Reportase

Mereka Kesulitan Air Bersih

Keluh-kesah Sulitnya Warga Galung Lengke, Mamuju, Sulbar memperoleh Air Bersih

Tak Setetes Air Mengalir dari Tangki Hidran itu

PROYEK perpipaan air bersih seharusnya menjadi sumber mata air kehidupan bagi Warga Lingkungan Galung Lengke dan Puncak Indah, Mamuju. Sayang, tak setetes air pun mengalir dari tangki hidran penampungan berwarna jingga itu.

LOKASI perkampungan warga Lingkungan Galung Lengke dan Puncak Indah, Kelurahan Bebanga, Kecamatan Kalukku, Mamuju hanya berjarak sekira satu sampai tiga kilometer dari sumber mata air. Proyek perpipaan air bersih yang dirampungkan akhir 2006 ini memanfaatkan mata air di hulu sungai Lengke.

Air bersih yang didistribusikan menggunakan pipa paralon itu seharusnya telah dinikmati secara maksimal oleh 88 kepala keluarga di Lingkungan Galung Lengke dan 40 kepala keluarga i Lingkungan Puncak Indah. Namun, air bersih yang diperoleh langsung dari keran hidran hanya dinikmati oleh masyarakat kurang dari satu bulan.

Perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Mamuju sangat diharapkan oleh masyarakat agar proyek bernilai Rp650 juta ini tidak menjadi barang mubazir yang kurang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Fasilitas air bersih ini menggunakan sembilan tangki hidran yang ditempatkan di Galung Lengke dan tujuh tangki hidran di Lingkungan Puncak Indah.

Dari 16 tangki hidran yang ada di dua lingkungan tersebut, hanya satu tangki yang masih dapat berfungsi dengan baik, yakni tangki yang berlokasi di Lingkungan Puncak Indah, dekat dengan sumber air. Tangki lainnya hanya menjadi sekadar barang pajangan yang sudah tidak pernah terisi air atau hanya dijadikan sebagai tempat jemuran pakaian.

Kepala Lingkungan Galung Lengke, Zainuddin, yang ditemui di kediamannya, Minggu, 28 Oktober, mengungkapkan bahwa proyek air bersih tahun 2006 itu telah mengalami kerusakan sejak dikerjakan. “Masyarakat cuma menikmati air bersih dari bak penampungan tidak cukup satu bulan. Sudah berkali-kali kami minta ke pimpinan dan pengawas proyek untuk diperbaiki. Tetapi kami hanya dijanji dan tidak ditepati,” kelunya.

Menurutnya, penyebab air bersih tidak lagi mengalir ke tangki hidran karena beberapa pipa paralon telah patah atau terlepas sambungannya. Masyarakat kemudian berinisiatif memasukkan slang yang berpuluh-puluh meter panjangnya dari rumah masing-masing ke dalam pipa utama yang telah patah untuk memperoleh air bersih yang debitnya sangat kecil.

Sambungan pipa, kata dia, tidak akan bertahan lama jika pemasangannya tidak rapat seperti pada proyek di Galung Lengke. Beberapa pipa bahkan tidak menggunakan sambungan, melainkan hanya memanaskan pipa kemudian memasukkan ujung pipa lainnya.

Debit air pada bak penampungan dan bak pembagi yang masing-masing berukuran 4×4 meter sebenarnya cukup besar. Hanya saja, pada saat musim kemarau, air akan menyusut karena terdapat kebocoran pada dasar bak penampungan.

Penna, salah seorang ibu rumah tangga di Lingkungan Galung Lengke, mengaku harus mandi di sungai atau di kebunnya karena air kadang terbatas. Dengan debit air yang sangat kecil, masyarakat harus berbagi dengan menggunakan puluhan slang berukuran sekira 2,5 inchi. Di sepanjang sisi jalan berasal kasar itu, puluhan selang saling melintang bak ular berwarna biru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s