr Harit Ibrahim yang ditemui kembali oleh kerabat pasien bersikukuh menolak mengganti obat yang telah diresepkan dengan obat jenis lain. Menurutnya, obat yang diresepkan untuk pasiennya merupakan jenis obat standar. “Saya menginginkan pasien yang dirawat sembuh. Obat yang diberikan kepada pasien juga harus mempertimbangkan faktor usia,” katanya kepada kerabat pasien.

Habisnya obat di rumah sakit dan minimnya dana yang dimiliki keluarga pasien, sempat membuat Jamuddin dan keluarganya putus asa. Di sisi lain, obat injeksi yang sebelumnya telah dibeli di apotek juga mulai berkurang. Dr Irwan mengakui beberapa persedian obat generik esensial di gudang obat RSUD Mamuju telah habis.

Tetapi, meskipun satu jenis obat habis, rumah sakit masih memiliki obat jenis lain yang khasiatnya sama dan bisa menggantikan obat yang telah diresepkan. Contohnya, Ciproploxacin dapat diganti dengan antibiotik lain, misalnya Amoxycillin. Rumah sakit juga tidak dapat segera melakukan pengadaan obat karena hanya ditenderkan sekali setahun.

“Saya akan komunikasikan dengan dr Harit. Pasien bisa saja pindah perawatan ke dokter lain, jika dokternya menganggap obat yang diresepkan sudah standar dan tidak mau mengganti dengan jenis lain, sementara pasien tidak memiliki biaya untuk membeli obat sendiri,” tandasnya.

Jika pihak rumah sakit dan dokter yang menangani pasien saling tunjuk tanggung jawab, apakah pasien ini tidak akan bertambah bingung? Mereka hanya menuntut janji pemerintah yang mengayomi masyarakat untuk
memberikan pelayanan kesehatan gratis atau minimal terjangkau dengan pendapatan yang pas-pasan. Setitik air penawar dahaga telah diberikan dengan janji tunggu akan dikomunikasikan dengan dokternya. Sayang,
settitik air itu justru semakin memperbesar rasa haus. Apakah penyakit dan kematian masih akan menunggu?
memang ajal di tangan tuhan. Tetapi manusia harus berusaha. Sendiri atau dibantu orang lain. (arif)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s