Komparasi Uni Eropa


Akhirnya, setelah sekian lama vakum karena kesibukan pekerjaan yang menuntut tulisan terus masuk ke dapur redaksi, saya menyempatkan diri untuk membuat naskah ini. Setiap kata terketik di sela-sela waktu menunggu rapat dan menghimpunnya dari berbagai sumber bacaan.

Komparasi Uni Eropa saya pilih sebagai judul, karena di dalamnya terdapat beberapa perbandingan antara beberapa negara di Eropa, terutama kawasan Eropa Barat seperti Inggris, Belanda, Perancis, dan lainnya. Saya memilih tulisan ini karena tertarik pada pertanyaan yang melintas di pikiran tatkala tidak bisa tidur malam sekira pukul 03.15 dini hari.

Pertanyaan yang terlintas saat itu sederhana, “Mengapa Inggris memilih tidak menggunakan mata uang Euro dan tidak tergabung dalam perjanjian Schengen?”. Bukankah Inggris juga tergabung dalam negara Uni Eropa?

Padahal, bila saja Inggris menandatangani perjanjian Schengen, mungkin saja ketika mengunjungi Paris, Maret 2010 lalu, saya mungkin bisa menyeberang ke Inggris yang dibatasi Selat Inggris atau English Channel (La Manche dalam bahasa Perancis). Namun, keinginan itu tak dapat saya lakukan, karena bersama dua teman jurnalis lainnya tidak mengantongi UK Visa.

Beda dengan Visa Schengen, kita bisa memasuki negara yang menandatangani Perjanjian Schengen tanpa harus melalui pemeriksaan di setiap batas negara. Pengunjung atau wisatawan cukup memperlihatkan visa dan dokumen keimigrasian lainnya ketika masuk di salah satu negara kelompok Schengen. Saat itu, saya masuk melalui pintu negara Jerman.

Apply UK Visa menjadi syarat utama masuk ke United Kingdom yakni Inggris, Irlandia, Skotlandia, dan Wales. UK Visa harus diurus di negara asal, tidak bisa di salah satu negara yang dikunjungi. Mengurus UK Visa tak perlu ke Kedutaan Besar Inggris.

British Embassy telah menunjuk VFS menjadi agen pengurusan visa masuk ke United Kingdom. Kantornya di Plasa Asia yang terletak di Jalan Jenderal Sudirman.

Kembali lagi ke alasan memilih komparasi dan kajian tentang Eropa, khususnya Inggris, saya lalu mulai mencari bahan tulisan dari berbagai sumber. Dari sumber buku dan internet, saya ibarat berada di tengah lautan ilmu yang sangat luas memberikan pengetahuan tentang Uni Eropa.

Naskah tentang Eropa saya mulai dari Inggris dan mata uangnya, Poundsterling. Mata uang yang nilai tukarnya tetap lebih tinggi dari Dollar Amerika Serikat, bahkan Euro sekalipun ini, pernah menjadi alat tukar paling utama di seluruh dunia untuk perdagangan. Perjalanan panjang telah dilaluinya, sehingga akhirnya harus melepaskan hegemoninya sebagai alat tukar utama ke Dollar Amerika Serikat.

Buku Musim Semi Perekonomian Indonesia karya Cyrillus Harinowo mengantar pada pencarian tentang mulai ditinggalkannya mata uang Poundsterling. Judul buku ini sangat indah, tetapi bukan novel. Pengarangnya salah satu direktur Bank Indonesia.

Penggunaan mata uang Dollar sebagai mata uang dunia kesepakatan Bretton Woods Agreement. Kesepakatan yang lahir dari proses politik pada konferensi keuangan di Bretton Woods Amerika Serikat pada 1-22 Juli 1944 menetapkan lahirnya International Monetary Fund (IMF), World Bank, serta World Trade Organization.

Juga disepakati penggunaan Dollar sebagai mata uang dunia. Padahal sebelumnya, Poundsterling merajai perdagangan dunia. Kendati tidak langsung diterapkan, namun tetap mengguncang perekonomian Inggris.

Betapa tidak, Inggris harus menyediakan cadangan devisa dalam bentuk dollar untuk menukar poundsterling yang dimiliki berbagai negara. Proses ini disebut convertibility dan Amerika Serikat sempat memberi pinjaman sebesar USD3,75 miliar.

Namun, pinjaman itu tidak banyak menolong. Perekonomian Inggris akhirnya limbung dan pada September 1947 menjadi pasien pertama IMF. Negara super power itu berutang USD60 juta. Pinjaman kembali diperoleh dari IMF pada 1956 sebesar USD1,3 miliar. Inggris bahkan mendevaluasi nilai mata uangnya dari USD4,03 per poundsterling menjadi USD2,8.

Sungguh ironi, sebuah negara yang sangat kuat perekonomiannya dan awalnya menjadi kiblat dunia harus menjadi korban kebijakan politik. Indonesia, negara kita juga pernah menjadi pasien IMF agar dapat pulih dari krisis moneter 1998. Inggris bahkan kembali mendapat pinjaman dari IMF pada November 1967 sebesar USD1,4 miliar.

Negara yang tergabung dalam European Union atau Uni Eropa lalu merencanakan pembentukan mata uang tunggal pada 1970. Tujuannya mempertahankan stabilitas mata uang serta menghapus biaya transaksi perdagangan. Rencana ini lalu direalisasikan dengan European Exchange Rate Mechanism pada April 1972.

Mata uang tunggal itu akhirnya benar-benar terealisasi meskipun hanya untuk transaksi komersial dan keuangan pada 1 Januari 1999 dengan nama Euro. Awalnya, hanya 12 negara yang menyetujui penggunaan Euro sebagai mata uang tunggal termasuk Belanda, Belgia, Perancis, Jerman, dan Luxemburg.

Inggris, Swedia, Denmark, Finlandia, dan beberapa negara lainnya tetap menolak menggunakan Euro. Inggris dengan pertimbangan ekonomi dan politik dalam negeri. Swedia karena masyarakat menolaknya melalui referendum. 1 Januari 2002 yang bertepatan dengan gegap gempita pergantian tahun menjadi momentum peluncuran Euro sebagai mata uang tunggal.

Negara yang tergabung dalam Uni Eropa tetapi menolak Euro sebenarnya sangat layak menggunakan Euro. Perekonomian negara-negara tersebut sangat layak menerapkannya. Persyaratan untuk negara yang akan menggunakan Euro di antaranya suku bunga tidak lebih tinggi dua persen dan inflasi 1,5 persen.

Persyaratan lain menggunakan Euro, moneter negara harus berada di bawah pengawasan Uni Eropa yang berkedudukan di Belgia. Swiss tidak menggunakan Euro dengan pertimbangan dasar perekonomian negara adalah jasa pelayanan perbankan.

Informasi perbankan dan nasabahnya sangat ketat. Otomatis, bila data perbankan harus dibuka karena menjadi syarat penerapan Euro, nasabah akan hengkang dan menyebabkan perekonomian negara Swiss akan ambruk.

Penolakan Euro paling keras dari Inggris. Bukan hanya menyangkut masalah perekonomian, tetapi juga nasionalisme. Terkait nasionalisme bangsa, peranan media sangat besar dalam menentukan sikap warga Inggris dalam referendum yang hasilnya 55 persen menolak Euro.

Media-media di Inggris gencar menghimpun opini publik dan menjadi sumber informasi bagi pemerintah untuk memetakan kebijakan publik. Peran masyarakat di Inggris dalam perpolitikan negara sangat besar. Hasilnya, hanya sekitar 28 persen yang setuju pada Euro.

Penggabungan pada Uni Eropa hingga penerapan Euro sebagai mata uang tunggal memang memerlukan demokratisasi politik. Keinginan rakyat sangat menentukan, karena penetapannya melalui referendum. Demokratisasi ini pulalah yang menjadi penyebab Konstitusi Uni Eropa banyak mendapat penolakan melalui referendum dan batal diterapkan.

Nasionalisme masyarakat Inggris boleh dikatakan sangat fanatik dan keras. Kedaulatan juga menjadi alasan utama Inggris menolak menggunakan Euro sebagai alat tukar, meskipun beberapa toko di negara Three Lions itu juga menerima Euro dan Dollar sebagai alat transaksi ekonomi.

Inggris mengkhawatirkan kekuatan dan pengaruhnya dapat menurun bila menggunakan Euro dan menggantikan keberadaan Poundsterling yang masih lebih tinggi nilainya dari Euro maupun Dollar sekalipun. Maka tak heran bila Partai Konservatif yang paling keras di Inggris menolak dilakukan referendum penentuan sikap rakyat.

Sikap egosentris dan pengakuan diri sebagai masyarakat paling unggul turut memengaruhi sikap Inggris pada penyatuan ekonomi Eropa. Letak geografis Inggris yang berbeda dengan negara Eropa lainnya yang berada di daratan, salah satu alasannya dan melahirkan offshore mentality.

Masyarakat Inggris tak ingin menghilangkan identitasnya sebagai superior. Apalagi, Perang Dunia II mencatat Inggris sebagai pemenang dengan kenyataan tidak pernah diduduki negara lain selama perang dan tingkat kerusakan infrastruktur sangat kecil.

Alasan-alasan ini hanya sedikit dari setumpuk pertimbangan masyarakat Inggris menyerahkan kedaulatan negaranya pada Uni Eropa. Mereka sulit menerima sebagai negara besar yang bisa dikendalikan dari Belgia melalui Uni Eropa.

sumber:

-Musim Semi Perekonomian Indonesia, Cyrillus Harinowo

-Economic and Monetary Union. Brussel: Official Published of the EC. 1996

-EMU Update: Policies, Politics, Business Views and Prospects, EC Policies. Mission of the Republic of Indonesia to the European Communities. 1996

-internet: www.kajianeropa.wordpress.com

Jelajah ilmu tentang Inggris dan negara Eropa lainnya akan terus berlanjut. Masukan bisa disumbangkan melalui komentar yang tersedia di blog ini.

Menjelajahi Singapura


Kemeriahan Christmas in The Tropic di Orchard Road

SINGAPURA memiliki gaya sendiri merayakan natal. Berkonsep Christmas in The Tropic, butiran salju yang biasanya mengiringi perayaan kelahiran Yesus Kristus berganti menjadi taburan cahaya lampu di berbagai sudut kota dari Orchad Road sampai Marina Bay.

HARIFUDDIN, Singapura

Christmas at Orchard Road

ENAM balerina, empat perempuan dan dua laki-laki, meliukkan badannya di atas panggung berlatar hitam. Musik kontemporer beritme cepat mengiringi gerakan penari bertubuh lentur itu. Di belakangnya, tiga monitor berukuran besar memperlihatkan detail gerak ritme para penari.
Pertunjukan penari balet itu bukan dilakukan di Esplanade atau di dalam teater megah lainnya dengan cahaya lampu redup yang dramatis. Lampu yang terang benderang dengan berbagai warna justru menyorot para penari dari segala penjuru.

Balet depan pusat perbelanjaan Paragon Orchard Road

Sajian hiburan seni tari yang memukau pengunjung ini dilakukan di Orchard Road, salah satu jalan utama negara Singapura yang terkenal dengan pusat perbelanjaan produk merek terkenal. Jalan yang terbilang padat itu telah ditutup sejak pukul 13.00 waktu setempat, Jumat, 25 Desember, untuk menyukseskan perayaan puncak hari raya natal.
Bukan Singapura namanya, jika negara kecil ini tidak kreatif mengelola event apapun menjadi daya pikat menarik wisatawan. Bahkan, hari Natal pun dirayakan tidak hanya dengan cara biasa saja. Event ini dikemas dengan konsep Christmas in The Tropics.

Beraneka warna lampu menerangi Orchard Road. Lampu bermotif seragam dengan kombinasi kuning dan biru atau merah muda dan biru membentang di sepanjang jalan. Bahkan, pepohonan yang rimbun di pinggir jalan pun, tak luput dari pemasangan lampu yang berbentuk bundar dengan cahaya berwarna biru dan putih. Sangat spektakuler
Christmas in The Tropics memang dikemas bersama dengan konsep Christmas Light-Up. Makanya, semua sudut jalan seolah ditaburi bermacam warna dan bentuk lampu penerangan.
Penutupan jalan Orchard Road untuk berbagai jenis kendaraan mulai ditutup dari arah Orchard Link. Warga lokal maupun wisatawan mancanegara harus berjalan kaki sekira 300 meter agar dapat melihat lebih dekat puncak event Christmas In The Tropics.
Panggung pertunjukan ditempatkan di ruas jalan tepat di depan pusat perbelanjaan Takashimaya dan Paragon. Setelah puas berbelanja berbagai produk dengan tawaran diskon dari 20-50 persen, Pengunjung langsung menyaksikan sajian hiburan.
Aksi panggung para performer acara bertajuk One Christmas One Hoper itu bukan hanya tarian memikat balerina saja. Pengunjung juga dihibur dengan operet yang pemainnya rata-rata bule.
Operet dalam bahasa Inggris itu menceritakan kisah kelahiran Yesus Kristus hingga melakukan penyebaran ajaran agama Kristen. Suara-suara domba tak ketinggalan mengisi suara pertunjukan olah gerak dan musik itu.
Pertunjukan operet, lagu, dan ballet, dimulai sejak pukul 19.00 waktu setempat. Hujan yang turun cukup deras di sore hari, sempat menghentikan geladi resik para performer. Beruntung, hujan tak lama reda, sehingga orang-orang bebas memenuhi jalan dan menikmati sajian hiburannya tanpa takut kebasahan. Hingga pukul 23.00, acara belum berakhir. Warga tumpah di jalan.
Tak jauh dari panggung pementasan operet, puluhan stan yang juga dibangun di atas Orchard Road, menjadi salah satu incaran pengunjung. Stan itu dibentuk dengan berbagai model, tetapi tetap dengan konsep natal.
Modelnya yang artistik serta berbagai jenis lampu yang menghiasinya membuat stan ini menjadi pusat perhatian. Tak jarang wisatawan bersenggolan hanya untuk berfoto bersama.
Bayu Rahadian, salah seorang warga Surabaya yang mengisi liburan natalnya di Singapura, mengaku sangat kagum dengan semua konsep yang dikemas sangat apik. “Dekorasi liburan natalnya sangat futuristik. Bukan hanya wisata belanja saja yang menjadi alasan kunjungan ke Singapura,” katanya.
Hiburan yang ditampilkan warga Singapura kepada wisatawan yang berkunjung ke negaranya banyak ditemukan di sepanjang jalan. Kidung natal yang biasanya dibawakan secara khidmat di gereja pun turun ke jalan.
Sekelompok paduan suara dengan dua pemetik gitar dan satu pemain piano menyanyikan beberapa kidung natal. Seorang konduktor yang memimpin paduan suara memandu harmonisasi suara penyanyi dan pemusik di antara hilir mudik pengunjung di pedesterian yang sangat nyaman itu.
Di sisi jalan yang lain, dua penari balet klasik unjuk aksi di tengah ratusan pengunjung, malam tadi. Penari perempuan berumur sekira 15 tahun yang berpakaian ketat warna hitam itu memperlihatkan kemampuannya melipat-lipat tubuhnya. Sesekali, mereka juga menumpukan kepalanya di atas bangku bundar.
Kemampuan kedua penari itu dipertunjukkan selama 10 menit. Instrumen klasik mengiringi penampilannya. Setelah mengakhiri gerakan dengan gaya membungkuknya yang khas, para penonton pun menjatuhkan koin di keranjang yang telah disiapkan.
Semakin menjelang tengah malam, atraksi yang dipertunjukkan makin padat pengunjung. Apalagi, sejumlah pusat perbelanjaan juga sudah mulai mengurangi geliatnya.
Kendati banyak wisatawan yang mengisi liburan natalnya di negara yang terkenal dengan wisata belanja dan hiburannya itu, pusat perbelanjaannya seolah tak terpengaruh. Mayoritas menghentikan aktivitas bisnisnya pukul 22.00.
Tempat perburuan berbagai merek terkenal dengan harga miring, Orchhad Road tempatnya. Di tempat ini ada Nge Ann City yang menawarkan berbagai merek mulai dari Gucci hingga Luis Vuitton.
Potongan harga yang cukup besar juga bisa diperoleh di Ion Orchard, pusat perbelanjaan dengan arsitektur futuristik yang dilaunching 16 Oktober lalu. Dilengkapi tempat konser dan pertunjukan berbagai even, Ion menawarkan berbagai jenis merek terkenal.
Tidak mendapatkan event Christmas in The Tropics dan Christmas Light-Up pada 25 Desember? Tak perlu khawatir. Even dengan konsep yang sama masih berlangsung hingga 3 Januari mendatang. Pesta yang lebih spektakur berlangsung di Marina Bay pada malam pergantian tahun. (*)

Semilir Angin Pantai Wisata Sampulungang


MEMAPARKAN potensi dan keindahan alam di Sulsel seolah tak ada habisnya. Bahkan, tidak sedikit potensi alam yang belum tereksplorasi dengan baik menjadi objek wisata andalan. Padahal, bila tergarap maksimal, tidak kalah dengan objek wisata yang lebih dahulu hadir.

Pantai Wisata Sampulungang misalnya, juga menawarkan keindahan alami dengan fasilitas sangat lengkap. Memang, belum setenar Pantai Bira, bahkan objek wisata pantai lainnya yang ada di Pulau Dewata, Bali.

Namun, pantai wisata yang terletak di Desa Tamalate, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar memiliki keindahan alam yang membawa pengunjung seolah berekreasi di pantai-pantai terkenal Pulau Bali.

Objek wisata ini berjarak 20 km dari kota Makassar. Lokasinya tidak begitu sulit ditemukan, lantaran telah dikenal hampir semua warga Galesong. Meski Pantai Wisata Sampulangang masih terbilang baru, namun tak sedikit orang sudah berkunjung.

Keistimewaan dari objek wisata bahari di Pantai Wisata Sampulungang adalah fasilitasnya cukup mewah. Sebut saja penginapannya yang berkelas hotel berbintang memanjakan pengunjung yang ingin menghabiskan akhir pekan.

Pengunjung yang ingin menikmati keindahan laut Sampulungang dan desiran ombak di malam hari, bisa memesan kamar dengan tarif cukup terjangkau. “Pengunjung dapat bersantai sambil menikmati sejuknya udara laut,” kata Fahrul, salah seorang pengelola pantai wisata.

Kolam air tawar Pantai Wisata SampulunganTidak hanya itu, kolam renang yang terletak di tengah saung tepat di depan hotel, salah satu pilihan pengunjung yang tidak ingin berenang di pantai. Kolam renangnya cukup luas dan mampu menampung puluhan pengunjung yang ingin berenang.

Bila pengunjung ingin berenang di pinggir pantai dan menikmati keindahan laut lepas, pengunjung bisa menyewa banana boat. Pilihan lainnya, wahana bermain yang disediakan di samping hotel.

Berbagai jenis permainan, sewa maupun gratis, bisa dipakai pengunjung. Misalnya saja, mobil-mobilan untuk anak-anak, papan luncuran, jaring laba-laba, dan ayunan.

Ada pula lorong rahasia yang bisa dicoba pengunjung. Berbagai wahana permainan juga bisa digunakan untuk fasilitas outbound.

Source: www.fajar.co.id

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.