Wacana

Kemana Hilangnya Lumbung Beras Itu?

Mereka Juga Bisa Tetap Hidup Tanpa Tergantung dengan Beras

HARGA beras dunia yang semakin membumbung tinggi sejak Maret 2008 membuat beberapa negara pengimpor beras terancam kerawanan pangan. Negara Indonesia yang mengaku negeri makmur tetapi masih tetap mengimpor beras ikut-ikutan mengekspor beras untuk memanfaatkan hukum ekonomi. Beberapa spekulan kapitalisme mencari peluang tingginya harga beras dunia dengan mengekspor beras ke luar negeri. Akibatnya, stok beras dalam negeri sendiri makin berkurang dan telah mengarah ke jurang kelangkaan beras.

Akankan di suatu pagi yang cerah, ketika kita membuka mata, membuka tudung saji, kemudian sudah tidak melihat beras lagi? gentong penyimpanan beras yang kita buka juga sudah tak berisi beras. Lalu apa lagi makanan pokok yang akan kita makan? akankah chaos sebuah negara akan terjadi jika beras sudah tidak kita temui lagi di pasar-pasar. Siapkah kita menggantinya dengan bahan makanan pokok lainnya?

Jauh sebelum pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) No 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan, Sebuah desa di Cimahi Jawa Barat telah memiliki tradisi ketahanan pangan sudah. Saat Orde Baru pada 1995 mencapai swasembada beras dan kemudian menyeragamkan makanan pokok, orang Cirendeu cuek saja.

Mereka tetap setia pada singkong, yang diolah sedemikian rupa sehingga saat dihidangkan di atas meja makan, nyaris tak ada bedanya dengan nasi dari beras. Makanan khas tersebut bernama rasi. Rasi merupakan akronim dari beras singkong.

Mulanya, warga Cirendeu mengonsumsi beras, seperti daerah-daerah lainnya di Indonesia. Tapi, sejak 1924, mereka beralih ke singkong. Bukan karena tak bisa menanam padi atau tak punya uang, mereka –berangkat dari kearifan lokal mencoba hidup lebih realistis.
Kesadaran tersebut, semakin menguat menyusul terjadinya kelaparan di desa itu. Saat itu, Belanda yang menguasai wilayah Jawa Barat, merampas hasil bumi termasuk beras di desa yang dihuni 60 kepala keluarga (KK) itu. Bingung melihat persoalan itu, sesepuh Cirendeu, Haji Nur Ali, kemudian bertanya kepada seorang tokoh bernama Pangeran Madrais. Petunjuknya ternyata sederhana, kalau tak adanya beras membuat masyarakat di sana kelaparan, ya berhenti mengonsumsi beras.

Pesan sederhana yang diperoleh dengan cara berguru itu, kemudian disampaikan Haji Nur Ali kepada warga Cirendeu. Sebagai gantinya, masyarakat diminta mengonsumsi singkong. Mulanya masyarakat tak biasa. Bingung. Tapi, kelapangan hati untuk mematuhi pesan sesepuh, membuat masyarakat Cirendeu mengonsumsi umbi bernama latin Manihot utilisima itu. Bila mulanya mereka hanya merebus, belakangan mereka menemukan keterampilan untuk membuat singkong tampil mirip nasi.

Rasi dibuat dengan cara memarut singkong. Parutan diperas, kemudian airnya mereka diamkan semalam. Selanjutnya aci-nya dipisahkan untuk dijual lagi sebagai kanji dan gaplek. Ampasnya yang masih menyisakan sedikit sari singkonglah yang dijadikan rasi. Setelah ampas itu dikeringkan, kemudian ditumbuk sampai halus. Dalam kondisi seperti ini, rasi bisa disimpan sampai tiga tahun. Saat hendak dihidangkan, tinggal dicampur air dingin sehingga membentuk gumpalan-gumpalan mirip butiran beras, lalu dikukus 10 menit.

Tapi, bergizikah rasi yang sudah dikeluarkan sari patinya itu? Laboratorium Institut Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor telah menelitinya. Hasilnya, setiap 100 gram rasi, ada energi 359 kkal, protein 1,4 gram, lemak 0,9 gram, dan karbohidrat 86,5 gram.

Bandingkan dengan beras yang setiap 100 gram mengandung energi 360 kkal, protein 6,8 gram, lemak 0,7 gram, dan karbohidrat 78,9 gram. Atau, bandingkan dengan tepung terigu, yang per 100 gram mengandung energi 365 kkal, protein 8,9 gram, lemak 1,3 gram, dan karbohidrat 77,3 gram. Selain itu, singkong yang menjadi bahan baku rasi itu mengandung berbagai zat penting lain untuk tubuh seperti kalsium, fosfor, zat besi, vitamin B dan C, serta amilum.

Data di atas memperlihatkan betapa kandungan gizi rasi tak inferior dibanding beras dan terigu yang diimpor jauh-jauh dari Amerika. Bukti bahwa rasi bergizi, bisa dilihat nyata di sana. Tak ada gizi buruk, tak perlu mengedrop beras miskin (raskin). ”Saya pernah ke Cirendeu, tak ada yang kekurangan gizi. Indikasinya gampang. Anak-anak usia lima tahun matanya bening-bening. Usia mereka juga panjang-panjang,” kata Kepala Badan Ketahanan Pangan Departemen Pertanian, Kaman Nainggolan.

Mengonsumsi rasi, menurut Emen Sunarya, juga membuat hemat. Saat ini, harga satu kilogram rasi hanya Rp 3.000. Beras telah mencapai Rp 5.000 per kilogram. Lebih hemat lagi, karena mengonsumsi rasi tak perlu sebanyak nasi. ”Sedikit juga sudah bikin kenyang,” kata Emen. Emen mengatakan, kekuatan tubuh orang yang mengonsumsi rasi tak perlu diragukan. ”Orang Cirendeu dengan berat 50 kilogram dapat memikul beban satu kuintal,” ujar pria berusia 71 tahun itu, bangga.

Memakan singkong tak hanya dilakukan warga Cirendeu. Warga sekitar pun ikut mencontohnya. Di setiap acara kumpul-kumpul antarwarga desa, ada dua jenis nasi yang selalu terhidang di atas meja, yaitu nasi dari beras dan rasi made in Cirendeu. Kalau rasi bergizi, dan bahan bakunya mudah didapat, mengapa harus selalu bergantung pada beras?

Inti persoalan pertanian kita adalah terlanjur mengikuti program revolusi hijau dalam bentuk pola pertanian yg berasupan tinggi, sehingga kebutuhan petani akan input dari luar sangat tinggi. Ditambah program penghentian subsidi pertanian, maka para petani dibiarkan ‘fight’ sendiri dgn para pemilik modal yg memasok produk pertanian.

tu sama artinya dgn membunuh pelan-pelan. Adalah suatu paradoks besar, kesepakatan internasional yg dikawal WTO terhadap masalah pertanian ini, diterapkan dengan sungguh-sungguh oleh negara berkembang, tapi tidak demikian dengan negara maju. Mereka justru melindungi komoditas pertaniannya dgn menerapkan bea masuk (BM) yg tinggi dan subsidi yg mencapai miliaran dollar. Sungguh suatu ironi.

Belum lagi persoalan konversi lahan yg sangat mencemaskan, semakin melengkapi penderitaan. Tengoklah petani gurem kita yg rata-rata memiliki lahan 1/2 ha atau kurang dari 1 ha. Dan jika ada lahan milik negara atau swasta di sekitar lahan petani tsb, banyak dibiarkan menganggur.

Di negara lain seperti Brazil, rata2 petani di sana diberi lahan oleh negara seluas 20 ha dengan rincian, 5 ha untuk tanaman pangan, 5 ha untuk tanaman tahunan, 5 ha untuk peternakan, dan 5 ha untuk tanaman industri. Sungguh indah nian tanpa sastro wardoyo.

350 tahun kita dijajah Belanda,dan itu bukan waktu yang sedikit……

Terlepas dari semua penderitaan dan kesengsaraan yang ditinggalkan si penjajah, namun ada pelajaran sangat berharga yang dapat kita ambil, yaitu Belanda datang untuk mengambil sumberdaya alam kita berupa rempah2 dan hasil perkebunan.

Artinya, selama 350 tahun kultur steelsel yang diterapkan yaitu menanam rempah2 dan komoditas perkebunan seperti kopi,coklat dan teh. Terbukti perkebunan yang dimiliki saat ini juga peninggalan mereka. Pernah pula mereka merajai perdagangan komoditas dunia.

350 tahun mereka paham betul apa yang baik untuk ditanam di tanah Indonesia. Boleh dikata sedikit sekali lahan untuk persawahan (red : padi). Makanan pokok mereka ya tetap kentang.

Setelah merdeka, kita begitu anti Belanda. Semua yang berbau Belanda dimusnahkan, termasuk konversi kebun2 peninggalan mereka untuk areal persawahan. Didukung oleh infrastruktur irigasi yang gegabah dibangunnya, akhirnya membuat Indonesia menjadi negara konsumen beras. Kemana perginya sang air sekarang ini???

Alhasil, kegagalan swasembada disamping produktivitas yang rendah juga dikarenakan kondisi ekologi Indonesia yang sebetulnya tidak proper untuk beras, tapi lebih cocok untuk tanaman keras. Kalaupun kita pernah dikata berhasil mencapai swasembada pangan, maka itu semu saja.

Sekarang semua sudah terlanjur. Perut kita tidak kenyang kalo tidak makan nasi. Padahal otak kita sadar kalau sumber karbohidrat lain seperti sagu, jagung, kentang juga sama saja. Tapi nasi sudah jadi bubur, kering dan jadi aking. Apalagi rezim kita kapitalis yang menghalalkan kelaparan menggunung asal untung (red : harga beras dunia melonjak).

Nasib…nasib. Kapan kita belajar untuk SADAR. Sadar untuk bedakan mana yang boleh ditiru, diteruskan dan atau ditinggalkan dari sejarah. Kalau bicara masalah peluang bisnis, saat-saat seperti inilah yang ditunggu. Harga selangit kita mempunyai barang yang banyak.

Tapi apakah seperti itu?…
Dinegeri Indonesia 1001 malam ini, justru yang terjadi adalah kebalikannya. Kita semua ketakutan kelaparan di dalam lumbung padi. Era dulu kita mampu berswasembada beras, karena memang intensifikasi tanam padi digalakkan. Pemerintah mempunyai “power” untuk memberdayakan potensi ini, sehingga rakyat siap gerak dan juga bisa “merasakan ” hasilnya.

Dewasa ini masyarakat tani banyak tidak tertariknya untuk menanam padi dan justru takut, hal ini disebabkan karena tumpang tindihnya beban yang mereka panen. Beban biaya Operasional dan kerugian. Betapa tidak, pupuk dan ongkos kerja mahal, sedangkan Pemerintah tidak mampu konsisten melindungi petani dari spekulan gabah. Justru para spekulan inilah yang paling banyak meraup untung dari harga beras yang melonjak. Sehingga saat ini petani menyerahkan sepenuhnya kepada spekulan untuk tanam padi sendi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s