sains

Letak Geografis Kabupaten Majene dan Mamuju

Kabupaten Majene dan Mamuju, termasuk dalam wilayah Provinsi Sulawesi Barat. Secara geografis Kabupaten Majene terletak diantara 118°46’15,9” – 119°6”9,06”’ Bujur Timur dan 2°51”30,71’ – 3°34’15,69” Lintang Selatan, sedangkan Kabupaten Mamuju terletak diantara 118°45’21,55” – 119°45’46,79” Bujur Timur dan 2°12’25,47” – 2°55’28,1” Lintang Selatan.

Sumber daya mineral non logam yang terdapat di Kabupaten Majene adalah dasit, batugamping, lempung, sirtu, zeolit dan lempung bentonitan. Selain itu dari data sekunder, terdapat beberapa indikasi batubara dan pasir besi. Sumber daya mineral non logam yang ditemukan di Kabupaten Mamuju adalah andesit, batugamping, granit, lempung, marmer, sirtu, mika dan felpar.

Dari data sekunder juga terdapat beberapa indikasi batubara, emas, dan tembaga. Di Kabupaten Majene, sumber daya hipotetik dasit sebesar 825.000 ton, batugamping 139.045.500 ton, lempung 125.000 ton dan zeolit sebesar 2.400.000 ton, di Kabupaten Mamuju, sumber daya hipotetik batugamping sebesar 6.000.000 ton, dan marmer 500.000 ton.

Kabupaten Majene

berada di sebelah selatan Kabupaten Mamuju, dengan
batas sebelah barat Selat Makasar, sebelah selatan Teluk Mandar dan sebelah timur Kabupaten Polmas. Kabupaten Majene yang beribukota di Majene, luasnya 947,84 kilometer persegi, dan secara geografis terletak pada 118°46’15,9” – 119°6”9,06”’ BT dan 2°51”30,71’ – 3°34’15,69” LS.

Sebelum pemekaran, Kabupaten Mamuju merupakan kabupaten paling utara dari Provinsi Sulawesi Selatan, setelah pemekaran terletak di selatan Kabupaten Mamuju Utara, Provinsi Sulawesi Barat, dengan ibukota
Mamuju. Kabupaten ini merupakan pusat pemerintahan Pemprov Sulbar dan sekaligus ibukota Sulawesi Barat.

Kabupaten Mamuju dibatasi oleh Selat Makasar di sebelah barat, sebelah timur oleh Kabupaten Luwu dan Tana Toraja, serta sebelah selatan oleh
Kabupaten Majene dan Mamasa. Secara geografis terletak diantara 118°45’21,55” – 119°45’46,79” BT dan 2°12’25,47” – 2°55’28,1” LS.

Kabupaten Mamuju dan Majene terletak pada jalur jalan lintas Sulawesi, yang memanjang dari Makassar sampai Palu, sehingga dapat dicapai dengan pesawat udara jurusan Bandung-Jakarta-Ujung Pandang, kemudian diteruskan dengan kendaraan darat bermotor roda empat.

Secara fisiografi, wilayah Provinsi Sulawesi Barat termasuk dalam Mandala Geologi Sulawesi Barat, atau merupakan bagian tengah dari Busur Volkanik Sulawesi Barat, yang yang didominasi oleh batuan
plutonik-volkanik Paleogen – Kuarter serta batuan-batuan sedimen dan metamorfik Mesozoik – Tersier.

Geologi umum daerah Kabupaten Mamuju dan Majene, disarikan dari kerangka geologi Indonesia (Herman Darman dan Hasan Sidi, 2000), yang diterbitkan Ikatan Ahli Geologi Indonesia, juga dari Geologi Lembar Mamuju (Ratman dan Atmawinata, 1993) dan Geologi Lembar Majene dan Bagian Barat Lembar Palopo (Djuri, dkk., 1998), Sulawesi, skala 1:250.000, yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi.

Sejarah geologi daerah penyelidikan di Kabupaten Majene dan Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat dimulai pada zaman Kapur dengan pengendapan Formasi Latimojang (Kls) yang terdiri dari batusabak, kuarsit, filit, batupasir, kuarsa malih, batulanau malih dan pualam, setempat batulempung malih.

Formasi Latimojong ditutupi secara tidak selaras oleh Formasi Toraja (Tet) yang terdiri dari perselingan batupasir kuarsa, serpih dan batulanau, dengan sisipan konglomerat kuarsa, batulempung karbonan, batugamping, napal, batupasir hijau, batupasir gampingan dan batubara, setempat dengan lapisan tipis resin dalam batulempung, berumur Eosen.

Anggota Rantepao, Formasi Toraja (Tetr) diendapkan bersamaan dengan Formasi Toraja (Tet) terdiri dari batugamping numulites dan batugamping terhablur ulang, sebagian tergerus, dan berumur Eosen. Formasi Mapi (Tmpm) diendapkan secara tidak selaras di atas Formasi Toraja dan
Anggota Rantepao, Formasi Toraja, terdiri dari batupasir tufaan, batulanau, batulempung, batugamping pasiran dan konglomerat.

Kandungan fosil foraminifera menunjukkan umur Miosen Tengah – Pliosen. Formasi Mapi tersingkap di S. Mapi, setebal ± 100 m. Secara bersamaan, pada kala Miosen Tengah diendapkan Batuan Gunungapi (Tmv) dan Tuf Beropa (Tmb). Batuan Gunungapi terdiri dari
breksi gunungapi, tuf dan lava andesitikbasaltik, sisipan batupasir, napal, dan setempat batubara, sedangkan Tuf Beropa terdiri dari perselingan tuf dan batu pasir tufaan, sisipan breksi gunungapi dan batupasir wacke.
Formasi Sekala (Tmps) diendapkan menjari dengan Batuan Gunungapi (Tmv) terdiri dari batupasir hijau, grewake, napal, batulempung dan tuf, sisipan lava bersusunan andesit-basal, berumur Miosen Tengah –
Pliosen.

Formasi Mandar (Tmm) terdiri dari batupasir, batulanau dan serpih, berlapis baik, mengandung lensa lignit, yang berumur Miosen Akhir. Tebalnya mencapai 400 m, diendapkan dalam lingkungan laut dangkal
sampai delta. Pada Lembar Mamuju formasi ini disebut Formasi Mamuju (Ratman dan Atmawinata, 1993), didominasi oleh napal dan batugamping dengan sisipan tuf, batupasir dan konglomerat.

Formasi Mamuju diendapkan bersamaan dengan Anggota Tapalang Formasi Mamuju (Tmmt) yang terdiri dari batugamping terumbu, batugamping kepingan dan napal. Keduanya menjemari dengan formasi Batuan Gunungapi Talaya (Tmtv). Disusul oleh Formasi Lariang (Tmpl) yang terdiri dari perselingan antara konglomerat dan batupasir, sisipan batulempung dan setempat tuf, berumur Miosen Akhir – Pliosen.

Formasi-formasi diatas diterobos oleh granit, granodiorit, riolit, diorit dan aplit (Tmpi). Napal Pambuang (Qpps) diendapkan diatas Formasi Mapi (Tmpm), Formasi Mandar atau Mamuju (Tmm), Anggota
Tapalang, Formasi Mamuju (Tmmt), Formasi Batuan Gunungapi Talaya (Tmtv) dan Formasi Sekala (Tmps), terdiri dari napal tufan, serpih napalan mengandung nodul, batupasir tufan, dan lensa-lensa konglomerat;
mengandung fosil foraminifera yang menunjukkan umur Plistosen. Tebal satuan sekitar 300 m, dan kemungkinan terendapkan di lingkungan laut dangkal.

Formasi Budong-Budong (Qb) diendapkan secara selaras diatasnya, terdiri dari konglomerat dan batupasir, setempat sisipan batugamping dan batulanau, berumur Plistosen – Holosen. Batugamping Koral (Ql) diendapkan menjari dengan Formasi Budong-Budong (Qb), terdiri dari batugamping terumbu dan batugamping bioklastika, berongga, setempat dengan moluska, berumur Plistosen – Holosen. Endapan Aluvial dan Endapan Pantai (Qal) yang terdiri dari lempung, lanau, pasir dan kerikil merupakan endapan termuda berumur Holosen.

Struktur Geologi

Pengaruh tumbukan lempeng Pasifik, Benua Asia dan Australia terhadap.
Sulawesi adalah bersatunya bagian barat dan bagian timur Sulawesi yang berbentuk K, terbentuknya jalur gunungapi dalam Mandala Geologi Sulawesi Barat, serta terjadinya sesar Palu-Koro yang berarah baratlaut – tenggara. Di daerah Kabupaten Mamuju dan Majene berkembang beberapa sesar ikutan atau sesar sekunder yang berarah hampir barat – timur.

Inventarisasi bahan galian non logam di daerah Kabupaten Majene dilakukan baik melalui kajian dari laporan penyelidikan terdahulu (data sekunder) maupun pengamatan langsung di lapangan (data primer). Hasilnya, bahan galian yang terdapat di Kabupaten Majene adalah dasit,
batugamping, lempung, sirtu, zeolit, dan lempung bentonitan. Disamping itu, juga diketahui adanya indikasi keterdapatan batubara dan pasir besi.

Dasit

Bahan galian dasit terdapat di Kelurahan Lalampanua, Kecamatan Pamboang, sebagai lava yang dijumpai berasosiasi dengan breksi
gunungapi, yang merupakan bagian dari Formasi Mandar atau Mamuju.
Secara petrografis, dasit tersebut terdiri dari 50% mikrokristalin felspar, 20% kuarsa, 13% plagioklas, 12% biotit, 2% kalsedon, 2% epidot, dan 1% mineral opak. Batuan dasit tersingkap dengan ketinggian antara 3-5
meter, sedangkan tinggi perbukitan rata-rata 15 meter, dengan luas sebaran ± 3 ha.

Besarnya sumber daya ditaksir sebesar 625.000 ton. Bahan galian ini menempati morfologi perbukitan Terjal, sering terkekarkan dan di
beberapa tempat longsor sehingga sangat berbahaya bagi pengguna jalan, terutama di sisi jalan utama Majene-Mamuju. Pemerintah setempat merencanakan untuk bekerjasama dengan investor dari Brunai Darulsalam dalam mengembangkan dasit ini sebagai bahan bangunan.

Batu Gamping

Bahan galian batugamping tersebar di beberapa lokasi, diantaranya di Desa Tubo dan Desa Onang, Kecamatan Sendana. Menurut Yasril Ilyas dkk (1985), kandungan kimia yang penting adalah 52,99% CaO; 1,93%
SiO2; 0,98% Al2O3; 0,60% Fe2O3; dan 0,35% MgO.

Batugamping juga terdapat di Desa Tamo, Kelurahan Baurung, Kecamatan Banggae, sebagai penyusun utama Endapan Aluvial Pantai (Qal) yang berasosiasi dengan batupasir tufaan, batulanau, batulempung dan konglomerat. Di lapangan batugamping ini berwarna putih kotor sampai keabu-abuan, keras – lunak, sangat pelapukan, berbutir halus – sedang, tersebar pada morfologi pedataran yang tumbuhi coklat dan ilalang, serta sebagian besar merupakan tempat pemukiman penduduk.

Kandungan kimia penting adalah CaO=45,87%, SiO2=5,87%, Al2O3=1,35%, Fe2O3=1,25%, MgO=2,89%, Na2O=0,84%, K2O=0,60%, TiO2=0,12%. Hasil analisis kimia peneliti terdahulu adalah CaO=52,99%; SiO2=1,93%; Al2O3=0,98%; Fe2O3=0,60%; dan MgO=0,35%. Perbedaan ini dapat disebabkan perconto diambil pada lokasi yang berlainan. Ketebalannya diperkirakan ±3 meter, tersebar seluas ±(265×79.5) km, dengan besar sumber daya ditaksir ±139.045.500 ton.

Batugamping di Desa Labuang, Kelurahan Baurung, Kecamatan Banggae, berwarna putih bersih, banyak mengandung cangkang-cangkang kerang, panjang singkapan ± 50 meter, tebal 0,5– 1 meter. Di wilayah kelurahan ini batugamping tersingkap pada morfologi perbukitan rendah. Analisis kimia menunjukkan kandungan CaO=55,32%; SiO2=0,07%; Al2O3=0,05%; Fe2O3= 0,29%; dan MgO=0,33%.

Di Desa Toli-Toli, Kecamatan Banggae, KM 135, dijumpai batugamping yang teroksidasi berwarna kemerahan merupakan kebun penduduk setempat. Batugamping kristalin dijumpai tersingkap di kanan kiri jalan Desa Baruga Dhua, Kecamatan Ranggae, berwarna putih kelabu, tebal rata-rata tersingkap 1-1,5 meter, dan telah dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk bahan bangunan walaupun terdapat mata air pada batugamping.

Batugamping terumbu berwarna krem terdapat di Gua Dusun Lombong, Desa Tubo (Tanjung Pasir Putih, Udung). Kandungan kimia batugamping adalah CaO = 50,96 %; SiO2 = 3,19%; Al2O3 = 0,97 %; Fe2O3 = 0,79
%; dan MgO = 0,94 %, P2O5 = 0,10 %. Gua batugamping ini direncanakan untuk tempat rekreasi/ wisata oleh Pemerintah setempat.

Lempung Bentonitan

Bahan galian ini dijumpai di Dusun Lamaru, Desa Simbang, Kecamatan Pamboang, secara fisik tersingkap menyerpih, kilap lilin, berwarna coklat kehijauan, ketebalan 1-3 meter yang merupakan hasil devitrivikasi batuan tuf yang mengandung banyak gelas vulkanik.

Di Desa Bonde, Kecamatan Pamboang lempung bentonitan, kilap lilin, mengandung pasir, keberadaannya cukup luas, areal ini merupakan kebun penduduk. Di Kampung Segeri, Dusun Baruga Dhua, Kecamatan Banggae, berdekatan dengan lokasi batugamping, kemungkinan bentonit, menyerpih, mengulit bawang, berwarna coklat kehijauan, teroksidasi berwarna kemerahan.

Analisis laboratorium menunjukkan kandungan mineralnya adalah montmorilonit dengan daya bleaching setelah diaktifasi 35 %- 45 %, dari hasil analisis tersebut ini batuan ini tidak bisa digunakan sebagaimana
bentonit.

Lempung

Lempung terdapat di morfologi pedataran Desa Baurung dan Lembang, Kecamatan Banggae termasuk dalam Endapan Aluvial dan Pantai (Qal), diperkirakan berasal dari hasil pelapukan batuan gunungapi, karena banyak mengandung kuarsa, berwarna coklat kemerahan. Sebaran lempung kira-kira seluas 5 ha, dengan sumber daya diperkirakan sebesar 125.000 ton.

Bahan galian ini telah sekitar 4 tahun dimanfaatkan oleh penduduk setempat sebagai bahan baku batu bata. Produksi batu bata ±200 per orang per hari, untuk konsumsi setempat sampai Kabupaten Polaweli-
Mamasa. Analisis kimia senyawa major menunjukkan kandungan SiO2 = 63,99 %, Al2O3 = 16,97 %, Fe2O3 = 2,96 %, CaO = 1,72%, MgO = 0,77 %, Na2O = 2,18 %, K2O =3,66 %, TiO2 = 0,61 %, MnO = 0,01 %, P2O5= 0,06 %, H2O = 1,65 %, HD- = 6,17 %.

Sirtu (Pasir Batu)

Endapan sirtu dijumpai di Desa Tallu Banua, Desa Pangalerong, Kecamatan Sendana, Kampung Pu Awang, Desa Baruga Dhua, Kecamatan Banggae, berupa pasir dan batu, berukuran pasir halus, kasar, kerikil, kerakal dan bongkah. Dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, dan pondasi jalan.

Zeolit

Zeolit terdapat di Desa Seppong, Kecamatan Sendana, merupakan hasil ubahan hidrotermal pada tuf Formasi Mandar (Tmm). Di lapangan, batuan ini berwarna kehijauan, berlapis, keras, berbutir halus – sedang.
Sedangkan secara petrografis adalah bataulanau tufaan dan litik tuf terubah, yang dari hasil analisis XRD terdiri dari mineral kuarsa dan mordenit. Hasil analisis kimia ditunjukkan pada paragraf di bawah.
Hasil analisis kimia adalah: SiO2 = 71,39 % – 71,51 %, Al2O3 = 12,63 % – 13,05 %, Fe2O3 = 1,08 % – 1,13 %, CaO = 1,26 % – 1,61 %, MgO = 0,32 % – 0,38 %, Na2O = 1,41 % -1,97 %, K2O = 4,28 % – 3,28 %, TiO2 = 0,08 % – 0,09 %, MnO = 0 % – 0,01 %, P2O5 = 0,03 % – 0,09 %, SO3 = 0 % – 0,01 %, H2O = 1,11% – 1,71 %, HD- = 5,03 % – 6,86 %. CEC =135,57 meq % – 147,56 meq %.

Bahan galian ini tersingkap setebal ±2 meter, sepanjang ± 3 km, dan lebar ± 2 km, sehingga sumber daya diperkirakan sebesar 26.400.000 ton. Endapan zeolit menempati daerah perbukitan terjal, dengan ketinggian
mencapai 30 meter, setempat-setempat longsor sebagai bongkah-bongkah yang terserak di kaki bukit. Lahan digunakan oleh penduduk setempat sebagai perkebunan coklat dan panili.

Bahan Galian Lain

Selain bahan galian non logam, Kanwil Departemen Pertambangan dan Energi Propinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara (1995) melaporkan adanya indikasi batubara di Desa Tandeallo, Kecamatan Sendana, serta
indikasi pasir besi Desa Onang, Kecamatan Sendana. Prospek Pemanfaatan dan Pengembangan Bahan Galian.

Dasit
Dasit termasuk komoditas bahan bangunan, yang terdapat dalam jumlah yang cukup besar bagi Kabupaten Majene, yaitu sekitar 26.400.000 ton. Pemerintah Daerah setempat juga telah melakukan kesepakatan
dengan investor dari Brunei Darussalam untuk mengeksploitasi dasit di Desa Lalampanua untuk bahan bangunan.

Selain sebagai bahan bangunan, karena sebagian mengalami pelapukan dan berwarna putih, serta dari analis petrografi menunjukkan kandungan felspar yang cukup tinggi, yaitu sekitar 50%, maka memungkinkan untuk
memanfaatkan dasit ini sebagai bahan campuran keramik.

Batugamping

Batugamping terdapat dalam jumlah yang cukup besar di daerah Kabupaten Majene. Besar sumber daya diperkirakan sebesar 139.045.500 ton, dengan kandungan CaO antara 45,87% – 55,32%. Secara teoriitis, bahan galian ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, bahan kapur tohor, bahan baku semen, campuran keramik, maupun diperlukan dalam berbagai industri dalam bentuk kalsium karbonat.

Lempung

Lempung yang terdapat di Desa Baurung dan Desa Lembang, Kecamatan Banggae ini telah dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan batu batu oleh penduduk setempat. Selain itu, lempung merupakan bahan baku semen disamping batugamping, akan tetapi jumlahnya kurang memadai dan perlu kerjasama dengan pemerintah daerah lainnya agar bahan galian ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan campuran semen.

Besar sumber daya diperkirakan sebesar 125.000 ton. Hasil data uji analisis bakar dan pembahasan diperkirakan bahan conto MJ/Cly/03 di Desa Baurung dan Lembang, Kecamatan Banggae dapat dipergunakan
sebagai bahan untuk pembuatan keramik bodi porous seperti bata/genteng atau gerabah dengan suhu bakar 900 derajat C. Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai
keplastisan, ditribusi besar butir dan lain sebagainya.

Sirtu

Sirtu atau pasir batu merupakan bahan galian yang terdiri material lepas pasir dan batu. Sirtu dijumpai di sungai-sungai di daerah Kabupaten Majene dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, pondasi jalan, dan pondasi rumah.

Zeolit
Zeolit adalah bahan galian industri yang mempunyai banyak kegunaan. Zeolit di Desa Seppong, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene adalah mordenit dengan nilai KTK >100 mempunyai sumber daya hipotetik sekitar 26.400.000 ton. Secara umum dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, ikan, penjernih air, pupuk tanaman. Pemanfaatan sebagai penyubur tanah (bidang pertanian) lebih cocok di daerah Kabupaten Majene
terutama sekali untuk areal persawahan dan perkebunan.

Kabupaten Mamuju

Endapan Bahan Galian.
Bahan galian non logam yang terdapat di daerah Kabupaten Mamuju, baik yang teramati langsung dalam kegiatan ini maupun berdasarkan hasil penyelidikan terdahulu adalah andesit, batugamping, granit, lempung,
marmer, sirtu, mika, dan felspar. Hasil data sekunder diketahui adanya indikasi batubara, emas, dan tembaga.

Andesit
Andesit terdapat di Dusun Panao, Desa Sondoang, yang secara petrografi disebut andesit piroksen porfiri. Batuan ini dijumpai sebagai bongkah-bongkah besar, berwarna kehijauan, dengan fenokris feldspar berukuran sampai 3 cm. Andesit tersebut tersebar cukup luas dan membentuk morfologi perbukitan rendah, dengan ketinggian bukit rata-rata sekitar 30 m.

Batugamping
Gahan galian ini dijumpai di Dusun Serang, Desa Taan, dan Dusun Salu Matti, Desa Takandeang, Kecamatan Tapalang KM 27, Di dusun Kalubibing, Desa Mamunyu, Kecamatan Mamuju, Dusun Salu matti, Desa Takandeang, Kecamatan Tapalang. Batugamping di daerah ini adalah
batugamping terumbu, tersebar cukup luas dan membentuk perbukitan bergelombang landai.

Di lapangan, batugamping berwarna abu-abu kotor, sebagian kristalin, keras, halus – kasar, berongga dan banyak mengandung cangkang.
Batugamping di Dusun Serang mempunyai kandungan CaO = 49,82 %; SiO2 = 5,22 %; Al2O3 = 1,22 %; Fe2O3 = 1,41 %; dan MgO = 0,78 %. Di Salu Matti batugamping berkomposisi CaO = 51,92 %; SiO2 = 2,67 %; Al2O3 = 0,71 %; Fe2O3 = 1,95 %; dan MgO = 0,29 %. Serta satu percontoh lain mengandung CaO = 52,85 %; SiO2 = 2,06 %; Al2O3 = 0,80 %; Fe2O3 = 1,46 %; dan MgO = 0,20 %.

Batugamping di dusun Kalubibing, merupakan bagian dari Formasi Batuan Gunungapi (Tmv), yang berwarna putih kotor, menempati daerah perbukitan landai, sebaran lebih kurang 5 ha, tinggi yang tersingkap
mencapai 5 meter, diperkirakan besar sumber dayanya sekitar 6.000.000 ton. Kandungan CaO = 46,31 %; SiO2 = 9,23 %; Al2O3 = 1,68 %; Fe2O3 = 2,14 %; dan MgO = 0,78 %. Analisis petrografi menunjukkan nama batuan adalah breksi wackstone.

Felspar
Felspar dijumpai di Dusun Panao, Desa Sondoang, Kecamatan Kalukku berasosiasi dengan batuan vulkanik (tuf), berwarna kuning kecoklatan, berbutir halus – pasir kasar, dilakukan analisis kimia dan uji bakar
untuk mengetahui kualitasnya. Kandungan SiO2 = 65,75%, Al2O3 = 14,97%, Fe2O3 =3,05%, CaO = 1,93%, MgO = 0,59%, Na2O=1,61%, K2O = 3,97%, TiO2 = 0,39%, MnO =0,05%, P2O5 = 0,18%, H2O = 1,24%, HD- =6,60%.

Granit
Granit dijumpai berdekatan dengan dasit porfir di Dusun Panao, Desa Sondoang, Kecamatan Kalukku. Bahan galian ini menempati morfologi perbukitan rendah, tinggi bukit ± 20 m, serta tersebar berupa bongkah-bongkah mencapai 3 m, yang ditumbuhi semak belukar, ilalang dan sebagian kebun penduduk (coklat, pisang, pohon gamal).

Lempung
Bahan galian ini tersebar cukup luas di beberapa lokasi, yaitu di Dusun Taludu, Desa Botteng, Kecamatan Simboro, Desa Seleto, Kecamatan Simboro, Desa Bambu, Dusun Taruminding, Kecamatan Mamuju, Desa
Salubatu, Kecamatan Bonehau. Di dusun Taludu berupa lempung residu
hasil pelapukan batuan vulkanik, berwarna coklat kemerahan, ketebalan tersingkap 2,5 meter. Kandungan SiO2 = 38,78 %, Al2O3 =28,20 %, Fe2O3 = 12,56 %, CaO = 0,00 %, MgO = 0,33 %, Na2O = 0,02 %, K2O = 0,14 %, TiO2 = 3,05 %, MnO = 0,13 %, P2O5 =0,71 %, SO3 = 0,05 %, H2O = 2,52 %, HD =6,47 %.

Lempung di Desa Saleto adalah lempung tufaan, putih keabuan-kemerahan, ringan, mengulit bawang, tersebar di sekitar pemukiman penduduk. Kandungan SiO2 =47,50 %, Al2O3 = 30,36 %, Fe2O3 = 2,17 %, CaO = 1,38 %, MgO = 0,35 %, Na2O = 0,03 %, K2O = 0,62 %, TiO2 = 0,53 %, MnO =0,00 %, P2O5 = 0,05 %, SO3 = 0,02 %, H2O =3,25 %, HD- = 17,26 %.

Lempung di Desa Bambu berwarna kemerahan, sudah dimanfaatkan penduduk sebagai bahan pembuatan batu bata, tetapi produksinya tidak menentu karena tergantung dari pemesanan, pada saat uji petik dilakukan sedang tidak ada kesibukan. Lempung di Desa Salubatu merupakan hasil pelapukan batuan vulkanik, berwarna kemerahan, dengan kandungan SiO2 = 52,58 %, Al2O3 = 23,17 %, Fe2O3 = 5,77 %, CaO =0,61 %, MgO = 0,37 %, Na2O = 0,54 %, K2O = 1,72 %, TiO2 = 0,94 %, MnO = 0,01 %, P2O5 = 0,12 %, SO3 = 0,01 %, H2O = 2,55 %, HD- = 13,36 %.

Marmer
Marmer dijumpai di Dusun Lebani, Desa Karataun, Kecamatan Kalumpang merupakan bagian dari Formasi Sekalar (Tmps), yaitu batugamping terkristalisasi yang diduga berasal dari formasi lebih tua, berwarna abuabu kecoklatan, kompak, keras, sebagian mengalami rekristalisasi. Batuan ini terdapat pada morfologi perbukitan sedang-rendah, dengan tinggi rata-rata 20 m dari permukaan, merupakan hutan sekunder dan semak belukar, yang jauh dari pemukiman penduduk.

Banyak bongkah marmer terserak di kaki bukit sampai ukuran 3 m. Sumber dayanya diperkirakan ± 500.000 ton. Analisis kimia senyawa mayor menunjukkan kandungan CaO = 53,68 %; SiO2 = 1,67 %; Al2O3 = 0,49 %; Fe2O3 = 0,54%; dan MgO = 0,59 %. Analisis petrografis menunjukkan nama batuan wackstone.

Sirtu
Sirtu atau pasir dan batu dijumpai di Desa Gentungan, Kecamatan Kalukku, berukuran pasir kasar, kerikil, kerakal, telah dimanfaatkan oleh penduduk setempat sebagai bahan bangunan, pondasi jalan, pondasi
rumah. Tidak jauh dari lokasi tersebut terdapat bekas stock pile atau penumpukan sirtu. Terlihat sudah lama tidak aktif meskipun tumpukan sirtu masih banyak. Hal ini kemungkinan dikarenakan tidak adanya pembangunan jalan atau permintaan. Penambangannya langsung dilakukan tanpa melalui penyelidikan yang baku, sehingga penambangan tersebut sering mengganggu keseimbangan lingkungan, terutama merusak
bentuk topografi lahan, menurunkan kesuburan tanah di sekitarnya, serta menurunkan kualitas air sungai.

Mika
Bahan galian dijumpai di Dusun Adi-Adi, Desa Botteng, Kecamatan Simboro, berasosiasi dengan batuan vulkanik lapuk. Mika berwarna kuning keemasan, berukuran sekitar : panjang 3mm –2 cm, tebal 0,1 mm,

lebar 0,3 mm – 0,5 cm. Menurut penduduk setempat, mika tersebut merupakan sisa penambangan dan stock pile jaman Jepang dari batuan pembawa mika.

Bahan Galian Lain
Data sekunder yang didapat dari hasil penyelidikan Kanwil Departemen Pertambangan dan Energi, 1995 dilaporkan adanya indikasi adanya batubara, emas dan tembaga. Batubara terdapat di Desa Bonehau dan
Karataun, Kecamatan Kalumpang. Emas terdapat di Desa Karataun, Kecamatan Kalumpang, dan Tembaga di Desa Kalumpang, Kecamatan Kalumpang.

Prospek Pemanfaatan dan Pengembangan Bahan Galian.

Andesit
Andesit di daerah Dusun Panao, Desa Sondoang mempunyai sebaran cukup besar dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan ornamen.

Batugamping

Batugamping di daerah Kabupaten Mamuju sebarannya cukup luas, terutama di Dusun Kalobibing, Desa Mamunyu, Kecamatan Mamuju dengan perkiraan sumber daya 6.000.000 ton. Kadar CaO bervariasi dari 46,31% hingga 52,85%. Batugamping di daerah tersebut sudah dimanfaatkan oleh penduduk setempat sebagai bahan bangunan, yaitu pondasi jalan dan rumah dengan harga Rp 20.000 / kubik.
Selain itu, batugamping dapat diolah menjadi kalsium karbonat (CaCO3) yang banyak diperlukan dalam banyak bidang industri.

Batugamping juga dapat dijadikan kapur tohor yang bersama-sama dengan tuf feldspar dan lempung dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku keramik. Batugamping dan lempung merupakan komoditas yang dapat dipertimbangkan sebagai bahan baku semen.

Felspar
Bahan galian ini di daerah Kabupaten Mamuju sebarannya terbatas, hasil analisis kimia tidak menunjukkan hasil yang bagus dengan Na2O = 1,61 %, K2O = 3,97 %.

Lempung
Endapan lempung dijumpai tersebar cukup luas di daerah Kabupaten Mamuju, tetapi yang telah dimanfaatkan oleh penduduk setempat baru sebagian kecil, yaitu sebagai bahan pembuatan batu bata, genteng dan
gerabah. Selain itu, bersama dengan batugamping merupakan bahan baku semen, sedangkan dengan felspar menjadi bahan baku keramik. Walaupun demikian hal itu memerlukan penelitian lebih lanjut.

Marmer
Marmer di Kabupaten Mamuju tersebar cukup luas dengan perkiraan sumber dayanya sebesar 500.000 ton. Bahan galian ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan ornamen, maupun dimension stone dan bahan bangunan.

KESIMPULAN
Daerah penyelidikan didominasi oleh batuan sedimen dari berbagai formasi, sepertiFormasi Latimojong, Formasi Toraja, Anggota Rantepao, Formasi Toraja, Formasi Mapi, Formasi Mandar (Mamuju), Anggota
Tapalang Formasi Mamuju, Batuan Gunungapi Adang, Formasi Sekala, Napal Pambuang dan Endapan Aluvial dan Pantai.

Bahan galian non logam yang terdapat di daerah Kabupaten Majene, baik yang teramati langsung dalam kegiatan ini maupun berdasarkan hasil penyelidikan terdahulu adalah dasit, batugamping, lempung bentonitan, lempung, sirtu, dan zeolit. Hasil data sekunder diketahui adanya batubara,
indikasi emas, dan indikasi tembaga.

Bahan galian non logam yang terdapat di daerah Kabupaten Mamuju, baik yang teramati langsung dalam kegiatan ini maupun berdasarkan hasil penyelidikan terdahulu adalah andesit porfiri, batugamping granit,
lempung, marmer, sirtu, mika, dan feldsfar.

Hasil data sekunder diketahui adanya indikasi batubara, dan pasir besi.
Perhitungan sumber daya hipotetik di daerah Kabupaten Majene untuk dasit sebesar 625.000 ton, untuk batugamping 139.045.500 ton, untuk lempung sebesar 125.000 ton, zeolit sebesar 26.400.000 ton, sedangkan di daerah Kabupaten Mamuju untuk batugamping 6.000.000, dan marmer 500.000 ton.

Tinggalkan komentar

9 Komentar

  1. hai salam kenal dari aku,, ANAK POLEWALI… http://www.adhy-maro.blogspot.com

    Balas
  2. ronie.jr

     /  Januari 19, 2009

    sayang gak ada gambar peta geologi dan peta2 lain nya.. but keep on working

    Balas
  3. riani

     /  Mei 17, 2009

    wah thank dah meringankan tugas q…coba klo ad peta geologi, peta geomorfo ma peta lainnya….ada g?

    Balas
  4. arisa

     /  Desember 18, 2009

    thanks informasinya. tapi menurut q it kurang rinci tolong dong kasik informasi k q untuk tugas akhir q

    Balas
  5. gmnasi ko banyakan brita polman di banding majene si………….????????????

    Balas
  6. Rudolf Doni Abrauw

     /  Mei 27, 2010

    Salam Kenal,,
    Terima Kasih untuk Informasinya, krn saya dapat belajar dan mengetahui tentang struktur Geologi Sulawesi Barat walaupun saya orang Papua. Status saya skrng Mhasiswa Geografi Uncen Semester VI.

    Balas
  7. Rudolf Doni Abrauw

     /  Juni 1, 2010

    Thanks ya atas materinya,, karena kebetulan kami di Geografi Uncen lagi belajar tentang Struktur Geologi Sulaweis Barat.

    Balas
  8. Aswin Taslim

     /  November 11, 2010

    thanks to infox.. sy mahasiswa ilmu lingkungan asal mamuju di bandung. slm kenal.

    Balas
  9. nur syamsi

     /  Maret 12, 2011

    thanks,, ini sangat mmbntu sya dlam mngrjkn tugas mata kuliah fisika bumi dan antariksa

    Balas

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: