Reportase

Ketahanan Pangan

Catatan: Arya Fattah

Ketahanan Pangan Kita yang Makin Lemah

Jumlah penduduk Indonesia semakin bertambah. Ini berarti jumlah penduduk yang mengonsumsi beras sebagai makanan pokok juga terus bertambah.

Kendati demikian, jumlah produksi beras nasional terus menurun. Ancaman utama yang menghantui melemahnya ketahanan pangan nasional adalah kelaparan yang juga menasional.

Masyarakat dipastikan akan kesulitan memperoleh beras yang harganya terus membumbung tinggi. Untuk stabilisasi harga, pemerintah menargetkan membeli 2,4 juta ton beras yang diproduksi dari dalam negeri. Kebutuhan beras nasional kita sendiri mencapai 2,8 juta sampai 3 juta ton pada tahun 2008.

Sejumlah program intensifikasi memang telah diupayakan pemerintah Indonesia mulai tahun 2007 lalu seperti pencetakan sawah. Beberapa daerah yang masih berpotensi untuk memperluas kawasan persawahannya diberikan anggaran yang cukup besar untuk mencetak sawah. Sulbar, salah satu contohnya dberikan target pencetakan sawah hingga 6.000 hektare.

Targetnya adalah surplus beras hingga lima persen. Namun pemerintah seolah lupa. Menambah luas kawasan persawahan tidak serta merta menambah produksi. Ancaman gagal panen akibat banjir atau serangan hama dan penyakit terus terjadi setiap tahun akibat penanganan lingkungan dan pendampingan masyarakat yang tidak maksimal.

Tahun ini saja, khusus di Kabupaten Mamuju, kerugian petani akibat padi puso mencapai Rp15 miliar. Dapat dibayangkan, berapa ton beras petani yang seharusnya menjadi target produksi terbuang percuma akibat banjir dan serangan hama atau penyakit itu.

Ketahanan pangan nasional kita juga perlu mewaspadai berkurangnya suplai beras ekspor dunia. Padahal, permintaan terhadap produksi beras cenderung stabil, sehingga mengakibatkan harga beras semakin terdorong naik.

Meskipun tersedia di pasar dunia, harga beras akan sangat tinggi. Kenaikan-kenaikan yang menyebabkan terbentuknya harga baru di pasaran dunia itu belum termasuk biaya pengapalan dan asuransi serta bunga bank.

Pemerintah harus benar-benar dapat memanfaatkan momentum kenaikan harga beras di pasar dunia. Caranya dengan memproduksi beras sebanyak-banyaknya. Ketika harga beras internasional sudah melampaui harga beras domestik, peluang ekspor terbuka lebar.

Data Bulog, hingga 19 Maret, realisasi pembelian beras dalam negeri dari petani maupun mitra Bulog, seperti perusahaan penggilingan dan pedagang, baru mencapai 148.000 ton, sedangkan volume beras dalam kontrak 237.000 ton. Tahun 2008, Bulog menargetkan pembelian beras dari produksi dalam negeri 2,43 juta ton. Beras itu untuk keperluan beras untuk rakyat miskin atau raskin, untuk stabilisasi harga, antisipasi bencana, keperluan stok Bulog, dan cadangan beras pemerintah.

Kerawanan pangan dengan harga beras yang terus membumbung ini sebenarnya telah diprediksi sejak lima tahun lalu. Pemicunya adalah terjadinya peningkatan konsumsi daging dan susu dunia yang membuat kebutuhan pakan berbahan baku jagung dan kedelai naik. Yang paling telak menghantam pangan adalah kebijakan pengembangan energi dari bahan bakar nabati, seperti biofuel dan biodiesel.

Saat ini beberapa negara, termasuk Indonesia berlomba-lomba mengembangakan energi biofuel. Beberapa komoditi makanan seperti jagung dijadikan bahan baku energi terbarukan misalnya dijadikan etanoi. Sementara produksi tetap, bahkan semakin menurun, sehingga bahan untuk dijadikan makanan praktis berkurang.

Amerika Serikat tahun 2007 menggunakan jagung sebagai bahan baku etanol sampai 48 juta ton dan tahun ini naik menjadi 68 juta ton. Sekadar catatan, produksi jagung Indonesia hanya 15 ton. Fenomena tersebut mengakibatkan terjadinya perebutan lahan pertanian. Akibatnya, harga pangan melonjak.

Harga beras tahun 2002 hanya 165 dollar AS per ton, tahun 2007 naik menjadi 330 dollar AS, dan tahun 2008 harga pembelian beras Vietnam oleh Filipina pada kontrak terakhir mencapai 680 dollar AS.

Ancaman ketahanan pangan ini lebih menggetarkan dibanding melambungnya harga minyak dunia. harga beras pun melompat tinggi mencapai US$700 per ton, yang merupakan level tertinggi dalam 20 tahun terakhir. Kenaikan harga beras itu, bila berkepanjangan, akan menyulitkan 2,5 miliar penduduk negara berkembang yang bergantung pada beras. Sudah pasti, termasuk jutaan anak bangsa ini.

Dan, dampaknya panjang. Sebab orang miskin yang kelaparan adalah amunisi bagi meledaknya kerusuhan sosial. Potensi munculnya kerusuhan itu adalah peringatan yang dipetik dari sejarah. Hal itu diungkapkan Robert Zeigler, Direktur Lembaga Penelitian Beras Internasional (International Rice Research Institute/IRRI) yang berkantor pusat di Manila. Ia bahkan secara khusus menyatakan kekhawatirannya terhadap Indonesia, yang terancam kekurangan stok beras akibat banjir dan mahalnya impor.

Kekhawatiran yang layak didengarkan. Sebab banjir hingga kini masih terus berlanjut di berbagai belahan Nusantara. Padahal, tanpa banjir sekalipun, seandainya musim berjalan normal sekalipun, negara ini tidak akan mendadak mampu swasembada beras. Negara ini adalah negara agraris yang ironis, yaitu pengimpor beras.

Sebagai negara pengimpor beras, kenaikan harga beras dunia itu jelas menambah tekanan yang hebat pada anggaran negara. Tekanan harga beras yang disertai pula dengan kenaikan harga minyak dunia terang membuat negara semakin sulit memikul subsidi. Namun, beras berbeda dengan minyak.

Masalah beras tak dapat diatasi dengan akal-akalan. Pemerintah bisa saja main akal-akalan meniadakan pasokan minyak tanah di Jakarta, namun pasti hal itu tidak bisa dilakukan untuk mengatasi masalah beras. Minyak tanah dapat disubstitusi dengan gas. Dan, sekalipun kelangkaan minyak tanah menimbulkan kekecewaan rakyat, tak sampai menjadi pemicu kerusuhan sosial. Sebaliknya, mengganti beras dengan makanan pokok lainnya adalah urusan yang sangat panjang, sepanjang peradaban anak bangsa ini. Dan kelangkaan beras adalah amunisi yang dahsyat bagi pecahnya revolusi dari kalangan miskin.

Oleh karena itu, kenaikan harga beras dunia mestinya tidak boleh dipandang dengan pendekatan normatif. Juga tidak boleh dilihat dengan optimisme yang berlebihan. Misalnya, dengan jawaban bahwa keadaan beras kita tidak mengkhawatirkan karena iklim tidak terlalu ekstrem. Bahwa di satu sisi banyak hujan dan banyak yang puso, tetapi di sisi lain banyak lahan yang bisa digunakan untuk menanam padi, seperti diungkapkan Menteri Pertanian Anton Apriyantono.

Penjelasan Menteri Pertanian itu melegakan, tetapi tidak cukup meyakinkan. Tidak cukup meyakinkan karena memang negara tidak memiliki politik pertanian yang tegas dan konsisten. Harga beras dunia melambung tinggi dan krisis pun harus diantisipasi. Celakanya, krisis cenderung tertutupi oleh percaya diri. Krisis pun dapat tak terlihat karena memudarnya kepekaan.

Namun, krisis juga bisa disembunyikan ketakutan menghadapi kenyataan. Semua itu menjadi terlalu berbahaya untuk krisis beras. Beras urusan perut dan ia tidak dapat diatasi dengan penjelasan yang manis dan rasional. Sekali krisis beras datang, yang tersisa adalah penyesalan yang panjang karena harga yang dibayar terlalu mahal. (BERBAGAI SUMBER)

One thought on “Ketahanan Pangan

  1. MARI KITA BUAT PETANI TERSENYUM KETIKA DATANG PANEN
    Petani kita sudah terlanjur memiliki mainset bahwa untuk menghasilkan produk pertanian berarti harus gunakan pupuk dan pestisida kimia. NPK yang terdiri dari Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama sudah merupakan kebutuhan rutin para petani kita.
    Produk ini dikenalkan sejak tahun 1969 oleh pemerintah saat itu, karena berdasarkan penelitin tanah kita yang sangat subur ini ternyata kekurangan unsur hara makro (NPK). Setelah +/- 5 tahun dikenalkan dan terlihat peningkatan hasilnya, maka barulah para petani mengikuti cara tanam yang dianjurkan tersebut. Hasil pertanian mencapai puncaknya pada tahun 1985-an. Saat itu Indonesia swasembada pangan.
    Petani kita selanjutnya secara fanatis dan turun temurun beranggapan bahwa yang meningkatkan produksi pertanian mereka adalah Urea, TSP dan KCL, mereka lupa bahwa tanah kita juga butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau, sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK dan pengendali hama kimia saja.
    Mereka para petani juga lupa, bahwa penggunaan pupuk dan pengendali hama kimia yang tidak bijaksana dan tidak terkendali, sangat merusak lingkungan dan terutama tanah pertanian mereka semakin tidak subur, semakin keras dan hasilnya dari tahun ketahun terus menurun.
    Tawaran solusi terbaik untuk para petani Indonesia agar mereka bisa tersenyum ketika panen, maka tidak ada jalan lain, perbaiki sistem pertanian mereka, ubah cara bertani mereka, mari kita kembali kealam.
    System of Rice Intensification (SRI) pada tanaman padi yang digencarkan oleh SBY adalah cara bertani yang ramah lingkungan, menghasilkan produk yang terbebas dari unsur-unsur kimia berbahaya, kuantitas dan kualitas hasil juga lebih baik, belum mendapat respon positif dari para petani kita. Mungkin ini walaupun hasilnya sangat menjanjikan, tetapi sangat merepotkan petani dalam teknis budidayanya.
    Petani kita sudah terlanjur termanjakan oleh system olah lahan yang praktis dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, sehingga sangat berat menerima metoda SRI ini. Mungkin tunggu 5 tahun lagi setelah melihat petani tetangganya berhasil menerapkan pola tersebut.
    Atau mungkin solusi yang lebih praktis ini dapat diterima oleh para petani kita; yaitu “BERTANI SISTEM GABUNGAN POLA SRI DIPADUKAN DENGAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK NASA”. Cara gabungan ini hasilnya tetap ORGANIK yang ramah lingkungan seperti yang dikehendaki oleh pola SRI, tetapi cara pengolahan lahan/tanah lebih praktis, dan hasilnya bisa meningkat 60% — 200% dibanding pola tanam sekarang.
    Semoga petani kita bisa tersenyum ketika datang musim panen.
    AYOOO PARA PETANI DAN SIAPA SAJA YANG PEDULI PETANI.
    SIAPA YANG AKAN MEMULAI? KALAU TIDAK KITA SIAPA LAGI?
    KALAU BUKAN SEKARANG KAPAN LAGI?
    GUNAKAN PUPUK DAN PENGENDALI HAMA ORGANIK NASA UNTUK TANAM PADI DAN BERBAGAI KOMODITI. HASILNYA TETAP ORGANIK.
    KUALITAS DAN KUANTITAS SERTA PENGHASILAN PETANI MENINGKAT, RAKYAT MENJADI SEHAT, NEGARA MENJADI KUAT.
    omyosa, 08159927152
    papa_260001527@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s