<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Dunia Kecilku</title>
	<atom:link href="http://aryafatta.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aryafatta.wordpress.com</link>
	<description>Pusat Informasi tak Berbatas</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Sep 2011 16:50:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='aryafatta.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Dunia Kecilku</title>
		<link>http://aryafatta.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://aryafatta.wordpress.com/osd.xml" title="Dunia Kecilku" />
	<atom:link rel='hub' href='http://aryafatta.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Semilir Angin Pantai Wisata Sampulungang</title>
		<link>http://aryafatta.wordpress.com/2011/09/14/semilir-angin-pantai-wisata-sampulungang-2/</link>
		<comments>http://aryafatta.wordpress.com/2011/09/14/semilir-angin-pantai-wisata-sampulungang-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Sep 2011 15:09:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aryafatta</dc:creator>
				<category><![CDATA[ADVENTURE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryafatta.wordpress.com/?p=350</guid>
		<description><![CDATA[MEMAPARKAN potensi dan keindahan alam di Sulsel seolah tak ada habisnya. Bahkan, tidak sedikit potensi alam yang belum tereksplorasi dengan baik menjadi objek wisata andalan. Padahal, bila tergarap maksimal, tidak kalah dengan objek wisata yang lebih dahulu hadir. Pantai Wisata Sampulungang misalnya, juga menawarkan keindahan alami dengan fasilitas sangat lengkap. Memang, belum setenar Pantai Bira, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryafatta.wordpress.com&amp;blog=2516735&amp;post=350&amp;subd=aryafatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>MEMAPARKAN potensi dan keindahan alam di Sulsel seolah tak ada habisnya. Bahkan, tidak sedikit potensi alam yang belum tereksplorasi dengan baik menjadi objek wisata andalan. Padahal, bila tergarap maksimal, tidak kalah dengan objek wisata yang lebih dahulu hadir.</p>
<p>Pantai Wisata Sampulungang misalnya, juga menawarkan keindahan alami dengan fasilitas sangat lengkap. Memang, belum setenar Pantai Bira, bahkan objek wisata pantai lainnya yang ada di Pulau Dewata, Bali.</p>
<p>Namun, pantai wisata yang terletak di Desa Tamalate, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar memiliki keindahan alam yang membawa pengunjung seolah berekreasi di pantai-pantai terkenal Pulau Bali.</p>
<p>Objek wisata ini berjarak 20 km dari kota Makassar. Lokasinya tidak begitu sulit ditemukan, lantaran telah dikenal hampir semua warga Galesong. Meski Pantai Wisata Sampulangang masih terbilang baru, namun tak sedikit orang sudah berkunjung.</p>
<p>Keistimewaan dari objek wisata bahari di Pantai Wisata Sampulungang adalah fasilitasnya cukup mewah. Sebut saja penginapannya yang berkelas hotel berbintang memanjakan pengunjung yang ingin menghabiskan akhir pekan.</p>
<p>Pengunjung yang ingin menikmati keindahan laut Sampulungang  dan desiran ombak di malam hari, bisa memesan kamar dengan tarif cukup terjangkau. &#8220;Pengunjung dapat bersantai sambil menikmati sejuknya udara laut,&#8221; kata Fahrul, salah seorang pengelola pantai wisata.</p>
<p><a href="http://aryafatta.files.wordpress.com/2011/09/sampulungan1.jpg"><img src="http://aryafatta.files.wordpress.com/2011/09/sampulungan1.jpg?w=600" alt="Kolam air tawar Pantai Wisata Sampulungan" title="sampulungan"   class="alignleft size-full wp-image-351" /></a>Tidak hanya itu, kolam renang yang terletak di tengah saung tepat di depan hotel, salah satu pilihan pengunjung yang tidak ingin berenang di pantai. Kolam renangnya cukup luas dan mampu menampung puluhan pengunjung yang ingin berenang.</p>
<p>Bila pengunjung ingin berenang di pinggir pantai dan menikmati keindahan laut lepas, pengunjung bisa menyewa banana boat. Pilihan lainnya, wahana bermain yang disediakan di samping hotel.</p>
<p>Berbagai jenis permainan, sewa maupun gratis, bisa dipakai pengunjung. Misalnya saja, mobil-mobilan untuk anak-anak, papan luncuran, jaring laba-laba, dan ayunan.</p>
<p>Ada pula lorong rahasia yang bisa dicoba pengunjung. Berbagai wahana permainan juga bisa digunakan untuk fasilitas outbound. </p>
<p>Source: <strong>www.fajar.co.id</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryafatta.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryafatta.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryafatta.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryafatta.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aryafatta.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aryafatta.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aryafatta.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aryafatta.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryafatta.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryafatta.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryafatta.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryafatta.wordpress.com/350/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryafatta.wordpress.com/350/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryafatta.wordpress.com/350/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryafatta.wordpress.com&amp;blog=2516735&amp;post=350&amp;subd=aryafatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryafatta.wordpress.com/2011/09/14/semilir-angin-pantai-wisata-sampulungang-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/642c92b844d7839667714c6dd1905131?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aryafatta</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryafatta.files.wordpress.com/2011/09/sampulungan1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sampulungan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Komparasi Uni Eropa</title>
		<link>http://aryafatta.wordpress.com/2011/03/10/komparasi-uni-eropa/</link>
		<comments>http://aryafatta.wordpress.com/2011/03/10/komparasi-uni-eropa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Mar 2011 12:26:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aryafatta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[eropa]]></category>
		<category><![CDATA[euro]]></category>
		<category><![CDATA[inggris]]></category>
		<category><![CDATA[schengen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryafatta.wordpress.com/?p=298</guid>
		<description><![CDATA[eropa, euro, imf,<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryafatta.wordpress.com&amp;blog=2516735&amp;post=298&amp;subd=aryafatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akhirnya, setelah sekian lama vakum karena kesibukan pekerjaan yang menuntut tulisan terus masuk ke dapur redaksi, saya menyempatkan diri untuk membuat naskah ini. Setiap kata terketik di sela-sela waktu menunggu rapat dan menghimpunnya dari berbagai sumber bacaan.</p>
<p>Komparasi Uni Eropa saya pilih sebagai judul, karena di dalamnya terdapat beberapa perbandingan antara beberapa negara di Eropa, terutama kawasan Eropa Barat seperti Inggris, Belanda, Perancis, dan lainnya. Saya memilih tulisan ini karena tertarik pada pertanyaan yang melintas di pikiran tatkala tidak bisa tidur malam sekira pukul 03.15 dini hari.</p>
<p>Pertanyaan yang terlintas saat itu sederhana, &#8220;Mengapa Inggris memilih tidak menggunakan mata uang Euro dan tidak tergabung dalam perjanjian Schengen?&#8221;. Bukankah Inggris juga tergabung dalam negara Uni Eropa?</p>
<p>Padahal, bila saja Inggris menandatangani perjanjian Schengen, mungkin saja ketika mengunjungi Paris, Maret 2010 lalu, saya mungkin bisa menyeberang ke Inggris yang dibatasi Selat Inggris atau English Channel (La Manche dalam bahasa Perancis). Namun, keinginan itu tak dapat saya lakukan, karena bersama dua teman jurnalis lainnya tidak mengantongi UK Visa.</p>
<p>Beda dengan Visa Schengen, kita bisa memasuki negara yang menandatangani Perjanjian Schengen tanpa harus melalui pemeriksaan di setiap batas negara. Pengunjung atau wisatawan cukup memperlihatkan visa dan dokumen keimigrasian lainnya ketika masuk di salah satu negara kelompok Schengen. Saat itu, saya masuk melalui pintu negara Jerman.</p>
<p>Apply UK Visa menjadi syarat utama masuk ke United Kingdom yakni Inggris, Irlandia, Skotlandia, dan Wales. UK Visa harus diurus di negara asal, tidak bisa di salah satu negara yang dikunjungi. Mengurus UK Visa tak perlu ke Kedutaan Besar Inggris.</p>
<p>British Embassy telah menunjuk VFS menjadi agen pengurusan visa masuk ke United Kingdom. Kantornya di Plasa Asia yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman.</p>
<p>Kembali lagi ke alasan memilih komparasi dan kajian tentang Eropa, khususnya Inggris, saya lalu mulai mencari bahan tulisan dari berbagai sumber. Dari sumber buku dan internet, saya ibarat berada di tengah lautan ilmu yang sangat luas memberikan pengetahuan tentang Uni Eropa.</p>
<p>Naskah tentang Eropa saya mulai dari Inggris dan mata uangnya, Poundsterling. Mata uang yang nilai tukarnya tetap lebih tinggi dari Dollar Amerika Serikat, bahkan Euro sekalipun ini, pernah menjadi alat tukar paling utama di seluruh dunia untuk perdagangan. Perjalanan panjang telah dilaluinya, sehingga akhirnya harus melepaskan hegemoninya sebagai alat tukar utama ke Dollar Amerika Serikat.</p>
<p>Buku Musim Semi Perekonomian Indonesia karya Cyrillus Harinowo mengantar pada pencarian tentang mulai ditinggalkannya mata uang Poundsterling. Judul buku ini sangat indah, tetapi bukan novel. Pengarangnya salah satu direktur Bank Indonesia.</p>
<p>Penggunaan mata uang Dollar sebagai mata uang dunia kesepakatan Bretton Woods Agreement. Kesepakatan yang lahir dari proses politik pada konferensi keuangan di Bretton Woods Amerika Serikat pada 1-22 Juli 1944 menetapkan lahirnya International Monetary Fund (IMF), World Bank, serta World Trade Organization. </p>
<p>Juga disepakati penggunaan Dollar sebagai mata uang dunia. Padahal sebelumnya, Poundsterling merajai perdagangan dunia. Kendati tidak langsung diterapkan, namun tetap mengguncang perekonomian Inggris. </p>
<p>Betapa tidak, Inggris harus menyediakan cadangan devisa dalam bentuk dollar untuk menukar poundsterling yang dimiliki berbagai negara. Proses ini disebut convertibility dan Amerika Serikat sempat memberi pinjaman sebesar USD3,75 miliar.</p>
<p>Namun, pinjaman itu tidak banyak menolong. Perekonomian Inggris akhirnya limbung dan pada September 1947 menjadi pasien pertama IMF. Negara super power itu berutang USD60 juta. Pinjaman kembali diperoleh dari IMF pada 1956 sebesar USD1,3 miliar. Inggris bahkan mendevaluasi nilai mata uangnya dari USD4,03 per poundsterling menjadi USD2,8.</p>
<p>Sungguh ironi, sebuah negara yang sangat kuat perekonomiannya dan awalnya menjadi kiblat dunia harus menjadi korban kebijakan politik. Indonesia, negara kita juga pernah menjadi pasien IMF agar dapat pulih dari krisis moneter 1998. Inggris bahkan kembali mendapat pinjaman dari IMF pada November 1967 sebesar USD1,4 miliar. </p>
<p>Negara yang tergabung dalam European Union atau Uni Eropa lalu merencanakan pembentukan mata uang tunggal pada 1970. Tujuannya mempertahankan stabilitas mata uang serta menghapus biaya transaksi perdagangan. Rencana ini lalu direalisasikan dengan European Exchange Rate Mechanism pada April 1972.</p>
<p>Mata uang tunggal itu akhirnya benar-benar terealisasi meskipun hanya untuk transaksi komersial dan keuangan pada 1 Januari 1999 dengan nama Euro. Awalnya, hanya 12 negara yang menyetujui penggunaan Euro sebagai mata uang tunggal termasuk Belanda, Belgia, Perancis, Jerman, dan Luxemburg.</p>
<p>Inggris, Swedia, Denmark, Finlandia, dan beberapa negara lainnya tetap menolak menggunakan Euro. Inggris dengan pertimbangan ekonomi dan politik dalam negeri. Swedia karena masyarakat menolaknya melalui referendum. 1 Januari 2002 yang bertepatan dengan gegap gempita pergantian tahun menjadi momentum peluncuran Euro sebagai mata uang tunggal. </p>
<p>Negara yang tergabung dalam Uni Eropa tetapi menolak Euro sebenarnya sangat layak menggunakan Euro. Perekonomian negara-negara tersebut sangat layak menerapkannya. Persyaratan untuk negara yang akan menggunakan Euro di antaranya suku bunga tidak lebih tinggi dua persen dan inflasi 1,5 persen.</p>
<p>Persyaratan lain menggunakan Euro, moneter negara harus berada di bawah pengawasan Uni Eropa yang berkedudukan di Belgia. Swiss tidak menggunakan Euro dengan pertimbangan dasar perekonomian negara adalah jasa pelayanan perbankan. </p>
<p>Informasi perbankan dan nasabahnya sangat ketat. Otomatis, bila data perbankan harus dibuka karena menjadi syarat penerapan Euro, nasabah akan hengkang dan menyebabkan perekonomian negara Swiss akan ambruk.</p>
<p>Penolakan Euro paling keras dari Inggris. Bukan hanya menyangkut masalah perekonomian, tetapi juga nasionalisme. Terkait nasionalisme bangsa, peranan media sangat besar dalam menentukan sikap warga Inggris dalam referendum yang hasilnya 55 persen menolak Euro.</p>
<p>Media-media di Inggris gencar menghimpun opini publik dan menjadi sumber informasi bagi pemerintah untuk memetakan kebijakan publik. Peran masyarakat di Inggris dalam perpolitikan negara sangat besar. Hasilnya, hanya sekitar 28 persen yang setuju pada Euro. </p>
<p>Penggabungan pada Uni Eropa hingga penerapan Euro sebagai mata uang tunggal memang memerlukan demokratisasi politik. Keinginan rakyat sangat menentukan, karena penetapannya melalui referendum. Demokratisasi ini pulalah yang menjadi penyebab Konstitusi Uni Eropa banyak mendapat penolakan melalui referendum dan batal diterapkan. </p>
<p>Nasionalisme masyarakat Inggris boleh dikatakan sangat fanatik dan keras. Kedaulatan juga menjadi alasan utama Inggris menolak menggunakan Euro sebagai alat tukar, meskipun beberapa toko di negara Three Lions itu juga menerima Euro dan Dollar sebagai alat transaksi ekonomi.</p>
<p>Inggris mengkhawatirkan kekuatan dan pengaruhnya dapat menurun bila menggunakan Euro dan menggantikan keberadaan Poundsterling yang masih lebih tinggi nilainya dari Euro maupun Dollar sekalipun. Maka tak heran bila Partai Konservatif yang paling keras di Inggris menolak dilakukan referendum penentuan sikap rakyat.</p>
<p>Sikap egosentris dan pengakuan diri sebagai masyarakat paling unggul turut memengaruhi sikap Inggris pada penyatuan ekonomi Eropa. Letak geografis Inggris yang berbeda dengan negara Eropa lainnya yang berada di daratan, salah satu alasannya dan melahirkan offshore mentality.</p>
<p>Masyarakat Inggris tak ingin menghilangkan identitasnya sebagai superior. Apalagi, Perang Dunia II mencatat Inggris sebagai pemenang dengan kenyataan tidak pernah diduduki negara lain selama perang dan tingkat kerusakan infrastruktur sangat kecil.</p>
<p>Alasan-alasan ini hanya sedikit dari setumpuk pertimbangan masyarakat Inggris menyerahkan kedaulatan negaranya pada Uni Eropa. Mereka sulit menerima sebagai negara besar yang bisa dikendalikan dari Belgia melalui Uni Eropa.</p>
<p>sumber: </p>
<p>-Musim Semi Perekonomian Indonesia, Cyrillus Harinowo</p>
<p>-Economic and Monetary Union. Brussel: Official Published of the EC. 1996</p>
<p>-EMU Update: Policies, Politics, Business Views and Prospects, EC Policies. Mission of the Republic of Indonesia to the European Communities. 1996</p>
<p>-internet: www.kajianeropa.wordpress.com</p>
<p>Jelajah ilmu tentang Inggris dan negara Eropa lainnya akan terus berlanjut. Masukan bisa disumbangkan melalui komentar yang tersedia di blog ini.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryafatta.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryafatta.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryafatta.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryafatta.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aryafatta.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aryafatta.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aryafatta.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aryafatta.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryafatta.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryafatta.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryafatta.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryafatta.wordpress.com/298/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryafatta.wordpress.com/298/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryafatta.wordpress.com/298/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryafatta.wordpress.com&amp;blog=2516735&amp;post=298&amp;subd=aryafatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryafatta.wordpress.com/2011/03/10/komparasi-uni-eropa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/642c92b844d7839667714c6dd1905131?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aryafatta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Melacak Bocornya Pajak BBM</title>
		<link>http://aryafatta.wordpress.com/2010/05/11/melacak-bocornya-pajak-bbm/</link>
		<comments>http://aryafatta.wordpress.com/2010/05/11/melacak-bocornya-pajak-bbm/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 May 2010 12:25:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aryafatta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[bagi hasil]]></category>
		<category><![CDATA[bahan bakar]]></category>
		<category><![CDATA[investigasi]]></category>
		<category><![CDATA[pajak]]></category>
		<category><![CDATA[pemerintah daerah]]></category>
		<category><![CDATA[pertamina]]></category>
		<category><![CDATA[retribusi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryafatta.wordpress.com/?p=296</guid>
		<description><![CDATA[TANGKI bahan bakar sepeda motor milik Kemal, pelanggan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di pertigaan Jalan Rappocini dan Jalan AP Pettarani diisi hingga penuh. &#8220;Sepuluh liter Rp 45 ribu, Pak,&#8221; kata petugas SPBU yang mengisi bahan bakar jenis premium ke motor Kemal, Jumat, 7 Mei. Sebagai pemilik sepeda motor yang hampir setiap pekan mengisi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryafatta.wordpress.com&amp;blog=2516735&amp;post=296&amp;subd=aryafatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>TANGKI bahan bakar sepeda motor milik Kemal, pelanggan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di pertigaan Jalan Rappocini dan Jalan AP Pettarani diisi hingga penuh. &#8220;Sepuluh liter Rp 45 ribu, Pak,&#8221; kata petugas SPBU yang mengisi bahan bakar jenis premium ke motor Kemal, Jumat, 7 Mei.<br />
	Sebagai pemilik sepeda motor yang hampir setiap pekan mengisi bahan bakar ke tangki kendaraannya, Kemal tak tahu telah menjadi warga negara pembayar pajak yang baik ke pemerintah. Dia hanya mengetahui, harus mengeluarkan uang Rp 4500 untuk setiap liter premium yang diperolehnya agar sepeda motornya bisa digunakan.<br />
	Sama sekali tak diketahuinya bahwa dalam setiap liter premium yang masuk ke tangki motornya, pajak sebesar 15 persen telah dibayarkannya ke negara. &#8220;Wah, harus transparan kemana saja pajak itu. Dananya dari rakyat, harus dikembalikan lagi ke rakyat dalam bentuk apapun. Jangan dinikmati para makelar pajak kalau begitu,&#8221; ujarnya.<br />
	Kemal dan temannya Ardi yang diboncengnya menuntut agar pajak yang telah dibayar masyarakat secara otomatis itu tidak ditelikung. Apalagi bila hanya dinikmati orang tertentu dengan mengutip uang pajak yang seharusnya dimanfaatkan untuk membiayai pembangunan di negara ini, terutama di Sulsel yang masih tertinggal dari daerah lain yang lebih dahulu maju.<br />
	Ya, dari setiap liter bahan bakar yang dikonsumsi pemilik kendaraan bermotor ada komponen pajak yang dikenakan dan langsung dibayarkan per transaksi. Besarnya 15 persen, terdiri dari komponen Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 10 persen dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) sebesar lima persen.<br />
	PPN 10 persen menjadi hak Pemerintah Pusat dan PBBKB milik pemerintah daerah yang dibayarkan Pertamina ke pemerintah provinsi. Pembagian pajak terhadap setiap transaksi penjualan bahan bakar untuk kendaraan bermotor, termasuk untuk kendaraan di atas air ini dilegalisasi oleh Undang-undang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Pemprov Sulsel kemudian mengadopsinya dalam bentuk peraturan gubernur.<br />
	Pajak PBBKB yang dipungut dari pemilik kendaraan bermotor dikumpulkan oleh pemilik SPBU. Ketika SPBU membayar pembelian bahan bakar yang dijualnya ke masyarakat sudah termasuk dengan PBBKB sebesar lima persen dari harga jual.<br />
	Bahan bakar jenis premium misalnya, harga jualnya ke masyarakat sebesar Rp 4500 per liter. Sementara harga dasar premium sebenarnya hanya Rp 3900 per liter. Mengapa menjadi Rp 4500 per liter? Itu karena masuknya komponen pajak jenis PPN dan PBBKB.<br />
	Bila harga dasar premium Rp 3900 per liter, maka PPN sebesar 10 persen yang dibayar masyarakat sebesar Rp 404 per liter dan PBBKB ke Pemprov Sulsel sebesar Rp 195 per liter. Pajak PBBKB memang hanya Rp 195 per liter. Tapi jumlahnya akan menjadi sangat besar bila semua penggunaan bahan bakar di Sulawesi Selatan diakumulasikan menjadi satu.<br />
	Taruhlah contoh, konsumsi bakar bakar jenis premium di Makassar. Pertamina pada 26 April lalu menyediakan stok premium<br />
hingga 14.000 kiloliter atau setara 14 juta liter. Stok ini aman untuk pemakaian premium di Makassar hingga enam hari.<br />
	Eksternal Relation PT Pertamina Unit Pemasaran VII, Brasto Galih Nugroho, mengungkapkan, konsumsi premium di Makassar rata-rata sebanyak 2.350 kiloliter atau 2.350.000 liter. Nah, bila dikalikan dengan PBBKB lima persen, mencapai angka yang sangat fantastis, Rp 458.250.000 per hari.<br />
	Angka itu baru untuk perhitungan per hari. Bila diasumsikan penggunaan premium dalam sehari rata-rata 2350 kiloliter, maka pemasukan Pemprov Sulsel dari PBBKB sebesar Rp13.747.500.000 dalam sebulan atau Rp 164.970.000.000 per tahun, belum memperhitungkan pertumbuhan kepemilikan kendaraan bermotor yang terus mengalami kenaikan. Angka yang fantastis bukan?.<br />
	Penggunaan bahan bakar jenis solar lebih banyak lagi. Pertamina mencatat volume konsumsi bahan bakar jenis solar rata-rata 2.640 kiloliter per hari. Harga jual solar Rp 4500 per liter dan harga dasarnya juga Rp 3900 per liter, serta PBBKB Rp 195 per liter.<br />
	Dengan konsumsi rata-rata BBM jenis solar sebanyak 2640 kiloliter, maka penerimaan PBBKB Pemprov Sulsel dari solar mencapai Rp514.800.000 per hari. Bila dihitung lagi pemasukan untuk sebulan, bisa mencapai Rp 15.444.000.000 atau Rp 185.328.000.000 setahun.<br />
	Belum lagi pendapatan dari penjualan bahan bakar jenis pertamax yang memang masih rendah penggunaannya di Sulsel. Konsumsi pertamax sehari di Kota Makassar misalnya, hanya 11.000 liter. Harganya dasar dan jualnya juga fluktuatif, karena tidak termasuk dalam bahan bakar jenis subsidi pemerintah.<br />
	Bila pendapatan dari dua jenis bahan bakar itu, solar dan premium saja diakumulasikan, kas Pemprov Sulsel bisa mencapai Rp 350.298.000.000 dalam setahun. Pemasukan ini masih untuk penjualan dan konsumsi bahan bakar wilayah Kota Makassar. Belum termasuk konsumsi bahan bakar minyak di 23 kabupaten/kota lain di Sulsel.<br />
	Hitung-hitungan penerimaan Pemprov Sulsel untuk konsumsi bahan bakar di seluruh wilayah di Sulsel tentu akan lebih besar lagi. Pundi-pundi atau kas daerah terisi dana yang ditarik dari pembayaran pajak PBBKB masyarakat tanggal 25 setiap.<br />
	Apakah penerimaan Pemprov Sulsel seperti perhitungan tersebut? Kepala Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Sulsel, Arifuddin Dahlan, mengaku tidak seperti itu pendapatan yang diterima dari pajak penjualan bahan bakar kendaraan bermotor.<br />
	Angka yang diungkapkan Arifuddin Dahlan justru sangat jauh dari perhitungan penerimaan pajak, bahkan hitung-hitungan dari penjualan wilayah Kota Makassar sekalipun. &#8220;Penerimaan Pemprov Sulsel dari PBBKB pada 2009 lalu tercatat hanya sebesar Rp 230 miliar,&#8221; katanya.<br />
	Meskipun pertumbuhan kendaraan bermotor terus meningkat, Dispenda Sulsel hanya mematok peningkatan pendapatan dari PBBKB hanya sekitar Rp 8 miliar. Target penerimaan dari Pertamina untuk penjualan bahan bakar kendaraan bermotor pada 2010 hanya sebesar Rp 238 miliar.<br />
	Selama 2010 Dispenda telah menerima pendapatan pajak bahan bakar sebesar Rp 20.247.911.318 untuk penerimaan Januari dan Rp 18.509.868.545 untuk Februari. Total pendapatan yang diterima baru Rp 38.757.779.863.<br />
	Lalu mengapa terjadi selisih yang sangat besar antara  penerimaan pajak PBBKB konsumsi bahan bakar di masyakat? Sulitnya mengakses data penjualan atau daily report Pertamina menjadi alasan Pemprov Sulsel tidak melakukan pengontrolan terhadap penjualan bahan bakar minyak yang tersalur.<br />
	Kepala Bidang Pajak Dinas Pendapatan Daerah Sulsel, Malik Faisal, mengaku daily report atau data penjualan BBM ada di Pertamina. Dispenda sama sekali tidak memegang data valid penjualan. Pertamina yang sepenuhnya melakukan pencatatan dan pemungutan pajak dari penyalur bahan bakar, di antaranya dari SPBU.<br />
	Tak adanya saling kontrol membuat konspirasi data penjualan sangat mudah dimanipulasi. Kesepakatan dan penelikungan dana bisa terjadi mulai dari pendistribusian bahan bakar hingga penyetoran dana yang melibatkan oknum di Pertamina, aparat pemerintah daerah, hingga perusahaan penyalur bahan bakarnya.<br />
	Modus penelikungan nilai pajak bisa dengan berbagai cara. Salah satunya, menyepakati jumlah penjualan bahan bakar tertentu, lalu dana dari hasil persekongkolan dibagi-bagi lalu dinikmati. Data penjualan akhirnya tak pernah diverifikasi kebenarannya dan dibiarkan terus terjadi.<br />
	Rumor menguapnya penerimaan pajak dari licinnya bisnis penjualan bahan bakar minyak untuk kendaraan bermotor pun merebak. Mencuat dugaan, dana pajak BBM beredar di kalangan pemerintah daerah maupun di kalangan Pertamina sendiri.<br />
	Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, seolah tak mau tahu terhadap minimnya penerimaan pajak PBBKB yang ditarik lima persen dari penjualan berdasarkan surat keputusan gubernur yang ditandatanganinya. &#8220;Memang kecil, hanya sekitar Rp 200 miliar. Lebih baik kita kejar penerimaan dana yang lebih besar,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Penerimaan Minim, Masih Disunat </p>
<p>RUAS jalan dan sistem transportasi umum seharusnya sudah sangat bagus sebagai bentuk pelayanan publik. Betapa tidak, alokasi dananya sudah jelas, sepuluh persen dari penerimaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB) wajib dialokasikan untuk infrastruktur jalan dan transportasi umum.<br />
	Belum lagi ditambah penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor Progresif bagi pemilik kendaraan yang memiliki lebih dari satu. Alokasi dananya tentu akan sangat besar, sehingga transportasi umum bisa lebih nyaman, seperti yang banyak diimpikan masyarakat.<br />
	Namun, impian mendapatkan fasilitas infrastruktur jalan dan transportasi umum yang memadai itu bisa terwujud bila pengelolaan dana pajak yang sesungguhnya dari masyarakat, benar-benar transparan. Dananya tidak ditelikung dan menguap ke mana-mana.<br />
	Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan PBBKB Pemprov Sulsel juga dibagi ke pemerintah kabupaten/kota dengan skema pembagian tertentu. Pajak jenis PKB misalnya dibagi dengan porsi 70 persen ke Pemprov Sulsel dan 30 persen ke kabupaten/kota. 			Sementara pajak PBBKB dengan proporsi 30 persen ke Pemprov Sulsel dan 70 persen ke kabupaten/kota. &#8220;Tidak dibagi rata. Tetap dilihat berapa penerimaan di setiap kabupaten/kota kemudian dibagi dengan skema pembagian 30 atau 70 persen sesuai jenis pajaknya,&#8221; kata Kepala Dispenda Sulsel, Arifuddin Dahlan.<br />
	Khusus penerimaan dari pajak PBBKB, dia mengaku Dispenda hanya bisa menerima saja tanpa bisa menguji kebenaran data dan perhitungannya. Menurut dia, tak ada auditor fungsional dari Dispenda maupun Inspektorat yang menguji kebenaran data dan nilai pajak yang diserahkan dari Pertamina.<br />
	Kalaupun pemprov menerima data, hanya sebatas laporan permukaan saja yang jelas masih diragukan kebenarannya, tetapi tak dapat dibuktikan. Satu-satunya audit internal yang bisa menguji kebenaran data mulai dari manifest penjualan dan pengiriman, kata Arifuddin Dahlan, hanya Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) saja.<br />
	Selama ini, akunya, penerimaan pajak PBBKB dari penyalur bahan bakar langsung ditransfer ke rekening kas daerah begitu saja tanpa didukung data-data transaksi sebenarnya. Dana PBBKB ditentukan besarannya berdasarkan perhitungan dari pihak Pertamina. Alasannya, pemeriksaan juga telah dilakukan oleh Pertamina sendiri sehingga dananya diterima secara kolektif.<br />
	Penguapan penerimaan pajak PBBKB masih berpeluang terjadi dengan diterapkannya upah pungut dari penerimaan pajak Pemprov Sulsel. Upah pungut ditarik sebesar lima persen dari total penerimaan pajak PBBKB yang diterima Pemprov Sulsel. Jasa upah pungut ini langsung dipotong oleh Pertamina sebagai pihak yang melakukan pemungutan pajak dari penyalur BBM seperti SPBU.<br />
	Kepala Bidang Pajak Dinas Pendapatan Daerah Sulsel, Malik Faisal, mengungkapkan, penerimaan pajak PBBKB dari Pertamina masih dipotong upah pungut sebesar Rp 743.030.186. Jasa upah pungut sebesar lima persen ini langsung dipotong sebelum diterima oleh Dispenda.<br />
	Surat keberatan terhadap pengenaan upah pungut dari setiap liter bahan bakar yang terjual telah dilayangkan ke Pertamina. Pemprov Sulsel beralasan pemotongan jasa upah pungut seharusnya tidak diterapkan lagi setelah terbitnya Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 973/98/SJ tentang Kebijakan Pemberian Insentif Pemungutan Pajak Daerah tertanggal 14 Januari 2010.<br />
	&#8220;Upah pungut lima persen itu aturan lama dan seharusnya tidak digunakan lagi. Undang-undang Pajak dan Retribusi Daerah yang menjadi acuan PBBKB belum terbit peraturan pemerintahnya, sehingga edaran Mendagri yang digunakan,&#8221; katanya.<br />
	Terkait transparansi penjualan bahan bakar kendaran bermotor, Dispenda memiliki pemikiran memanfaatkan unit pelaksana teknis dinas (UPTD) untuk melakukan pemantauan. Petugas di UPTD ini juga yang bisa dimaksimalkan menjadi petugas penarik upah pungut yang sangat besar nilainya.<br />
	Namun langkah itu sepertinya sulit dilakukan. Dispenda tidak memiliki data valid penjualan BBM. Akses data tersebut juga sulit diperoleh. Lagipula, dengan sistem pengawasan yang lemah tak ada jaminan dana pajak BBM tidak akan bocor lagi di perjalanannya menuju ke kas daerah. (tim)</p>
<p>Dewan Endus Ketidakberesan</p>
<p>KECURIGAAN muncul di kalangan legislator DPRD Sulsel melihat fakta penerimaan pajak penjualan bahan bakar kendaraan bermotor yang dinilai sangat minim. Banyak infrastruktur yang seharusnya telah terbangun dari pengelolaan dana pajak PBBKB.<br />
	Komisi C DPRD Sulsel pun merencanakan pemanggilan Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) dan Pertamina untuk menjelaskan nilai yang sesungguhnya diterima. &#8220;Kami akan meminta transparansi penjualan BBM dari Pertamina dan Dispenda pada rapat kerja yang segera diagendakan,&#8221; kata Ketua Komisi C, Buhari Kahar Muzakkar.<br />
	Anggota Badan Anggaran DPRD Sulsel, Mukhtar Tompo, mengkritik eksekutif yang sangat sulit menaikkan target pendapatan asli daerah hingga tujuh persen pada APBD 2010. Padahal ada potensi penerimaan yang sangat besar untuk dikelola dari penerimaan pajak PBBKB untuk dikembalikan ke masyarakat dalam bentuk pembangunan.<br />
	Legislator Partai Hanura itu mengemukakan, pendapatan Dispenda untuk dimasukkan sebagai pembiayaan pengeluaran daerah seharusnya tidak hanya Rp 230 miliar setahun dari PBBKB. Angka yang lebih besar bisa diperoleh dari jumlah tersebut<br />
	Informasi yang diperoleh legislator Partai Hanura itu,<br />
pendapatan Pemprov Sulsel dari sumber pajak PBBKB sebesar lima persen bisa mencapai Rp 5 miliar. Dalam sebulan bahkan bisa mencapai Rp 150 miliar atau Rp 1,830 triliun per tahun.<br />
	&#8220;Jumlah itu sangat besar bila benar-benar mau diurus atau dikelola dengan baik untuk membiayai pembangunan di Sulsel. Nyaris sama dengan penerimaan dari pusat yang sangat sulit lobinya untuk mendapatkannya,&#8221; tuturnya.<br />
	Pendapatan yang ditargetkan pada APBD 2010 untuk membiyai pembangunan di Sulsel hanya Rp 2,3 triliun. Jumlah ini sudah termasuk pendapatan asli daerah Rp 1,4 triliun dan dan dana bagi hasil pajak Rp 952 miliar.<br />
	Tidak banyak yang berubah dari pendapatan 2009 lalu. Kenaikan pendapatan hanya sekitar 4,78 persen atau sekira Rp 109,797 miliar. Pendapatan asli daerah bahkan ditargetkan naik hanya tujuh persen dari Rp 1,319 triliun menjadi 1,412 triliun. 7,00 persen.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryafatta.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryafatta.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryafatta.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryafatta.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aryafatta.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aryafatta.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aryafatta.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aryafatta.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryafatta.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryafatta.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryafatta.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryafatta.wordpress.com/296/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryafatta.wordpress.com/296/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryafatta.wordpress.com/296/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryafatta.wordpress.com&amp;blog=2516735&amp;post=296&amp;subd=aryafatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryafatta.wordpress.com/2010/05/11/melacak-bocornya-pajak-bbm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/642c92b844d7839667714c6dd1905131?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aryafatta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjelajahi Singapura</title>
		<link>http://aryafatta.wordpress.com/2010/05/05/menjelajahi-singapura/</link>
		<comments>http://aryafatta.wordpress.com/2010/05/05/menjelajahi-singapura/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 May 2010 14:21:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aryafatta</dc:creator>
				<category><![CDATA[ADVENTURE]]></category>
		<category><![CDATA[christmas]]></category>
		<category><![CDATA[marina bay]]></category>
		<category><![CDATA[merlion]]></category>
		<category><![CDATA[orchard road]]></category>
		<category><![CDATA[singapore flyer]]></category>
		<category><![CDATA[singapura]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryafatta.wordpress.com/?p=290</guid>
		<description><![CDATA[Kemeriahan Christmas in The Tropic di Orchard Road SINGAPURA memiliki gaya sendiri merayakan natal. Berkonsep Christmas in The Tropic, butiran salju yang biasanya mengiringi perayaan kelahiran Yesus Kristus berganti menjadi taburan cahaya lampu di berbagai sudut kota dari Orchad Road sampai Marina Bay. HARIFUDDIN, Singapura ENAM balerina, empat perempuan dan dua laki-laki, meliukkan badannya di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryafatta.wordpress.com&amp;blog=2516735&amp;post=290&amp;subd=aryafatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kemeriahan Christmas in The Tropic di Orchard Road</p>
<p>SINGAPURA memiliki gaya sendiri merayakan natal. Berkonsep Christmas in The Tropic, butiran salju yang biasanya mengiringi perayaan kelahiran Yesus Kristus berganti menjadi taburan cahaya lampu di berbagai sudut kota dari Orchad Road sampai Marina Bay.</p>
<p>HARIFUDDIN, Singapura</p>
<div id="attachment_291" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/05/26-12-orchard-22.jpg"><img src="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/05/26-12-orchard-22.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="26-12-orchard 2" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-291" /></a><p class="wp-caption-text">Christmas at Orchard Road</p></div>
<p>ENAM balerina, empat perempuan dan dua laki-laki, meliukkan badannya di atas panggung berlatar hitam. Musik kontemporer beritme cepat mengiringi gerakan penari bertubuh lentur itu. Di belakangnya, tiga monitor berukuran besar memperlihatkan detail gerak ritme para penari.<br />
	Pertunjukan penari balet itu bukan dilakukan di Esplanade atau di dalam teater megah lainnya dengan cahaya lampu redup yang dramatis. Lampu yang terang benderang dengan berbagai warna justru menyorot para penari dari segala penjuru.</p>
<div id="attachment_292" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/05/balet.jpg"><img src="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/05/balet.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="balet" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-292" /></a><p class="wp-caption-text">Balet depan pusat perbelanjaan Paragon Orchard Road</p></div>
<p>	Sajian hiburan seni tari yang memukau pengunjung ini dilakukan di Orchard Road, salah satu jalan utama negara Singapura yang terkenal dengan pusat perbelanjaan produk merek terkenal. Jalan yang terbilang padat itu telah ditutup sejak pukul 13.00 waktu setempat, Jumat, 25 Desember, untuk menyukseskan perayaan puncak hari raya natal.<br />
	Bukan Singapura namanya, jika negara kecil ini tidak kreatif mengelola event apapun menjadi daya pikat menarik wisatawan. Bahkan, hari Natal pun dirayakan tidak hanya dengan cara biasa saja. Event ini dikemas dengan konsep Christmas in The Tropics.</p>
<p><a href="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/05/lampu.jpg"><img src="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/05/lampu.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="lampu" width="300" height="225" class="aligncenter size-medium wp-image-293" /></a></p>
<p>	Beraneka warna lampu menerangi Orchard Road. Lampu bermotif seragam dengan kombinasi kuning dan biru atau merah muda dan biru membentang di sepanjang jalan. Bahkan, pepohonan yang rimbun di pinggir jalan pun, tak luput dari pemasangan lampu yang berbentuk bundar dengan cahaya berwarna biru dan putih. Sangat spektakuler<br />
	Christmas in The Tropics memang dikemas bersama dengan konsep Christmas Light-Up. Makanya, semua sudut jalan seolah ditaburi bermacam warna dan bentuk lampu penerangan.<br />
	Penutupan jalan Orchard Road untuk berbagai jenis kendaraan mulai ditutup dari arah Orchard Link. Warga lokal maupun wisatawan mancanegara harus berjalan kaki sekira 300 meter agar dapat melihat lebih dekat puncak event Christmas In The Tropics.<br />
	Panggung pertunjukan ditempatkan di ruas jalan tepat di depan pusat perbelanjaan Takashimaya dan Paragon. Setelah puas berbelanja berbagai produk dengan tawaran diskon dari 20-50 persen, Pengunjung langsung menyaksikan sajian hiburan.<br />
	Aksi panggung para performer acara bertajuk One Christmas One Hoper itu bukan hanya tarian memikat balerina saja. Pengunjung juga dihibur dengan operet yang pemainnya rata-rata bule.<br />
	Operet dalam bahasa Inggris itu menceritakan kisah kelahiran Yesus Kristus hingga melakukan penyebaran ajaran agama Kristen. Suara-suara domba tak ketinggalan mengisi suara pertunjukan olah gerak dan musik itu.<br />
	Pertunjukan operet, lagu, dan ballet, dimulai sejak pukul 19.00 waktu setempat. Hujan yang turun cukup deras di sore hari, sempat menghentikan geladi resik para performer. Beruntung, hujan tak lama reda, sehingga orang-orang bebas memenuhi jalan dan menikmati sajian hiburannya tanpa takut kebasahan. Hingga pukul 23.00, acara belum berakhir. Warga tumpah di jalan.<br />
	Tak jauh dari panggung pementasan operet, puluhan stan yang juga dibangun di atas Orchard Road, menjadi salah satu incaran pengunjung. Stan itu dibentuk dengan berbagai model, tetapi tetap dengan konsep natal.<br />
	Modelnya yang artistik serta berbagai jenis lampu yang menghiasinya membuat stan ini menjadi pusat perhatian. Tak jarang wisatawan bersenggolan hanya untuk berfoto bersama.<br />
	Bayu Rahadian, salah seorang warga Surabaya yang mengisi liburan natalnya di Singapura, mengaku sangat kagum dengan semua konsep yang dikemas sangat apik. &#8220;Dekorasi liburan natalnya sangat futuristik. Bukan hanya wisata belanja saja yang menjadi alasan kunjungan ke Singapura,&#8221; katanya.<br />
	Hiburan yang ditampilkan warga Singapura kepada wisatawan yang berkunjung ke negaranya banyak ditemukan di sepanjang jalan. Kidung natal yang biasanya dibawakan secara khidmat di gereja pun turun ke jalan.<br />
	Sekelompok paduan suara dengan dua pemetik gitar dan satu pemain piano menyanyikan beberapa kidung natal. Seorang konduktor yang memimpin paduan suara memandu harmonisasi suara penyanyi dan pemusik di antara hilir mudik pengunjung di pedesterian yang sangat nyaman itu.<br />
	Di sisi jalan yang lain, dua penari balet klasik unjuk aksi di tengah ratusan pengunjung, malam tadi. Penari perempuan berumur sekira 15 tahun yang berpakaian ketat warna hitam itu memperlihatkan kemampuannya melipat-lipat tubuhnya. Sesekali, mereka juga menumpukan kepalanya di atas bangku bundar.<br />
	Kemampuan kedua penari itu dipertunjukkan selama 10 menit. Instrumen klasik mengiringi penampilannya. Setelah mengakhiri gerakan dengan gaya membungkuknya yang khas, para penonton pun menjatuhkan koin di keranjang yang telah disiapkan.<br />
	Semakin menjelang tengah malam, atraksi yang dipertunjukkan makin padat pengunjung. Apalagi, sejumlah pusat perbelanjaan juga sudah mulai mengurangi geliatnya.<br />
	Kendati banyak wisatawan yang mengisi liburan natalnya di negara yang terkenal dengan wisata belanja dan hiburannya itu, pusat perbelanjaannya seolah tak terpengaruh. Mayoritas menghentikan aktivitas bisnisnya pukul 22.00.<br />
	Tempat perburuan berbagai merek terkenal dengan harga miring, Orchhad Road tempatnya. Di tempat ini ada Nge Ann City yang menawarkan berbagai merek mulai dari Gucci hingga Luis Vuitton.<br />
	Potongan harga yang cukup besar juga bisa diperoleh di Ion Orchard, pusat perbelanjaan dengan arsitektur futuristik yang dilaunching 16 Oktober lalu. Dilengkapi tempat konser dan pertunjukan berbagai even, Ion menawarkan berbagai jenis merek terkenal.<br />
	Tidak mendapatkan event Christmas in The Tropics dan Christmas Light-Up pada 25 Desember? Tak perlu khawatir. Even dengan konsep yang sama masih berlangsung hingga 3 Januari mendatang. Pesta yang lebih spektakur berlangsung di Marina Bay pada malam pergantian tahun. (*)</p>
<a href="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/05/at-singapura.jpg"><img src="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/05/at-singapura.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="at singapura" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-294" /></a>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryafatta.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryafatta.wordpress.com/290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryafatta.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryafatta.wordpress.com/290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aryafatta.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aryafatta.wordpress.com/290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aryafatta.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aryafatta.wordpress.com/290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryafatta.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryafatta.wordpress.com/290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryafatta.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryafatta.wordpress.com/290/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryafatta.wordpress.com/290/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryafatta.wordpress.com/290/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryafatta.wordpress.com&amp;blog=2516735&amp;post=290&amp;subd=aryafatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryafatta.wordpress.com/2010/05/05/menjelajahi-singapura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/642c92b844d7839667714c6dd1905131?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aryafatta</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/05/26-12-orchard-22.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">26-12-orchard 2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/05/balet.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">balet</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/05/lampu.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">lampu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/05/at-singapura.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">at singapura</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menyusuri Kanal Kota Tua Amsterdam</title>
		<link>http://aryafatta.wordpress.com/2010/04/24/menyusuri-kanal-kota-tua-amsterdam/</link>
		<comments>http://aryafatta.wordpress.com/2010/04/24/menyusuri-kanal-kota-tua-amsterdam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Apr 2010 16:03:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aryafatta</dc:creator>
				<category><![CDATA[ADVENTURE]]></category>
		<category><![CDATA[amsterdam]]></category>
		<category><![CDATA[anne frank]]></category>
		<category><![CDATA[belanda]]></category>
		<category><![CDATA[heineken]]></category>
		<category><![CDATA[herengracht]]></category>
		<category><![CDATA[kanal]]></category>
		<category><![CDATA[kanal amsterdam]]></category>
		<category><![CDATA[kanal kota tua]]></category>
		<category><![CDATA[kanal putri]]></category>
		<category><![CDATA[nemo\]]></category>
		<category><![CDATA[rumah terapung di belanda]]></category>
		<category><![CDATA[sungai]]></category>
		<category><![CDATA[voc]]></category>
		<category><![CDATA[yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryafatta.wordpress.com/?p=277</guid>
		<description><![CDATA[Bangunan Kuno tak Diusik, Pajak Rumah Air Dibuat Mahal KINCIR angin telah menjadi landmark Belanda. Tapi negara ini juga tak kalah terkenal dengan kepiawaiannya mengelola air. Sebagian daerahnya yang berada di bawah permukaan laut, tak lagi pernah terendam. Sebaliknya, malah telah menjadi objek wisata. HARIFUDDIN Amsterdam KEINDAHAN kota tua Amsterdam yang menjadi ibukota negara Belanda [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryafatta.wordpress.com&amp;blog=2516735&amp;post=277&amp;subd=aryafatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bangunan Kuno tak Diusik, Pajak Rumah Air Dibuat Mahal </p>
<div id="attachment_284" class="wp-caption alignleft" style="width: 235px"><a href="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/depan-asrama.jpg"><img src="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/depan-asrama.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" title="depan asrama" width="225" height="300" class="size-medium wp-image-284" /></a><p class="wp-caption-text">Sebelum menyusuri kanal tua, berfoto dahulu di Asrama SIN di Wasenaar, Den Haag</p></div>
<p>KINCIR angin telah menjadi landmark Belanda. Tapi negara ini juga tak kalah terkenal dengan kepiawaiannya mengelola air. Sebagian daerahnya yang berada di bawah permukaan laut, tak lagi pernah terendam. Sebaliknya, malah telah menjadi objek wisata.</p>
<p>HARIFUDDIN<br />
Amsterdam</p>
<p>KEINDAHAN kota tua Amsterdam yang menjadi ibukota negara Belanda bisa disusuri sekitar satu jam. Berbagai objek sejarah masa lampau hingga abad kXVI bisa disaksikan lebih dekat dengan alat transportasi air Canal Cruise Amsterdam.</p>
<div id="attachment_279" class="wp-caption aligncenter" style="width: 1033px"><a href="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/terapung-11.jpg"><img src="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/terapung-11.jpg?w=1023&#038;h=768" alt="" title="terapung 1" width="1023" height="768" class="size-large wp-image-279" /></a><p class="wp-caption-text">Rumah terapung di sepanjang kanal kota tua Amsterdam</p></div>
<p>Salah satu terminal kanal bus yang dapat diakses berada di depan kantor pusat Heineken Bierbrouwerij Maatscappij. Hanya dengan membayar tiket seharga 10-12,5 Euro (setara Rp 130.000-Rp 162.200 dengan kurs 13.000), kota tua Amsterdam sudah bisa disusuri.<br />
Amsterdam sebenarnya dibangun di atas rawa-rawa dengan kondisi tanah berpasir. Tapi saat ini, bangunan bersejarah yang berdiri kokoh di tepi kanal posisinya sudah lebih tinggi dari permukaan kanal, meskipun hanya beberapa sentimeter lagi sudah mencapai permukaan jalan.</p>
<div id="attachment_280" class="wp-caption aligncenter" style="width: 1033px"><a href="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/terapung-2.jpg"><img src="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/terapung-2.jpg?w=1023&#038;h=768" alt="" title="terapung 2" width="1023" height="768" class="size-large wp-image-280" /></a><p class="wp-caption-text">Rumah terapung di Prinsesgracht</p></div>
<p>Kanal-kanal di kota Amsterdam mulai dibangun pada awal abad XVI dengan jumlah jembatan penghubung saat itu masih 52 buah. Seiring perkembangan kota, jembatan penghubung terus bertambah hingga menjadi 1.500 buah dengan berbagai bentuk khas.<br />
Kaca transparan yang menutupi kanal bus memudahkan pengamatan kota lebih dekat, mulai dari objek kuno hingga modern. Bila penyusuran kanal dimulai dari depan kantor Heineken, kanal pertama yang dilintasi adalah Leitsegracht atau Kanal Leitse.</p>
<div id="attachment_285" class="wp-caption aligncenter" style="width: 277px"><a href="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/kanal-2.jpg"><img src="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/kanal-2.jpg?w=600" alt="" title="kanal 2"   class="size-full wp-image-285" /></a><p class="wp-caption-text">Bersama kru penari delegasi Sulsel di kanal Cruise kota tua Amsterdam</p></div>
<p>Selama menyusuri kanal-kanal kota Amsterdam, banyak rumah air berbagai ukuran dengan bentuk cukup mewah, dilewati. Saat ini, pertumbuhan rumah air terhenti di angka 3.000 unit. Selain karena pajaknya yang mahal, Pemerintah Belanda memang sudah tidak mengeluarkan izin pembangunan.<br />
Bila penyusuran terus dilanjutkan, bus akan melalui Princessgracht atau Kanal Putri. Kanal ini merupakan satu dari tiga kanal utama di Amsterdam. Namanya diberikan langsung oleh putri penguasa Belanda abad XVII.<br />
Tour guide dari Canal Cruise Amsterdam, Thomas Dahns, mengungkapkan, pengerukan kanal utama mulai dilakukan pada abad XVII. Permukaan air saat itu sering meluap dan merendam kota yang memang sebagian besar dibangun di atas rawa-rawa.<br />
Agar tidak terus menjadi masalah, terutama pada saat air laut pasang, maka diputuskanlah untuk menggali semua bagian kanal. “Volume air kanal saat itu kadang mencapai tiga kali dari daya tampung kanal,” katanya, saat membawa penulis menyusuri Amsterdam, Minggu, 4 April lalu.<br />
Bentuk kanal utama di Amsterdam rata-rata berbentuk bulan sabit. Bentuk ini menjadi ciri khas kota tua. “Dataran terbagi atas sembilan pulau yang kemudian dibagi-bagi lagi dengan membuat kanal buatan,” jelasnya.<br />
Pemandangan yang paling dominan selama menyusuri kanal dengan bus air adalah bangunan kuno yang bentuknya kadang seragam. Ada sekitar 8.000 bangunan di Amsterdam yang saat ini berada di bawah perlindungan monumen dan kota tua.<br />
Objek bersejarah lain yang bisa dilihat lebih dekat selama penyusuran kanal adalah monumen berupa gereja dengan jam besar dan kubah menyerupai mahkota. Gereja yang dibangun tahun 1631 itu merupakan Gereja Pantekosta terbesar di Eropa. Butuh waktu tujuh tahun untuk menyelesaikan gereja dengan tinggi menara 83 meter itu.<br />
Dari sekian banyak deretan rumah yang dilalui selama perjalanan menggunakan transportasi air, rumah bernomor 283 paling menarik perhatian penumpang bus air. Apalagi, banyak orang berkerumun di depan pintu bercat hijau tersebut untuk mengabadikan momen dengan kamera.<br />
Rumah nomor 283 itu merupakan tempat tinggal Anne Frank. Anne Frank seorang gadis Yahudi yang bersama keluarganya bersembunyi dalam kamar kecil di loteng rumah sejak 1942 sampai 1944. Saat itu tentara Jerman sedang menguasai wilayah Belanda. Rumah itu kini dijadikan museum untuk menggambarkan kehidupan Anne Frank<br />
dan keluarganya.<br />
Kanal bus yang membawa 35 penumpang itu lalu berbelok ke kanan ke arah Leyligracht atau Kanal Leyli. Kanal ini menjadi penghubung tiga kanal utama di Amsterdam. Dulunya merupakan pintu air dan dibangun tahun 1785.<br />
Melewati Herenggracht atau kanal laki-laki, penumpang akan dibawa melintasi zaman keemasan Amsterdam. Kota ini berkembang menjadi paling jaya di Eropa. “Herenggracht kanal terindah dari tiga kanal utama yang ada di Amsterdam,” kata Thomas Dahns.<br />
Rumah kuno yang berada di sepanjang kanal umumnya bertiang penyangga konstruksi kayu keras yang sebagian besar didatangkan dari Indonesia. Belanda membutuhkan kayu tersebut, karena kondisi tanahnya berupa rawa-rawa. Pada beberapa bagian, kita akan menemukan rumah yang sudah miring, karena tiang penyangganya mulai rapuh.<br />
Bila melintasi Brouwersgracht atau kanal Brouwers, akan terlihat rumah berbentuk seragam dengan dinding berwarna hitam. Menurut Thomas, nama brouwers diambil karena dulu, kawasan tersebut merupakan pusat pembuatan bir.<br />
Setelah meninggalkan kota tua, kita akan menemukan banyak pintu air menuju kanal utama. Jumlah pintu air yang masih terpelihara saat ini sebanyak 16 buah di dalam kota. Fungsinya, selain menyegarkan air kanal, juga mengatur ketinggian air di dalam kanal kota. Pintu air ini terbuat dari kayu yang sangat keras dan besar serta dicat hitam. Pengatur buka tutup pintu air sudah menggunakan peralatan mekanis.<br />
Muara dari kanal utama dalam kota tua Amsterdam adalah kanal laut utara. Kanal ini terlebar di dunia dengan dimensi lebar 170 meter dan panjang 20 kilometer. Selain menjadi muara kanal utama, juga sekaligus menjadi dermaga perahu berukuran besar.<br />
Kanal laut utara juga masih digunakan sebagai dermaga pelabuhan fery yang menghubungkan sisi barat dan timur. Dermaganya bernama Central Station yang dibangun di atas 9000 pilar kayu dan menjadi stasiun terbesar di Belanda.</p>
<p>Selain itu, di kanal laut utara juga ada pelabuhan khusus yang panjang dermaganya mencapai 600 meter. Dermaga ini menjadi pelabuhan khusus kapal pesiar, terutama dari Budapest ke Amsterdam. Sehari sebelum penulis menyusuri kanal ini, bersandar kapal pesiar Avalon Waterways.<br />
Tak jauh dari terminal khusus kapal pesiar, terdapat stadium tempat konser musik jaz dan klasik. Stadium itu bernama Muziekgebouwaantij dengan konstruksi yang cukup futuristik.<br />
Mengarungi dermaga timur kanal utama, merupakan pelabuhan laut Amsterdam. Di pelabuhan laut ini berdiri kokoh bangunan menyerupai kapal berwarna hijau dan sangat terkenal dengan nama Nemo. Bangunan futuristik itu menjadi pusat pengkajian ilmu pengetahuan dan teknologi.</p>
<div id="attachment_281" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/nemo.jpg"><img src="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/nemo.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="nemo" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-281" /></a><p class="wp-caption-text">Penumpang Canal Cruise berpose di atas perahu dengan latar belakang Pusat Penelitian Nemo yang berwarna hijau mirip bangunan kapal</p></div>
<p>“Pengunjungnya dari berbagai kalangan. Mereka terlibat langsung melakukan berbagai macam penelitian terutama ilmu pengetahuan dan teknologi,” kata Thomas.<br />
Tepat di sampingnya, masih berdiri dengan kokoh kapal milik perusahaan dagang Kerajaan Belanda abad XVI-XVII. Sepintas, mirip kapal dari Tanah Beru Bulukumba. Hanya saja, bentuk haluannya tidak meruncing, tetapi nyaris melengkung datar.</p>
<div id="attachment_282" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/voc-1.jpg"><img src="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/voc-1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="voc 1" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-282" /></a><p class="wp-caption-text">Kapal uji coba milik VOC</p></div>
<p>Kapal dengan ukiran khas dua laki-laki, masing-masing memegang ayam dan anjing, berwarna kombinasi hijau dan putih itu merupakan kapal percobaan VOC. Hampir enam tahun, barulah kapal percobaan itu rampung dan kini masih berdiri kokoh di samping pusat penelitian, Nemo. Kapal itu dibangun pada awal abad XVIII.</p>
<div id="attachment_283" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/voc-2.jpg"><img src="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/voc-2.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="voc 2" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-283" /></a><p class="wp-caption-text">Bagian belakang kapal milik VOC</p></div>
<p>Banyak pemandangan indah yang bisa disaksikan di sekitar pusat penelitian ilmu pengetahuan itu. Salah satunya Sea Palace, yang merupakan restoran China terapung yang terbesar di Eropa.<br />
Tak jauh dari restoran itu, masih berdiri kokoh Gereja St Nicola yang mempertahankan gaya Victoria. Kita juga dapat menyaksikan Menara Montelban dengan puncak menara bergaya Renaissance sebagai dekorasinya. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryafatta.wordpress.com/277/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryafatta.wordpress.com/277/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryafatta.wordpress.com/277/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryafatta.wordpress.com/277/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aryafatta.wordpress.com/277/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aryafatta.wordpress.com/277/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aryafatta.wordpress.com/277/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aryafatta.wordpress.com/277/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryafatta.wordpress.com/277/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryafatta.wordpress.com/277/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryafatta.wordpress.com/277/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryafatta.wordpress.com/277/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryafatta.wordpress.com/277/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryafatta.wordpress.com/277/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryafatta.wordpress.com&amp;blog=2516735&amp;post=277&amp;subd=aryafatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryafatta.wordpress.com/2010/04/24/menyusuri-kanal-kota-tua-amsterdam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/642c92b844d7839667714c6dd1905131?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aryafatta</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/depan-asrama.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">depan asrama</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/terapung-11.jpg?w=1023" medium="image">
			<media:title type="html">terapung 1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/terapung-2.jpg?w=1023" medium="image">
			<media:title type="html">terapung 2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/kanal-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kanal 2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/nemo.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">nemo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/voc-1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">voc 1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/voc-2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">voc 2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Catatan Perjalanan Menjelajahi Peradaban Modern dan Kuno Belgia</title>
		<link>http://aryafatta.wordpress.com/2010/04/23/catatan-perjalanan-menjelajahi-peradaban-modern-dan-kuno-belgia/</link>
		<comments>http://aryafatta.wordpress.com/2010/04/23/catatan-perjalanan-menjelajahi-peradaban-modern-dan-kuno-belgia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Apr 2010 12:40:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aryafatta</dc:creator>
				<category><![CDATA[ADVENTURE]]></category>
		<category><![CDATA[Atomium]]></category>
		<category><![CDATA[Belgia]]></category>
		<category><![CDATA[Brussel]]></category>
		<category><![CDATA[Julian Petit]]></category>
		<category><![CDATA[Manneken Pis]]></category>
		<category><![CDATA[parlemen]]></category>
		<category><![CDATA[Royal Palace]]></category>
		<category><![CDATA[Uni Eropa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryafatta.wordpress.com/?p=269</guid>
		<description><![CDATA[Manneken Pis, Atomium, Royal Palace, Julian Petit, Belgia, Brussel<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryafatta.wordpress.com&amp;blog=2516735&amp;post=269&amp;subd=aryafatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Keindahan Kota Brussel di Ketinggian 102 Meter</p>
<p>SEMBILAN bola raksasa berbentuk struktur molekul menjadi monumen megah di jantung Eropa. Menara bergaya futuristik bernama Atomium ini salah satu simbol kemegahan dan modernisasi Kota Brussel, ibukota negara Belgia</p>
<p>HARIFUDDIN</p>
<p>KABUT tipis masih menyelimuti bola-bola atom raksasa bergaris tengah 18 meter itu ketika saya dan enam rekan lainnya berkunjung Minggu, 4 April. Pagi itu, belum banyak pengunjung yang datang menyaksikan lebih dekat karya arsitek Andre Waterkeyn yang dibangun tahun 1958. </p>
<p><a href="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/depan-un.jpg"><img src="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/depan-un.jpg?w=225&#038;h=300" alt="berpose depan atomium" title="berpose depan atomium" width="225" height="300" class="aligncenter size-medium wp-image-270" /></a></p>
<p>	Atomium salah satu dari sekian banyak karya arsitektur modern yang berdiri megah di antara ratusan bangunan kuno yang masih terpelihara dengan sangat baik. Letaknya di kawasan Heysel Park, sekira 10 kilometer dari kawasan kota kuno Brussel.<br />
	Komposisi arsitekturnya sangat mengagumkan dan menjadi simbol kemajuan teknologi tinggi. Titik tumpu utama bola-bola atom berwarna keperakan itu terletak pada satu bola raksasa yang di bawahnya terdapat bangunan berbentuk lingkaran dan berfungsi sebagai pintu utama.<br />
	Berbagai merchandise khas Atomium seperti baju kaus, replika ikatan atom, dan sebagainya, dipasarkan di bangunan yang dijadikan galeri pemasaran. Sementara ruang pamer perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ditempatkan di beberapa bola atom raksasa.<br />
	Antara bola atom satu dengan bola atom lainnya dihubungkan pipa silinder yang sebenarnya berisi lift penghubung. Selain mengandalkan bola yang bersentuhan dengan tanah, tiga tiang yang juga berfungsi sebagai tangga ke tiga bola menyangga stabilitas kekuatan struktur bangunan.<br />
	Menurut Ayyi Rahyono, staf Kedutaan Besar RI untuk Belanda yang menemani perjalanan kami, dari sembilan bola yang menyerupai ikatan atom raksasa, ada tiga bola yang tidak terbuka untuk umum demi menjaga keselamatan pengunjung. Ketiga bola yang berada di bagian luar itu sebenarnya memiliki tiga pipa silinder yang terhubung dengan bola lainnya. Hanya saja, tak ada tiang vertikal sebagai tumpuan yang lebih stabil seperti bola-bola atom lainnya.<br />
	Keindahan kota Brussel dapat terlihat dari bola yang berada di titik puncak dengan ketinggian sekitar 102 meter dari permukaan tanah. Jendela dengan kaca khusus terpasang untuk pemantauan dari ketinggian. Sementara bola yang berada di tenga-tengah sebagai titik pusat ikatan dimanfaatkan sebagai tempat istirahat pengunjung Atomium.<br />
	Megahnya monumen Atomium juga bisa dilihat lebih menarik dari arah gedung parlemen Belgia yang letaknya tak jauh dari Atomium. Pemisahnya hanya taman dengan dua jalur kendaraan menuju Atomium atau gedung parlemen.</p>
<div id="attachment_271" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/parlemen.jpg"><img src="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/parlemen.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" title="parlemen" width="300" height="225" class="size-medium wp-image-271" /></a><p class="wp-caption-text">gedung Parlemen Belgia</p></div>
<p>	Bangunan berbentuk ikatan molekul atom itu bukan sekadar monumen biasa saja, tetapi simbol negara federasi Belgia telah masuk ke dalam dunia modern. Atomium dibangun awalnya hanya untuk even Brussels World&#8217;s Fair atau Exposition Universelle et Internationale de Bruxelles pada 17 April sampai 19 Oktober 1958.<br />
	Ribuan pekerja membangun monumen itu selama tiga tahun. Setelah rampung, Brussels World&#8217;s Fair dengan Atomium sebagai ikon utamanya dibuka Raja Baudouin I. Rencana awal, Atomium berbahan asli aluminium itu hanya untuk enam bulan saja.<br />
	Tetapi masyarakat Belgia meminta agar bangunan unik itu dipertahankan tanpa mengabaikan ikon negara lainnya seperti Manneken Piss atau grote markt. Renovasi yang menghabiskan dana 27 juta euro telah dilakukan 2004 silam dengan mengganti bagian aluminium menjadi baja tahan karat dan Atomium dibuka kembali untuk umum pada awal 2006.<br />
	Kekaguman terhadap molekul atom menginspirasi pembangunan gedung Atomium. Belgia juga berhasil mengembangkan teknologi nuklir dan mengeksploitasinya untuk berbagai kebutuhan energi di negara yang menggunakan bahasa Belanda dan Perancis itu sebagai bahasa nasional.<br />
	Kepala Biro Pemerintahan Umum Pemprov Sulsel, Andi Bakti Haruni, yang pernah mengenyam pendidikan di Perancis dan menjadi teman perjalanan saya menjelajahi beberapa bagian Belgia mengungkapkan, eksploitasi nuklir telah membuat negara ini surplus energi listrik.<br />
	Maka tak heran, ketika berjalan di setiap sudut kota Brussel yang menjadi ibukota negara yang terkenal dengan cokelatnya itu terang benderang dengan sinar lampu. Negara seluas 30.528 kilometer persegi yang terletak di antara Belanda dan Perancis bahkan memasok energi listrik untuk Belanda dan Perancis dari hasil eksploitasi energi nuklirnya.<br />
	Tak jauh dari Atomium, terdapat bangunan khas berasitektur Asia timur jauh. Bangunan tradisional yang terletak di kawasan perbukitan dengan ciri khas dominan warna merah itu merupakan sumbangan pemerintah Jepang. Ada dua bangunan menyerupai kuil tersebut dan letaknya saling berhadapan, hanya dipisahkan jalan raya.<br />
	Selain bangunan mirip kuil itu, juga masih terdapat objek lain yang bisa dikunjungi ketika berada di kawasan Heysel Park, yakni Stadion King Baudouin. Dulunya, stadion ini bernama Stadion Heysel yang diruntuhkan pada tahun 1994.<br />
	Menyebut nama Stadion Heysel, mengingatkan tragedi yang terjadi 29 Mei 1985 silam. Di tempat itulah, sebanyak 39 warga tewas ketika menyaksikan pertandingan perempatfinal Liga Champion antara Liverpool dan Juventus.<br />
	Tragedi itu terjadi ketika kelompok hooligan Liverpool menerobos tempat yang disiapkan untuk pendukung Juventus. Dinding pembatas akhirnya roboh dan menewaskan 39 penonton dan ratusan lainnya luka-luka. Tugu berbentuk jam matahari karya seniman Perancis, Patrick Remoux dibuat tahun 2005 berdiri tegak untuk mengenang peristiwa tersebut.<br />
	Modernisasi yang masuk ke Belgia di tengah upayanya mempertahankan kekunoan kota tua di kawasan Grote Markt yang menjadi alun-alun kota juga bisa terlihat di terowongan panjangnya. Terowongan ini kami lewati ketika keluar dari kawasan Heysel Park menuju jalan bebas hambatan tak berbayar yang menjadi jalur utama negara anggota Uni Eropa.<br />
	Saat melewati terowongan panjang yang terang benderang itu, pertanyaan terlintas di antara kami, bangunan apa kiranya yang berdiri di atas terowongan itu. Pertanyaan itu terjawab setelah melewati terowongan dan melihat bangunan tinggi nan megah serta kawasan permukiman berdiri kokoh di atas terowongan panjang itu. </p>
<p>Mengunjungi Manneken Pis</p>
<p>        PERADABAN yang terus berkembang tak membuat bangunan kuno di Brussel dengan arsitektur indah yang menonjolkan kemegahan dan kemewahannya harus tergusur. Gedung bernilai historis itu justru dirawat dan menjadi daya tarik wisata andalan.<br />
      &#8220;HANYA sebesar ini? Saya kira ukurannya besar,&#8221;. Itulah ungkapan ekspresi teman saya, Andi, ketika kami akhirnya mendapatkan sudut jalan tempat patung kecil yang sedang pipis. Ya, kami memang menyangka patung yang sangat terkenal dengan nama Manneken Pis itu seperti umumnya patung di Belgia yang berukuran besar.<br />
	Bila negara lain menggunakan karya monumental berukuran luar biasa besar sebagai ikon seperti Inggris dengan jam Big Ben atau Buckingham Palace, Perancis dengan menara Eifel, atau Amerika Serikat dengan patung Liberty, maka Belgia menggunakan patung anak kecil yang asyik mengencingi sebuah kolam hanya setinggi sekira 60 sentimeter.<br />
	Tapi namanya ikon, meskipun sepintas lalu tak ada yang istimewa dari patung kecil itu, setiap hari selalu ramai didatangi wisatawan. Padahal letaknya tidaklah di taman yang luas, melainkan di persimpangan jalan yang tidak lebar. Cukup hanya untuk satu mobil saja.</p>
<div id="attachment_272" class="wp-caption aligncenter" style="width: 235px"><a href="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/manneken-pis.jpg"><img src="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/manneken-pis.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" title="manneken pis" width="225" height="300" class="size-medium wp-image-272" /></a><p class="wp-caption-text">Manneken pis</p></div>
<p>	Kami tidak mudah menemukannya. Harus berputar-putar terlebih dahulu di pagi hari yang masih gelap dan basah karena hujan baru saja turun di awal musim semi, mengelilingi kota tua Brussel sebelum akhirnya melihat dari dekat patung yang sangat terkenal itu.<br />
	 Posisi berdirinya tepat di persimpangan Jalan Stoofstraat atau Rue de L’Etuve dan Jalan Eikstraat atau Rue du Chêne. Nama jalan di Belgia memang menggunakan dua bahasa, Perancis dan Belanda. Staf Kedubes RI untuk Belanda, Ayyi Rahyono, menuturkan, kepala pemerintahannya saja, ketika membacakan pidato sambutan harus menggunakan bahasa Perancis dan Belanda.<br />
	&#8220;Bila tidak, salah satu kelompok pengguna bahasa terbesar di negara itu akan protes,&#8221; katanya. Belgia menggunakan kedua bahasa negara tetangganya sebagai bahasa nasional. Komunitas Flandria menggunakan bahasa Belanda dan Walonia bahasa Perancis. Bahasa Jerman juga digunakan warga Belgia dalam komunitas kecil yang berbatasan dengan negara Jerman.<br />
	Saat saya mengunjunginya, Manneken Pis sedang tidak mengenakan busana, meskipun udara di Brussel sangat dingin, sekira lima derajat celcius. Hanya topi bulat berwarna kuning keemasan yang terpasang di kepalanya sebagai aksesori.<br />
	Tapi pada momen tertentu, kata Ayyi, Manneken Pis yang juga bernama Perancis, Petit Julien, mengenakan busana khas dari berbagai negara. Pada event Brussels International Fantastic Film Festival yang akan digelar 20 April, besok, pengelola Musée de la Ville de Bruxelles akan memasang kostum ala drakula pada patung mungil itu.<br />
	Setidaknya ada lima jenis kostum yang akan dikenakan Manneken Pis selama April ini dalam rangkaian festival menyambut musim semi di Belgia. Ikon Belgia itu telah memiliki ratusan kostum dan tersimpan di Musée de la Ville de Bruxelles. Kostum kosmonot, Nelson Mandela, hingga Elvis Presley pernah dikenakannya. Termasuk busana adat Lampung yang merupakan pakaian ke-809 dan digunakan pada 18-19 Agustus 2008.<br />
	Patung bocah berambut ikal berbahan perunggu itu dijaga sangat ketat. Kamera pengawas yang terlihat, berada di sisi kiri patung. Belum lagi petugas keamanan yang berwajah tegas berdiri tak jauh dari patung dan mengawasi wisatawan yang memotret. Saat saya sedang mengambil gambar, ada wisatawan lain berpose dengan latar belakang Manneken Pis sambil memanjat pagar pembatasnya.<br />
	Banyak cerita legenda yang melatarbelakangi kehadiran Manneken Pis yang nama Belanda dan Perancis-nya digunakan oleh dua toko didepannya. Salah satunya seperti yang disebutkan Ayyi Rahyono, Manneken Pis adalah anak bangsawan Perancis yang hilang ketika Belgia terbakar. Dia ditemukan di sudut jalan sedang pipis.<br />
	Legenda lain yang juga tak kalah terkenalnya adalah ketika Brussel terkepung kekuatan musuh pada abad 14. Musuh raja Belgia telah menyusun rencana menempatkan beberapa bahan peledak di seluruh tembok kota. Anak kecil bernama Juliaanske dari Brussel mengencingi sekering yang terbakar dan akhirnya menyelamatkan kota.<br />
	Manneken Pis yang asli diperkirakan sudah ada sejak abad 14 dan beberapa kali dicuri. Kondisinya sudah patah ketika ditemukan kembali. Pemerintah Belgia kemudian memerintahkan pematung Jerome Duquesnoy membuat tiruannya pada tahun 1619. Patung mungil itu kini menjadi daya tarik wisatawan yang tak kalah tenar dari menara Eifel di Perancis.<br />
	Setelah berfoto sejenak dengan Manneken Pis, penelusuran berlanjut melewati ruas jalan sisi kanan kantor walikota Brussel. Tak sampai lima menit berjalan kaki, alun-alun kota yang sangat indah bernama Grand Place atau dalam bahasa Belanda Grote Markt sudah terlihat.<br />
	Seperti jalan-jalan di kawasan kota tua Belgia pada umumnya, jalan menuju Grand Place sampai pada alun-alun berbentuk perseginya tidak terbuat dari campuran aspal. Permukaan jalannya menggunakan batu alam jenis granit berbentuk persegi dengan ukuran sekitar 5-10 sentimeter. </p>
<div id="attachment_273" class="wp-caption aligncenter" style="width: 778px"><a href="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/groote-markt.jpg"><img src="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/groote-markt.jpg?w=768&#038;h=1024" alt="" title="groote markt" width="768" height="1024" class="size-large wp-image-273" /></a><p class="wp-caption-text">Depan Groote Markt</p></div>
<p>	Penataan dan pemasangan batu alamnya sangat rapi dan kuat. Tetapi ketika melintasi jalan menggunakan mobil, terasa agak kurang nyaman, seperti layaknya melintas di jalan yang tidak rata.<br />
	Grote Markt menjadi simbol kejayaan Belgia sekaligus menunjukkan perhatian pemerintahnya mempertahankan bangunan kuno di tengah modernisasi yang berkembang di negara itu. Semua bangunan kuno tetap dipertahankan meskipun dimiliki oleh pihak swasta.<br />
	Alun-alun kota atau Grote Markt yang dulunya diperuntukkan sebagai pasar besar dikelilingi empat gedung dengan karya arsitektur yang sangat indah. Detail pahatan patung dan kronologi dioramanya menunjukkan tingginya cita rasa seni. Gaya arsitekturnya kombinasi antara gothic, baroque, dan Louis XIV.<br />
	Bangunan yang mengelilingi Grote Markt adalah Hotel de Ville atau Stadhuis, Maison du Roi atau Broodhuis, Le Pigeon dan La Maison des Boulangers. Keanggunan gedung tua yang terawat baik itu berdiri menantang di tengah desakan perkembangan Brussel yang menjadi ibukota Uni Eropa.<br />
	Salah satu bangunan memikat dengan relief yang sangat indah berwarna krem adalah Hotel de Ville. Namanya, memang Hotel de Ville, tapi sebenarnya bukan hotel tempat menginap. Bangunan dengan puluhan jalan masuk penuh relief itu merupakan kantor walikota Brussel, sehingga juga disebut Stadhuis.<br />
	Sebuah menara yang meruncing di ujungnya juga penuh relief menambah kemegahan Hotel de Ville. Mirip menara gereja katedral. Posisinya tidak tepat berada di tengah-tengah bangunan yang melebar itu. Bila mengambil posisi berhadapan, bangunan di sisi kiri menara lebih lebar dibanding sisi kanannya. Pada bagian atas menara terpasang patung St Michael.<br />
	Ada tenda lengkap dengan panggungnya terpasang tepat di depan bangunan Maison du Roi saat itu. Tanah lapang yang luas dengan lantai batu alam, kata Ayyi, memang kerap dijadikan lokasi pertemuan, pertunjukan, dan berbagai kegiatan warga lainnya.<br />
	Sesuai namanya, dahulu, Grote Markt adalah sebuah pasar besar. Sampai saat ini, tradisi berkumpul di pusat kota tua itu masih dilakukan warga Brussel sambil bersantai di beberapa kedai yang banyak berdiri di sekitar Grote Markt atau Grand Place sambil menikmati cokelat Belgia yang terkenal lezat atau menenggak bir Belgia.<br />
	Bangunan lain yang tak kalah mewahnya di Kota Brussel adalah Royal Palace. Gedung megah bergaya neo klasik ini merupakan kantor Raja Belgia. Bendera negara Belgia berkibar di puncak bagian gedung berbentuk kubah yang berada di tengah-tengah struktur bangunan. &#8220;Itu artinya raja ada di istana,&#8221; kata Ayyi Rahyono yang memandu perjalanan mengelilingi kota Brussel.</p>
<div id="attachment_274" class="wp-caption aligncenter" style="width: 460px"><a href="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/royal-1.jpg"><img src="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/royal-1.jpg?w=600" alt="" title="royal 1"   class="size-full wp-image-274" /></a><p class="wp-caption-text">Royal Palace</p></div>
<p>	Mirip kantor Ratu Beatrix di Den Haag, Belanda, bendera kenegaraan juga diturunkan bila raja sedang tidak berada di istana. Selain di Royal Palace, Raja Belgia juga sering tinggal di Chateau de Laeken.<br />
	Royal Palace memiliki desain yang sangat indah sekaligus unik. Selain struktur berbentuk kubah di tengah gedung juga ada struktur lain di sisi kiri dan kanan bangunan berbentuk piramida terpancung.<br />
	Taman yang luas lengkap dengan danau, pedesterian, bangku, patung-patung besar serta burung-burung yang bebas beterbangan terletak tepat di depan istana. Parc de Bruxelles hanya dipisahkan jalan lebar juga terbuat dari batu alam.</p>
<div id="attachment_275" class="wp-caption aligncenter" style="width: 1034px"><a href="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/royal-2.jpg"><img src="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/royal-2.jpg?w=1024&#038;h=717" alt="" title="royal 2" width="1024" height="717" class="size-large wp-image-275" /></a><p class="wp-caption-text">Royal Palace</p></div>
<p>	Bila bangunan kuno berumur ratusan tahun masih terawat dengan baik, itu karena kebijakan Pemerintah Belgia yang memang menekankan pemeliharaannya. Bahkan bangunan kuno yang dimiliki warga sendiri, kata Ayyi Rahyono, juga masih tetap mendapat perhatian dari pemerintahnya. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryafatta.wordpress.com/269/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryafatta.wordpress.com/269/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryafatta.wordpress.com/269/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryafatta.wordpress.com/269/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aryafatta.wordpress.com/269/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aryafatta.wordpress.com/269/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aryafatta.wordpress.com/269/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aryafatta.wordpress.com/269/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryafatta.wordpress.com/269/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryafatta.wordpress.com/269/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryafatta.wordpress.com/269/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryafatta.wordpress.com/269/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryafatta.wordpress.com/269/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryafatta.wordpress.com/269/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryafatta.wordpress.com&amp;blog=2516735&amp;post=269&amp;subd=aryafatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryafatta.wordpress.com/2010/04/23/catatan-perjalanan-menjelajahi-peradaban-modern-dan-kuno-belgia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/642c92b844d7839667714c6dd1905131?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aryafatta</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/depan-un.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">berpose depan atomium</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/parlemen.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">parlemen</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/manneken-pis.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">manneken pis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/groote-markt.jpg?w=768" medium="image">
			<media:title type="html">groote markt</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/royal-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">royal 1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryafatta.files.wordpress.com/2010/04/royal-2.jpg?w=1024" medium="image">
			<media:title type="html">royal 2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Megaproyek yang  Mengusik Keadilan</title>
		<link>http://aryafatta.wordpress.com/2009/07/10/megaproyek-yang-mengusik-keadilan/</link>
		<comments>http://aryafatta.wordpress.com/2009/07/10/megaproyek-yang-mengusik-keadilan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jul 2009 09:08:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aryafatta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reportase]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryafatta.wordpress.com/2009/07/10/megaproyek-yang-mengusik-keadilan/</guid>
		<description><![CDATA["Ada warga yang mengusulkan agar ganti rugi lahan cukup Rp 500 ribu per meter persegi. Tetapi ada juga yang tidak puas dengan nilai tawaran yang hanya sebesar itu. Beberapa di antaranya mengusulkan Rp 750 ribu hingga Rp 1,5 juta per meter persegi," ungkap Abdul Rahim Yusuf.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryafatta.wordpress.com&amp;blog=2516735&amp;post=265&amp;subd=aryafatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_266" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><img src="http://aryafatta.files.wordpress.com/2009/07/u2d-1-ganti.jpg?w=300&#038;h=174" alt="proyek center point of indonesia" title="cpi" width="300" height="174" class="size-medium wp-image-266" /><p class="wp-caption-text">proyek center point of indonesia</p></div>
<p>Setiap megaproyek dibangun, masyarakat selalu menjadi korban. Saat warga menuntut haknya demi pembangunan, pemerintah kerap beralasan tak miliki anggaran demi kepentingan umum. Sebaliknya, saat tanah itu terang-terang milik negara (tanah ne gara, red), aparat “memprovokasi” warga agar pembebasan dibebankan kepada APBD. Fakta inilah yang terjadi di megaproyek pembangunan drainase primer di kawasan Bandara Sultan Hasanuddin dan Center Point of Indonesia (CPI) Makassar.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>RASA geram dan heran bercampur aduk di pikiran Abdul Rahim Yusuf, ketika mendapat kabar dari kerabatnya, Ambo Enre, 28 Mei lalu. Betapa tidak, hampir separuh lahan miliknya yang merupakan areal persawahan tiba-tiba diaduk-aduk dengan alat berat (excavator) tanpa pemberitahuan kepadanya sebagai pemilik lahan.<br />
	Ironisnya, dia baru mengetahui bahwa lahannya telah diambil setelah 15 hari proyek tersebut berjalan. Penggalian selebar 20 meter di sepanjang lahan miliknya itu untuk keperluan pembangunan drainase primer di kawasan Bandara Sultan Hasanuddin. Proyek ini merupakan penanggulangan banjir di sekitar kawasan bandara sekaligus menormalisasi saluran drainase primer Bonetanjore.<br />
Dinas Tata Ruang dan Permukiman ditunjuk sebagai penanggung jawab pelaksanaan proyek itu setelah mendapat alokasi dana dari Departemen Pekerjaan Umum sebesar Rp 10 miliar. Dana itulah yang digunakan untuk membuat drainase primer sepanjang 2.300 meter dan normalisasi drainase Bonetanjore sepanjang 870 meter.<br />
Masalah mulai muncul, ketika lahan yang dikuasai warga sejak puluhan tahun yang lalu telah digali. Tanah galian itu kemudian digunakan untuk pembuatan tanggul di sisi kiri dan kanan saluran selebar tiga meter yang semakin mempersempit sawah garapan warga.<br />
Pemilik lahan meradang. Mereka sama sekali tidak mendapat dana ganti rugi untuk kerugian kehilangan sebagian tanah miliknya. Padahal, lahan tersebut merupakan sawah produktif, meskipun hanya panen sekali setahun dengan mengandalkan air hujan.<br />
Pada 5 November 2008, sebuah pertemuan digelar di Kantor Kelurahan Sudiang Raya. Rapat yang mempertemukan warga dan pelaksana proyek itu menyosialisasikan rencana pembangunan drainase primer. Salah satu hasil pertemuan saat itu, warga dijanjikan akan ada ganti rugi.<br />
Rapat itu kemudian ditindaklanjuti dengan menggelar pertemuan di tempat yang sama pada 10 Desember 2008. Pembahasan pada pertemuan itu sudah lebih berkembang dari pertemuan sebelumnya, karena telah meminta penawaran harga dari masyarakat untuk pembebasan lahan proyek drainase bandara.<br />
&#8220;Ada warga yang mengusulkan agar ganti rugi lahan cukup Rp 500 ribu per meter persegi. Tetapi ada juga yang tidak puas dengan nilai tawaran yang hanya sebesar itu. Beberapa di antaranya mengusulkan Rp 750 ribu hingga Rp 1,5 juta per meter persegi,&#8221; ungkap Abdul Rahim Yusuf.<br />
Berselang beberapa bulan setelah pertemuan itu, kesepakatan nilai ganti rugi tanah belum juga diperoleh. Justru, pelaksana proyek mulai melakukan penggalian di lahan milik warga pada 13 Mei 2009. Eksploitasi lahan itu langsung mendapat perlawanan warga. Mereka meminta pelaksana proyek menghentikan kegiatan, namun tak dihiraukan.<br />
Abdul Rahim, David, dan sejumlah pemilik tanah yang telah diserobot paksa lahannya mencurigai adanya kejanggalan di balik proyek itu. &#8220;Tidak mungkin ada proyek pembangunan yang menggunakan lahan milik warga tanpa dana pembebasan lahan,&#8221; kata Rahim dengan nada curiga.<br />
Kecurigaan terhadap adanya keganjilan pada proyek itu semakin bertambah, ketika Kepala Satuan Kerja (Satker) Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Distarkim Sulsel, Hasir Cenne, mengungkapkan ke media bahwa proyek itu tidak mengalokasikan anggaran pembebasan tanah, karena lahan yang digunakan milik PT Angkasa Pura.<br />
	Tetapi pada pertemuan antara pemilik lahan, Hasir Cenne, pihak PT Angkasa Pura, Kepala Kelurahan Sudiang Raya, Muh Jabbar, dan beberapa pihak terkait lainnya di kantor Kelurahan Sudiang Raya, 11 Juni lalu, pihak Angkasa Pura tidak membenarkan bahwa lahan itu miliknya.<br />
Hasir kemudian meluruskan pernyataannya dan mengungkapkan bahwa lahan yang digunakan proyek itu adalah daerah aliran sungai. Dia menggunakan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 63 tahun 1993 dan Perda Nomor 5 tahun 1998 sebagai pembenaran penggunaan lahan milik warga tanpa ganti rugi.<br />
	&#8220;Sungai yang dalamnya kurang dari tiga meter memiliki lebar sempadan sungai bagian kiri dan kanan masing-masing tiga meter. Jadi itu masih bagian sungai yang tersedimentasi,&#8221; kilahnya.<br />
	Penjelasan itu tidak dapat diterima oleh warga begitu saja dan semakin memanaskan perdebatan. Apalagi, sebuah peta yang diproduksi tahun 1927 bernama Oversichskaart Van Der Onderafdeling Maros tidak menunjukkan adanya sungai pada dataran yang dijadikan persawahan oleh warga.<br />
Satunya-satunya simbol sungai pada peta tua tersebut hanya Sungai Bone Lengga yang kini disebut Bone Tanjore. Posisi sungai berada di perbatasan antara wilayah Kota Makassar dan Maros saat ini. &#8220;Saluran yang disebut sungai oleh pelaksana proyek itu adalah saluran irigasi yang dibuat warga sebagai pembuangan ke Sungai Bone Lengga yang kami kenal,&#8221; beber Rahim.<br />
	Pemilik lahan telah membuat estimasi atas kerugian yang mereka alami atas eksploitasi tanah warga untuk proyek pemerintah itu. Enam pemilik lahan masing-masing Abd Rahim, Abd Salam, Abd Azis, Ambo Enre, Rizal Efendi, dan Achmad Ganna telah sepakat menuntut ganti rugi sebesar Rp 1 juta per meter persegi.<br />
	Dari hasil pengukuran lahan yang digunakan oleh proyek pembangunan drainase tersebut, lahan yang telah dimanfaatkan tanpa ganti rugi seluas 8.361 meter persegi. Itu berarti, enam pemilik lahan menuntut ganti rugi sebesar Rp 8,3 miliar. Pemilik lahan di sepanjang lokasi pembangunan drainase sebanyak 10 orang.<br />
	Permintaan ganti rugi yang cukup tinggi itu berdasarkan dimensi saluran drainase yang telah ada. Pada beberapa tempat, lebar saluran 12 meter ditambah tanggul di sisi kiri dan kanan masing-masing tiga meter. Adapula saluran yang dimensi lebar keseluruhan 26 meter seperti pada titik T-61 yang berada di dekat box culvert bandara.<br />
Hasir Cenne yang dikonfirmasi mengaku lebar rata-rata saluran drainase hanya 10-12 meter. Dia juga tetap bertahan bahwa pemerintah pusat maupun Pemprov Sulsel tidak menyediakan anggaran untuk pembebasan lahan.<br />
Saling lempar tanggung jawab pun terjadi. Menurut Hasir, penyediaan lahan merupakan kewenangan Pemerintah Kota Makassar. Terkait tuntutan ganti rugi warga, kata dia, Pemkot Makassar telah memerintahkan Kepala Kelurahan Sudiang Raya untuk melakukan investigasi kepemilikan lahan berdasarkan surat bukti yang dimiliki.<br />
&#8220;Jika ternyata benar ada alas hak yang dapat menjadi bukti bahwa benar itu miliknya, maka kami akan membahasnya kembali. Jangan sampai ada wilayah sungai yang disertifikatkan. Walikota minta paling lama satu minggu, tetapi sampai saat ini belum ada realisasi,&#8221; ungkapnya.<br />
Tidak jelasnya pembayaran ganti rugi lahan warga itu berimbas pada pelaksanaan proyek yang terkatung-katung. Saluran drainase bandara memang telah dilakukan. Tetapi jembatan pelintas, pintu air, dan perapian drainase masih menanti untuk dirampungkan. </p>
<p>Dana &#8220;Panas&#8221; Proyek CPI</p>
<p>PEMPROV Sulsel kini terus memacu proyek pembangunan megaproyek Center Point of Indonesia (CPI) yang berlokasi di Tanah Tumbuh Pantai Losari Kecamatan Mariso. Untuk tahap awal, pelaksana proyek membangun akses jalan masuk sepanjang kurang lebih 400 meter. Masalah kemudian muncul. Warga yang mengklaim sebagai pemilik lokasi lantaran sudah mendapat hak garapan dari pemerintah kecamatan sejak tahun 80-an. Tak ayal, Pemprov Sulsel pun terpaksa harus meminta bantuan Pemkot Makassar guna menyelesaikan masalah lahan ini.</p>
<p>Awalnya, Pemprov Sulsel membantah adanya anggaran pemberian ganti rugi ataupun uang santunan bagi penggarap di lahan CPI. Namun, data yang diperoleh di lapangan ternyata memang ada anggaran disiapkan untuk pembebasan lahan sebesar Rp 10,650 miliar serta pematangan lahan tahap awal Rp 9.570.000.000. Luas lahan keseluruhan 150 hektare dan pematangan lahan keseluruhan dianggarkan Rp 200 miliar sampai Rp 2,5 triliun.<br />
Setali tiga uang. Pihak Pemkot Makassar juga terkesan menutup-nutupi adanya anggaran tersebut. Tapi, sepintar-pintarnya tupai melompat akan jatuh juga ke dalam lubang tepat disandangkan pada aparat pemprov dan pemkot. Mau tak mau anggaran untuk pemberian santunan mesti diberikan pada masyarakat yang memiliki bukti kuat sebagai penggarap.</p>
<p>Walikota Makassar, Ilham Arif Sirajuddin menyerahkan ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) untuk menelusuri apakah memang ada warga yang berhak mendapatkan santunan. &#8220;Memang, di pesisir pantai sering muncul problem karena banyak dibuat surat garapan di masa lalu. Sehingga sulit dideteksi, karenanya kami serahkan sepenuhnya ke BPN,&#8221; kata Ilham, kemarin. </p>
<p>Munculnya klaim atas hak garapan, lanjut Ilham, problemnya lantaran ada SPPT sehingga warga yang mengaku penggarap membayar pajak bumi bangunan (PBB) setiap tahunnya. &#8220;Soal ganti rugi, tentu tidak ada kalau tanah negara. Pembangunan proyek untuk kepentingan umum yang dikelola negara tidak ada ganti rugi. Jangan sampai terulang kasus CCC,&#8221; katanya.</p>
<p>Meski menegaskan tidak ada ganti rugi untuk lahan CPI, Ilham tak memungkiri adanya dana santunan kepada penggarap.<br />
Disinggung isu yang santer menyebutkan dirinya dan Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo berada di belakang Najmiah yang merupakan penggarap di lokasi CPI, dibantah keras Ilham. </p>
<p>&#8220;Apa hubungannya. Ah tidak benar itu,&#8221; kata Ilham dengan suara agak terbata-bata sambil tersenyum. &#8220;Tidak ada urusan nggak benar itu. Cuma memang, Najmiah pernah minta perlindungan sama saya,&#8221; sambung Ilham.</p>
<p>Sementara Najmiah yang ditemui di kediamannya Kompleks Perumdos Unhas, juga membantah kalau Ilham dan Syahrul berada di belakangnya. &#8220;Tidak benar itu. Saya tidak pernah bertemu keduanya. Lagipula, sudah lama saya menggarap di lokasi CPI itu. Sejauh ini saya juga belum pernah minta perlindungan sama walikota,&#8221; ujar Najmiah.</p>
<p>Najmiah lalu membeberkan, pada 1985 silam ada empat penggarap yakni Hamzah Nuntung, Jamaluddin Tiro, Abbas Pattang, dan Sampara Talli yang memberikan hak garapan padanya dengan persetujuan lurah saat itu. Menurutnya, sejak penyerahan hak garapan itu dia langsung membayar PBB pada 1990 silam.</p>
<p>&#8220;Memang saya akui tidak ada hak milik pada tanah negara, tapi hak garapan. Nah, kalau memang tempat saya mencari uang terkena lokasi CPI saya tidak akan mempersulit dan mendukung sepenuhnya. Tapi, saya minta pemerintah memberi ganti rugi karena selama ini saya rutin membayar PBB,&#8221; pinta Najmiah semberi mengungkapkan, setiap tahun dia membayar PBB Rp 200 juta.</p>
<p>Ditanya berapa nilai ganti rugi yang diminta, Najmiah sejenak terdiam. Sejurus kemudian dia mengaku asal sesuai nilai jual objek pajak (NJOP). &#8220;Jangan kurang kalau bisa di atasnya. Saya tak mau hambat proyek ini, walau mata pencaharian hilang dengan adanya proyek ini. Asal pemerintah beri hak saya karena buktinya kuat,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Kepala Kecamatan Mariso, Andi Amir Idrus, mengakui klaim salah seorang warga loksi Centre Point of Indonesia (CPI). Amir mengungkapkan, ada beberapa warga yang memiliki surat-surat atas lahan di lokasi tersebut. Menurut Amir, status tanah tersebut sebenarnya merupakan tanah negara. </p>
<p>Hanya saja, meski tanah negara namun tidak lepas karena ada yang membayar pajak bumi dan bangunan (PBB) atas lahan yang dimaksud. Mengenai adanya tudingan warga kalau ada aparat pemerintah yang ikut bermain dalam penerbitan surat penguasaan lahan atas nama individu, Amir meminta tidak asal menuding. Dia berharap warga dapat menjelaskan identitas aparat yang dimaksud. &#8220;Saya siap dipanggil oleh dewan untuk memperjelas kasus ini,&#8221; tantang Amir.</p>
<p>Sementara Kepala Bagian Pemerintahan Kota Makassar, Gani Sirman, yang dihubungi terpisah mengaku tidak tahu menahu soal kepemilikan lahan di pesisir laut tersebut. Menurut Gani, yang bisa membuktikan ada tidaknya pemilik pada lahan tersebut adalah bukti berupa alas hak. &#8220;Jadi untuk membuktikan kepemilikan lahan itu, sebaiknya lewat alas hak. Tapi yang saya tahu, laut itu tidak ada pemiliknya, kecuali kalau ada tanah tumbuh di sana, atau ada empang yang dikelola di situ,&#8221; ungkap Gani. </p>
<p>Gani menambahkan, warga yang mengklaim sebagai pemilik lahan di pesisir laut Jalan Metro Tanjungbunga harus memperlihatkan bukti kepemilikan. &#8220;Kita butuh bukti mendasar berupa alas hak, kita juga akan meninjau ke sana,&#8221; kata Gani.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryafatta.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryafatta.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryafatta.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryafatta.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aryafatta.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aryafatta.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aryafatta.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aryafatta.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryafatta.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryafatta.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryafatta.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryafatta.wordpress.com/265/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryafatta.wordpress.com/265/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryafatta.wordpress.com/265/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryafatta.wordpress.com&amp;blog=2516735&amp;post=265&amp;subd=aryafatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryafatta.wordpress.com/2009/07/10/megaproyek-yang-mengusik-keadilan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/642c92b844d7839667714c6dd1905131?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aryafatta</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aryafatta.files.wordpress.com/2009/07/u2d-1-ganti.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">cpi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Madrasah Ibtidaiyah Radhiatul Adawiah, Sekolah Gratis di Pinggiran Kota Makassar</title>
		<link>http://aryafatta.wordpress.com/2009/04/20/madrasah-ibtidaiyah-radhiatul-adawiah-sekolah-gratis-di-pinggiran-kota-makassar/</link>
		<comments>http://aryafatta.wordpress.com/2009/04/20/madrasah-ibtidaiyah-radhiatul-adawiah-sekolah-gratis-di-pinggiran-kota-makassar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2009 14:40:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aryafatta</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[madrasah]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan gratis]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah agama]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah pinggiran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryafatta.wordpress.com/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[Rela Jual Perhiasan untuk Biayai Sekolah Gratis TIDAK mudah meyakinkan keluarga tidak mampu dan kurang peduli terhadap pendidikan agar mau menyekolahkan anaknya. Gusmawati yang memelopori sekolah gratis di Kelurahan Sudiang Raya harus menyambangi satu rumah ke rumah lainnya. RUMAH yang terbuat dari bahan batako tanpa cat pewarna menjadi sekolah bagi 107 murid Madrasah Ibtidaiyah Radhiatul [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryafatta.wordpress.com&amp;blog=2516735&amp;post=263&amp;subd=aryafatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Rela Jual Perhiasan untuk Biayai Sekolah Gratis</strong></span></p>
<p><em>TIDAK mudah meyakinkan keluarga tidak mampu dan kurang peduli terhadap pendidikan agar mau menyekolahkan anaknya. Gusmawati yang memelopori sekolah gratis di Kelurahan Sudiang Raya harus menyambangi satu rumah ke rumah lainnya.</em></p>
<p>RUMAH yang terbuat dari bahan batako tanpa cat pewarna menjadi sekolah bagi 107 murid Madrasah Ibtidaiyah Radhiatul Adawiah. Tak ada yang istimewa dari sekolah yang menampung anak dari keluarga miskin itu.</p>
<p>Sebuah kamar yang &#8220;disulap&#8221; menjadi ruang kelas hanya berisi 10 bangku dan meja. Pada dinding ruangan itu terpasang papan tulis dan beberapa gambar peraga. Selain itu, tak ada lagi. Tidak terlihat ada meja guru, apalagi lemari.</p>
<p>Ada tiga kamar yang dijadikan ruang kelas di sekolah yang sangat sederhana itu. Pada ruangan untuk kelas V dan VI, muridnya bahkan harus duduk lesehan. Sekolah yang didirikan Gusmawati itu menjadi istimewa, karena muridnya digratiskan untuk belajar.</p>
<p>Hatinya tergerak ketika melihat begitu banyak anak yang tidak bersekolah di sekitar tempat tinggalnya. Alasan para orangtua bermacam-macam. Lebih banyak pada faktor ekonomi.</p>
<p>Anak-anak yang seharusnya berada di bangku sekolah menerima ilmu, seringkali dilihatnya hanya berkeliaran. Bahkan, ada beberapa di antaranya telah bekerja untuk mencari uang sendiri dengan cara menjadi pemulung.</p>
<p>Melihat kondisi yang sangat memiriskan itu, Gusmawati lantas mengajak anak-anak untuk bersekolah. &#8220;Kalian mau belajar di sekolah? Tidak perlu membayar. Kalian cukup datang untuk belajar saja,&#8221; ajaknya kepada beberapa pemulung yang ditemuinya.</p>
<p>Alumni Fakultas Tarbiyah UMI, yang sebelumnya telah mengajar di sebuah yayasan pendidikan sebagai guru honor, akhirnya berinisiatif mendirikan sekolah gratis 2006 silam. Saat itu, dia belum tahu bentuk sekolah yang akan didirikannya. &#8220;Yang penting ada sekolah yang menampung anak keluarga tidak mampu itu,&#8221; katanya.</p>
<p>Mendirikan sekolah gratis memang tidak mudah. Butuh pengorbanan, tetapi bagi Gusmawati sebuah keikhlasan. Beberapa perhiasan emas miliknya, rela dijualnya untuk membeli peralatan dan biaya operasional sekolah.</p>
<p>Uang hasil penjualan perhiasannya terkumpul sekira Rp 50 juta. Mobiler sekolah seperti bangku 10 unit, papan tulis, serta beberapa peralatan lainnya, lalu dibelinya. Selain memanfaatkan rumahnya sebagai sekolah, dia juga meminjam sebuah rumah yang lama tidak terawat di samping kediamannya.</p>
<p>&#8220;Bagi saya dan keluarga, cukuplah untuk berteduh. Tidak perlu hidup mewah. Kesederhanaan itu yang terbaik. Yang penting, anak yang tidak mengenyam bangku pendidikan, harus bersekolah. Itu impian saya,&#8221; tutur kepala sekolah sekaligus Yayasan Ummu Kaltsum itu.</p>
<p>Wanita kelahiran 1969 itu juga mengajak beberapa rekannya untuk mengajar secara sukarela di sekolah yang didirikannya. Hingga saat ini, jumlah pengajar yang mendidik 107 murid dari kelas I sampai VI sebanyak empat orang.</p>
<p>Biaya operasional untuk menjalankan sekolah gratis itu diperolehnya dari upayanya menyisihkan sebagian pendapatan suaminya yang bekerja di kantor Badan Pertanahan Nasional. Yayasan Radhiatul Adawiah yang saat ini menjadi induk sekolah itu juga telah membantu membayarkan honor tiga guru sebesar Rp 900 ribu/bulan.</p>
<p>Bantuan buku-buku bekas yang masih dapat digunakan, juga diperoleh dari beberapa rekan seprofesinya. Salah seorang guru SD IKIP Gunung Sari, kata dia, banyak membantu memberikan buku pelajaran.</p>
<p>&#8220;Kami juga pernah memperoleh bantuan buku dari Departemen Agama. Ada juga bantuan dari orang lain, kemudian kami belikan buku kisah rasul. Bantuan dari pemerintah, sepertinya sulit sekali. Apalagi, bentuk sekolah kami yang hanya seperti ini,&#8221; katanya.</p>
<p>Ilmu yang diajarkan bukan sekadar baca tulis. Budi pekerti dan keikhlasan menjadi penekanan di sekolah yang menampung anak kurang mampu itu.</p>
<p>LIMA murid perempuan duduk di lantai sebuah ruangan yang menjadi kelasnya. Dengan bimbingan seorang guru perempuan bernama Andi Tenri Ampa, mereka belajar huruf Hijaiyah.</p>
<p>Pelajaran ilmu Agama Islam mendominasi sekolah gratis dengan biaya sukarela dari pendirinya itu. Menurut Tenri, hampir 75 persen dari seluruh pelajaran yang diterima para murid, merupakan ilmu tentang keagamaan.</p>
<p>Penerapan kurikulum berbasis keagamaan itu cukup suksek merubah perilaku beberapa muridnya yang sebelumnya berperilaku kurang terarah. Salah satunya, para murid telah mengamalkan salat dan membaca Alquran.</p>
<p>Pendiri Yayasan Ummu Kaltsum, Gusmawati merasakan berkah yang teramat besar, ketika mengetahui salah seorang anak didiknya juga turut merubah sikap orangtuanya. &#8220;Bapaknya juga sudah Salat Jumat ketika melihat anaknya ke masjid. Padahal, orangtuanya sering bermabuk-mabukan,&#8221; ungkapnya.</p>
<p>Gusma mengaku, beberapa anak yang diajaknya untuk bersekolah, juga ditemukannya berjudi di sekitar tempat tinggalnya. Anak-anak yang semula menolak untuk bersekolah itu akhirnya mau, dengan bujukan permainan yang lebih beragam.</p>
<p>Mereka yang sudah terbiasa memulung, tidak dihentikan aktivitasnya begitu saja, setelah mulai mengenal bangku sekolah. &#8220;Tetapi kami selalu mengajarkan agar hanya mengambil barang yang sudah dibuang dan dilakukan setelah sepulang sekolah,&#8221; tutur wanita yang memilih beralih dari pedagang sarung sutera dan menjadi pengajar itu.</p>
<p>Mendidik anak yang terbiasa dari lingkungan yang kurang berpendidikan bukanlah perkara mudah. Namanya anak-anak, mereka bermain, tetapi kadang berakhir dengan perkelahian. Masalah menjadi bertambah rumit, jika orang tua masing-masing datang ke sekolah mengeluarkan makian.</p>
<p>Pihak sekolah terpaksa turun tangan dan meminta agar tidak memperpanjang masalah anaknya. Apalagi jika sampai memberhentikan anaknya dari sekolah. &#8220;Soalnya, saya bertekad semua anak yang tidak sekolah di kompleks ini bisa mendapat pendidikan,&#8221; kata Gusma.</p>
<p>Aktivitas belajar mengajar di sekolah gratis itu tidak hanya berlangsung sejak pagi hingga siang hari. Mulai pukul 19.00 para murid kembali berkumpul untuk mengaji Alquran selama beberapa jam.</p>
<p>Bukannya murid yang membayar, pengelola sekolah itu justru memberikan bantuan peralatan, misalnya mukena, kopiah, hingga sajadah. Bantuan yang dibagikan ke murid, juga biasanya diperoleh dari kerabat Gusmawati yang prihatin melihat kondisi para anak-anak dari keluarga tidak mampu itu.</p>
<p>Pengelola sekolah juga berencana membuka usaha merajut yang keuntungannya akan digunakan untuk operasional sekolah. &#8220;Lumayan, sekaligus ikut memberdayakan ibu-ibu,&#8221; katanya.</p>
<p>Sejak dibuka 2006 silam, dari beberapa anak putus sekolah yang diajak, sudah ada tujuh murid yang telah menamatkan pendidikan. Memang, masih berijazah paket A. Tetapi, juga dapat digunakan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang tingkat SMP.</p>
<p>Kendati fasilitas sekolah gratis tanpa bantuan pemerintah itu hanya seadanya, tetapi pengelolanya tidak ingin kualitasnya juga ala kadarnya. Tenaga pengajarnya sering diikutkan pada kegiatan pelatihan peningkatan mutu pendidik.</p>
<p>&#8220;Biarlah orang memandang sekolah ini hanya mirip kandang. Tetapi kualitasnya harus diperbaiki. Kami berprinsip, guru yang mengajarkan ilmu yang tidak berkualitas juga berdosa. Mudah-mudahan nanti, ada guru PNS yang mengajar di sekolah ini,&#8221; harapnya. (**)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryafatta.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryafatta.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryafatta.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryafatta.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aryafatta.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aryafatta.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aryafatta.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aryafatta.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryafatta.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryafatta.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryafatta.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryafatta.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryafatta.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryafatta.wordpress.com/263/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryafatta.wordpress.com&amp;blog=2516735&amp;post=263&amp;subd=aryafatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryafatta.wordpress.com/2009/04/20/madrasah-ibtidaiyah-radhiatul-adawiah-sekolah-gratis-di-pinggiran-kota-makassar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/642c92b844d7839667714c6dd1905131?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aryafatta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kepala Kanwil Departemen Hukum dan HAM Sulsel  Drs Sjamsul Bachri, SH</title>
		<link>http://aryafatta.wordpress.com/2009/04/20/kepala-kanwil-departemen-hukum-dan-ham-sulsel-drs-sjamsul-bachri-sh/</link>
		<comments>http://aryafatta.wordpress.com/2009/04/20/kepala-kanwil-departemen-hukum-dan-ham-sulsel-drs-sjamsul-bachri-sh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2009 14:35:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aryafatta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[kanwil hukum dan ham]]></category>
		<category><![CDATA[kapasitas rutan]]></category>
		<category><![CDATA[lembaga pemasyarakatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryafatta.wordpress.com/?p=261</guid>
		<description><![CDATA[&#60;!&#8211; /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Wingdings; panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-charset:2; mso-generic-font-family:auto; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face {font-family:&#8221;Trebuchet MS&#8221;; panose-1:2 11 6 3 2 2 2 2 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryafatta.wordpress.com&amp;blog=2516735&amp;post=261&amp;subd=aryafatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--> &lt;!&#8211;  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face 	{font-family:&#8221;Trebuchet MS&#8221;; 	panose-1:2 11 6 3 2 2 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:&#8221;"; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-fareast-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:1607350127; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:563227862 -174013238 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693 67698689 67698691 67698693;} @list l0:level1 	{mso-level-start-at:0; 	mso-level-number-format:bullet; 	mso-level-text:-; 	mso-level-tab-stop:.75in; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:.75in; 	text-indent:-.25in; 	font-family:&#8221;Trebuchet MS&#8221;; 	mso-fareast-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-bidi-font-family:Arial;} ol 	{margin-bottom:0in;} ul 	{margin-bottom:0in;} &#8211;&gt; <!--[if gte mso 10]&gt;--><br />
 /* Style Definitions */<br />
 table.MsoNormalTable<br />
	{mso-style-name:&#8221;Table Normal&#8221;;<br />
	mso-tstyle-rowband-size:0;<br />
	mso-tstyle-colband-size:0;<br />
	mso-style-noshow:yes;<br />
	mso-style-parent:&#8221;";<br />
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;<br />
	mso-para-margin:0in;<br />
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;<br />
	mso-pagination:widow-orphan;<br />
	font-size:10.0pt;<br />
	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;;<br />
	mso-ansi-language:#0400;<br />
	mso-fareast-language:#0400;<br />
	mso-bidi-language:#0400;}<br />
 <span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"><span style="color:#ff0000;">Kemampuan Petugas Harus Di-Up Grade</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">Perbaikan pelayanan publik menjadi tugas yang menanti pejabat Kanwil Departemen Hukum dan HAM Sulsel, Drs Sjamsul Bachri, SH, setelah serah terima jabatan dari pejabat lama, Sumarni Alam, Selasa, 18 Februari. </span><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI">Keluhan masyarakat terhadap pelayanan seperti keimigrasian ataupun di lembaga pemasyarakatan masih ada. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI">Kepemimpinan Kanwil Depkum HAM Sulsel resmi berada di tangan Anda. </span></em><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"><em>Apakah ada program utama yang akan dilakukan?</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV">Tidak ada program kerja yang baru. Semuanya dilakukan secara berkesinambungan. Tidak bisa kepemimpinan berganti, kebijakan juga ikut berubah. </span><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">Saya hanya akan melanjutkan program yang sudah ada. Kalaupun ada yang dirasakan kurang tepat atau perlu ditambah, maka akan dilengkapi. Kebijakan di jajaran Dephukham sebenarnya sudah jelas. Demikian juga dengan protapnya. Program kerja departemen tinggal dijalankan di daerah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"><em>Apa saja yang masih harus dibenahi</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;">Kita semua telah mengetahui bahwa Departemen Hukum dan Ham termasuk salah satu institusi yang agak rendah penilaiannya dalam hal pelayanan publik. Ini yang akan kami benahi, sesuai petunjuk Menteri Hukum dan HAM. Pelayanan kepada publik akan diberikan sebaik-baiknya agar tidak ada lagi komplain dari masyarakat. Termasuk koordinasi dan pengawasan juga akan lebih ditingkatkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"><em>Dalam beberapa kali inspeksi mendadak, seringkali ditemukan narkoba dan benda tajam. Dimana kelemahannya sehingga barang tersebut bisa lolos?</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV">Peredaran barang terlarang kadang dikatakan dari dalam lembaga pemasyarakatan. Padahal, sebenarnya bukan dari dalam, melainkan berasal dari orang luar. Itu juga yang akan dibenahi agar peredaran narkotika di lembaga pemasyarakatan dapat diminimalkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV"><em>Bagaimana upaya pembenahannya?</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV"><em><br />
</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV">Kami akan meningkatkan upaya pengontrolan dan penggeledahan di dalam lembaga pemasyarakatan agar tidak ada barang terlarang yang masuk, terutama narkotika. Petugas harus meningkatkan ketelitian dan kewaspadaannya. Bagaimanapun, pengunjung itu lihai juga. Jadi kita harus memberikan antisipasi kepada petugas bahwa pengunjung jangan hanya dilihat secara menoton hanyalah keluarga narapidana. Tidak semua keluarga yang berkunjung itu memiliki itikad yang bagus. mungkin ada juga yang membawa misi tertentu. Jadi petugas perlu meningkatkan wawasan dengan meng-up grade kemampuannya. Mereka harus memiliki kemampuan yang lebih dari orang sekitarnya. Apapun yang diperbuat oleh pengunjung, sudah harus bisa deteksi dari gerak-geriknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV">Ditengarai bahwa lolosnya barang terlarang juga kerja sama pengunjung dengan petugas lapas. Apakah memang demikian?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV">Pada dasarnya, dalam pembekalan petugas hal tersebut dilarang. Jadi tidak mungkin petugas melakukan hal seperti itu. Tetapi bisa saja terjadi, sesuai sifatnya sebagai manusia biasa. Mungkin ada kekhilafan, sehingga tergoda untuk menerima iming-iming. Tetapi saya tegaskan, itu hanya oknum dan bukan jajaran. Harus dibedakan antara jajaran dan oknum Dephukham yang sudah terlepas dari garis organisasi. Petugas memang sewaktu-waktu bisa saja berubah. Hanya saja, sebagai pimpinan, harus mengingatkan. Kalau sampai ada yang ditemukan, sanksinya bisa berupa pemecatan. Kami tetap mengacu pada aturan. Sanksinya ada yang ringan, sedang hingga berat. Sanksi terberat, pemberhentian dengan tidak hormat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV">Apakah kurangnya pengawasan juga terkait over capacity di lembaga pemasyarakatan?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV">Memang secara nasional, isi lembaga pemasyarakatan melebihi kapasitas. Tetapi masalah itu jangan sampai mengendurkan semangat kerja petugas, sehingga pengawasan berkurang. Kita harus mampu melihat kemungkinan mutasi atau perpindahan narapidana antar-lembaga pemasyarakatan. Saat ini ada upaya Departemen Hukum dan HAM, khsususnya Dirjen Kemasyarakatan untuk menggiatkan pelepasan bersyarat dan cuti bersyarat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV"><em>Sejauh mana dapat mengurangi kapasitas berlebih?</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV">Pembebasan bersyarat itu bisa mengurangi kapasitas berlebihan lembaga pemasyarakatan dan bisa menghemat keuangan negara. Tetapi pembebasan bersyarat itu ada aturannya atau harus mengikuti ketentuan berlaku. Tidak semua narapidana mendapatkannya. Cuti bersyarat bisa diberikan jika memiliki masa hukuman di bawah satu tahun. pembebasan bersyarat dapat dilakukan setelah narapidana bersangkutan menjalani masa tahanannya selama 2/3 masa. Kalau cuti menjelang bebas, diberikan sebesar remisi terakhir yang akan diterima. Jadi Bukan semaunya. Harus mengikuti aturan. Tidak kalah pentingnya, semua narapidana akan berlomba-lomba untuk berkelakuan baik. Paling tidak, satu tahun terakhir dengan mengikuti kegiatan pembinaan. Itu salah satu sisi positifnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV">Pemindahan juga rentan menimbulkan dugaan adanya pelepasan narapidana. Bagaimana tanggapan Anda?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV">Sebenarnya, untuk perpindahan narapidana antarprovinsi harus mendapat izin dirjen. Perpindahan antarkabupaten cukup sepengetahuan Kakanwil Dephukham. Tetapi orang jangan sampai berpikir bahwa narapidana dipindahkan kemudian dilepas. Sebenarnya ada tahapan asimilasi untuk kepentingan pembinaan narapidana dengan mendekatkan ke keluarganya. Pemindahan narapidana bisa dilakukan di mana saja. Bisa dilakukan untuk kepentingan keamanan, terancam jiwanya, atau membahayakan jiwa orang lain. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV">Pengurusan dokumen keimigrasian sering dikeluhkan mengalami keterlambatan. Apa yang harus dibenahi?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV">Keluhan terhadap pelayanan di imigrasi, misalnya pengurusan paspor dan sebagainya, akan diperbaiki.  Semua pelayanan publik itu diharapkan telah disesuaikan dengan prosedur yang ada. Pengurusannya harus dipercepat sesuai prosedur. Demikian juga dengan biayanya, harus disesuaikan dengan tarif yang berlaku. Tetapi kita jangan hanya melihat masalah keterlambatannya saja. Harus juga dilihat penyebab keterlambatan itu. </span><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI">Mungkin masih ada dokumen yang harus dilampirkan dalam pengurusan paspor dan belum dipenuhi oleh pemohonnya. Pengurusan dokumen keimigrasian menggunaka sistem geometrik yang langsung online ke Jakarta. Jadi bisa terlihat pemohon yang belum melengkapi dokumennya. Kalau sudah ada jawaban dari kantor pusat, maka sudah bisa diterbitkan di daerah. Jadi sebenarnya bukan pengurusan di daerah yang mempersulit. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI"><em>Tetapi, bukankan ada standar waktu yang ditetapkan?</em></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV">Iya memang benar. </span><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI">Tetapi harus dilihat kembali kelengkapannya. Jika dokumennya sudah lengkap, barulah dapat diselesaikan. Meskipun standarnya hanya tiga hari lama pengurusannya, tetapi jika belum lengkap, maka tidak bisa dituntaskan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI">Bagaimana dengan pengawasan terhadap warga negara asing yang melakukan penyalahgunaan visa?</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI">Fungsi Dephukham, khususnya divisi imigrasi akan melakukan pengawasan teradap orang asing. Memang ada beberapa WNA yang akhirnya memutuskan untuk menikah dengan warga negara Indonesia. Tetapi tetap tidak boleh berbisnis dan berada dalam susunan pengurus perusahaan. Mereka harus menjadi WNI dulu. Kami memiliki intelijen untuk menyelidikinya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI">Biodata:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI">Nama Lengkap: Drs Sjamsul Bachri, SH</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI">Tempat, tanggal lahir: Cakke, Enrekang, 17 Desember 1949</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI">Isteri: Ny Hj Sjuadah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI">Anak: -Rakhmad Ardiyanto</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI">-<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI">Muh Arfan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI">-<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI">Melda Sulastriyawati</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI">-<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI">Rini Amriani</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI">-<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI">Eka Suhendra</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-indent:-.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI">-<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI">Hendarta</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="FI">Cucu: 10 orang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV">Jabatan: Kakanwil Depkum HAM Sulut (2003-Maret 2008)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV"> Kakanwil Depkum HAM Jatim (April 2008-Februari 2009)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:14pt;font-family:&quot;" lang="SV"> Kakanwil Depkum HAM Sulsel (Februari 2009-sekarang)</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryafatta.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryafatta.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryafatta.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryafatta.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aryafatta.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aryafatta.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aryafatta.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aryafatta.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryafatta.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryafatta.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryafatta.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryafatta.wordpress.com/261/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryafatta.wordpress.com/261/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryafatta.wordpress.com/261/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryafatta.wordpress.com&amp;blog=2516735&amp;post=261&amp;subd=aryafatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryafatta.wordpress.com/2009/04/20/kepala-kanwil-departemen-hukum-dan-ham-sulsel-drs-sjamsul-bachri-sh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/642c92b844d7839667714c6dd1905131?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aryafatta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Proyek Centre Point of Indonesia</title>
		<link>http://aryafatta.wordpress.com/2009/04/20/proyek-centre-point-of-indonesia/</link>
		<comments>http://aryafatta.wordpress.com/2009/04/20/proyek-centre-point-of-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2009 14:29:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aryafatta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bisnis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aryafatta.wordpress.com/?p=259</guid>
		<description><![CDATA[Pendangkalan Mengancam Pelabuhan Pembangunan Center Point of Indonesia yang tidak direncanakan dengan baik, bisa mengganggu pelayaran dan perniagaan di Makassar. Betapa tidak, proses percepatan pendangkalan berpotensi terjadi di sekitar Pulau Laelae dan pelabuhan. Kepala Dinas Tata Ruang dan Permukiman (Distarkim) Sulsel, Syarif Burhanuddin menguraikan, sejak beberapa tahun lalu, Sungai Jeneberang ditutup menggunakan sand pocket. Namun, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryafatta.wordpress.com&amp;blog=2516735&amp;post=259&amp;subd=aryafatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#ff0000;"><strong>Pendangkalan Mengancam Pelabuhan</strong></span></p>
<p>Pembangunan Center Point of Indonesia yang tidak direncanakan dengan baik, bisa mengganggu pelayaran dan perniagaan di Makassar. Betapa tidak, proses percepatan pendangkalan berpotensi terjadi di sekitar Pulau Laelae dan pelabuhan.</p>
<p>Kepala Dinas Tata Ruang dan Permukiman (Distarkim) Sulsel, Syarif Burhanuddin menguraikan, sejak beberapa tahun lalu, Sungai Jeneberang ditutup menggunakan sand pocket. Namun, lempung dan material lunak lainnya tetap terbawa ke laut dan terkumpul di sekitar Tanjung Bunga.</p>
<p>Di sisi lain, arus laut dari arah perairan Takalar membawa material berupa pasir dan lumpur itu hingga terkonsentrasi di sekitar Pantai Losari menjadi tanah tumbuh. Secara alamiah, kata dia, pendangkalan terus terjadi secara perlahan.</p>
<p>Nah, dengan adanya reklamasi pada proyek Center Point of Indonesia, material berupa lumpur maupun pasir yang terbawa arus laut tidak lagi terkonsentrasi di sekitar tanah tumbuh. Material yang terbawa justru terendap di tempat lain, seperti sekitar Pulau Laelae dan pelabuhan.</p>
<p>&#8220;Dulu pendangkalannya alami. Tetapi jika dilakukan reklamasi, maka bisa terjadi percepatan pendangkalan di kedua lokasi tersebut,&#8221; ungkapnya, Minggu, 8 Februari.</p>
<p>Kendati demikian, urai mantan Kepala Bappeda Sulbar itu, percepatan pendangkalan dapat dihindari dengan pembuatan lahan konservasi. Studi analisa mengenai dampak lingkungan atau Amdal telah membuat perencanaannya secara komprehensif untuk menghindari ancaman itu.</p>
<p>&#8220;Memang perlu dilakukan studi oceanografi untuk melihat modelling arah pergerakan arus laut, sehingga pendangkalan itu dapat dicegah. Tim teknis yang menentukan lokasi konservasinya,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo yang menggagas proyek area publik baru itu juga menginstruksikan agar potensi pendangkalan dicegah. &#8220;Tidak boleh ada yang dirugikan oleh pembangunan area terbuka untuk masyarakat ini,&#8221; imbaunya.</p>
<p>Perencana megaproyek Center Point of Indonesia, Danny Pomanto mengatakan, ancaman pendangkalan di pelabuhan telah dianalisa. Potensi pendangkalan telah dapat diatasi. Proyek itu, kata dia, justru dapat menangkal pendangkalan. (rif)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aryafatta.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aryafatta.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aryafatta.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aryafatta.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aryafatta.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aryafatta.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aryafatta.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aryafatta.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aryafatta.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aryafatta.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aryafatta.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aryafatta.wordpress.com/259/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aryafatta.wordpress.com/259/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aryafatta.wordpress.com/259/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aryafatta.wordpress.com&amp;blog=2516735&amp;post=259&amp;subd=aryafatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aryafatta.wordpress.com/2009/04/20/proyek-centre-point-of-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/642c92b844d7839667714c6dd1905131?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">aryafatta</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
