ADVENTURE

Sang Pemecah Batu

Menengok Aktivitas Pekerja Pemecah Batu di Kabupaten Majene

Pekerjaan Musiman,  Berpenghasilan Kurang dari Rp 15 Ribu Perhari

 DI SEPANJANG tepi jalan poros Kecamatan Tubo Sendana, Majene, bertumpuk batu-batu berukuran kecil. Batu cipping yang telah diubah ukurannya dengan cara tradisional ini siap dibeli pedagang pengumpul untuk digunakan pada proyek pengerjaan jalan.

 SUARA batu yang berdesing dan beradu dengan suara besi telah terdengar sejak pagi hari di beberapa desa di Kecamatan Tubo Sendana, Majene. Kerasnya hantaman batu yang dilakukan beberapa warga yang berprofesi sebagai pemecah batu di sepanjang pantai perairan Majene, nyaris mengalahkan suara debur ombak yang menerjang bibir pantai.

Batuan beku yang cukup banyak terhampar di tepi pantai, mereka ubah menjadi batu yang berukuran lebih kecil atau cipping. Batu inilah yang digunakan sebagai salah satu bahan dasar pada proyek pengaspalan atau pengerjaan jalan di beberapa wilayah di Sulawesi Barat.

Muh Idris, 55, yang bekerja memecahkan batu di bawah rimbunnya pepohonan yang tumbuh di sekitar pantai, mengaku telah menggeluti pekerjaan tersebut sejak setahun yang lalu. Diakuinya, hasil yang diperoleh dari pekerjaan memecahkan batu yang berukuran sekepalan tangan hingga bongkahan yang berpuluh kali lebih besar, tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan.

“Tapi mau apalagi. Daripada tinggal saja di rumah dan tidak ada yang bisa dikerjakan, lebih baik mencari penghasilan lain. Memang ada kebun dan sawah, tetapi kan tidak selamanya digarap. Jadi kami harus mencari penghasilan tambahan,” tuturnya saat ditemui sedang memecahkan batu dibantu istri dan anaknya.

Ayah yang telah dikaruniai tujuh orang putra itu mengaku hanya mampu memecahkan batu tidak lebih dari setengah kubik per hari. Batu yang dipecahkannya dipisah menjadi dua bagian. Satu bagian berukuran sekira lima sentimeter yang disebutnya batu kecil dan bagian lainnya berukuran sekira 10 sentimeter atau batu sedang.

Batu yang telah dipecahkan langsung dibeli oleh pedagang pengumpul menggunakan truk. Satu kubik batu berukuran kecil dibeli dengan harga Rp 50 ribu. Batu berukuran sedang dibeli pedagang pengumpul dengan harga Rp 40 ribu per kubik. Pemecah batu menggunakan keranjang untuk mengukur kubiksasi batu yang dijual. Untuk memperoleh satu kubik batu yang telah diubah ukurannya, pemecah batu harus mengisi 25 keranjang.

“Kami kerja mulai pagi sampai sore. Batu yang bisa dipecahkan paling banyak sekitar setengah kubik perhari,” katanya. Pekerjaan memecahkan batu ini, ungkapnya, hanya bersifat musiman dan sambilan. Batu-batu yang telah diubah ukurannya, hanya akan dibeli oleh pedagang pengumpul kalau ada proyek pengerjaan jalan. Jika proyek berakhir, maka suara desingan batu yang beradu dengan besi juga berakhir. Tak ada pekerjaan yang tak berisiko. Demikian juga dengan pekerjaan sebagai pemecah batu.

Hasan, pemecah batu lainnya, mengaku jari tangan yang memegang batu terhantam palu sendiri. “Tapi itulah risiko kerja. Yang penting ada uang yang dipakai untuk makan dan sekolah anak-anak,” kata Hasan dengan polos dan berharap anaknya dapat melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Pekerjaan ini tak jarang dilakukan oleh anak-anak usia sekolah dasar.

Bahkan pada sebuah perjalanan di malam hari sekira pukul 20.00 Wita di Desa Onang Utara, Majene, Saya menjumpai sekelompok anak-anak yang memecahkan batu. “Kami sudah belajar malam jadi sudah bisa pukul-pukul batu. Batu ini kami kumpulkan untuk dijual,” kata Amir, salah seorang dari lima bocah yang berkumpul itu. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s